Minggu, 28 November 2021

Tidak Berhenti di 28

“If you can imagine what your life will be in the future, it shows your lack of imagination,” – Daniel Gilbert. 

Saya berpikir hidup sudah mapan di usia 28. Saya pernah mengikuti mereka-mereka yang membuat daftar tentang apa saja yang harus dicapai sebelum 20, sebelum 30, sebelum 40, apapun sebelum jantung berhenti berdetak. 

Daftar itu kian panjang karena usia yang terus bertambah. Saya bak atlet lari halang rintang yang mengatasi satu demi satu rintangan. Seringkali rintangan tidak diatasi tapi lewat begitu saja. 

Semua berlalu, bukan? Lahir dan dibesarkan di tengah masyarakat konservatif membikin saya agak percaya bahwa di usia 28 seharusnya semua sudah final. Apa saja itu? Tentu karier dan pasangan hidup. 

Kalau kata banyak orang dua hal itu saja yang paling penting dari hidup yang singkat. Yang lain hanya figuran yang muncul dan tidak mengubah jalan cerita. Seringkali kita setia pada daftar yang kita buat. 

Setia pada pada daftar menunjukkan tekad, kekerasan hati, dan perjuangan. Individu macam itu diidamkan di banyak level kehidupan. Tapi, hidup saya bukan daftar belanjaan. Bahkan, ketika daftar-daftar dibuat, kejutan selalu datang. 

Menjadi 28 dan tidak dapat membayangkan masa depan seperti apa rasanya menakutkan. Mau kerja di bidang apa? Saya mau menulis sesuatu yang menggetarkan hati saya dan banyak orang. Tapi, bekerja pada orang? Hmm…itu sudah! Mau apa sesudah balik dari Ibu Kota? Mau pulang ke rumah dan memeluk ajik dan ibu tentunya. Mau menikah? Entar dulu deh.

Saya punya sahabat perempuan yang selalu dipusingkan dengan masalah pernikahan. Tekanan untuk segera menikah mungkin kerap datang kepadanya. Tapi, Oktober lalu ia baru saja berusia 27. Satu usia yang menurut saya tidak terlampau manula-manula amat sebagai seorang perempuan. Ya, ia masih muda dan enerjik. Kalaupun hilal pernikahan belum menghampirinya, agaknya Tuhan tengah menyimpan seseorang yang sangat berharga untuknya nanti.

Kabur

Masa depan mungkin kabur di mata saya. Tapi masa kini begitu jelas dan fokus bak objek yang dibidik dengan lensa bukaan 1,2. Saya kembali belajar jurnalisme dasar. Saya kembali belajar Bahasa Inggris yang singkat, bernas. Pikiran saya terus bekerja mencari ide-ide cerita untuk ditulis. 

Galau memang kadang berkunjung ketika membayangkan masa depan. Tapi, di tengah kegalauan saya teringat acara bincang-bincang yang pemandunya Daniel Gilbert. Singkat cerita, Daniel ingin bilang jika menjadi manusia adalah upaya yang tidak pernah selesai dan memang tidak bisa ‘diselesaikan’ melalui angka-angka seperti usia pun waktu. 

Pilihan kita di masa lalu tidak bisa dibandingkan dengan pilihan kita di masa depan karena kita adalah ‘diri’ yang berbeda. Mengingat masa lalu selalu lebih mudah ketimbang membayangkan masa depan. 

Saya manggut-manggut menonton video Daniel. Sepuluh tahun lalu saya tidak bisa membayangkan akan tinggal di Jakarta. Sepuluh tahun lalu saya tidak pernah berpikir untuk menjadi wartawan. Sepuluh tahun lalu saya tidak menyangka bahwa sepuluh tahun mendatang saya tetap membuat kesalahan. 

Masa depan tentu buah dari kerja keras masa kini. Tapi masa depan juga karya dari imajinasi yang terlalu liar pun kejutan yang seringkali mendebarkan. Seringai, sebuah grup musik rock oktan tinggi dari Bandung, punya lagu berjudul Berhenti di 15 yang berkisah tentang ekstase menonton konser metal grup musik idola ketika berusia 15 tahun. 

Musik kencang dan energi mengawang membeku di ingatan dan membuatmu berpikir hidup berhenti di 15. Tapi lagu ini juga menawarkan pandangan lain bahwa kau bisa terus punya jiwa muda berapapun usiamu melalui frase menyengat “jika musiknya terlalu keras, mungkin kau terlalu tua.” 

Dengan semangat yang sama, saya percaya bahwa hidup tidak berhenti di 28. Seorang teman yang baik pernah bilang, lebih baik mati berkali-kali dan lahir kembali dalam hidup daripada hanya hidup dan mati sekali. Itu metafora, tentunya. Hidup belum tamat dan untuk sesaat mari rehat membuat daftar. Mari berimajinasi kembali.

Read More

Senin, 22 November 2021

Lara, Nestapa, Sandiwara

Kau menemukanku, lotus berdaun dua belas

Kau menemukanku, tengkorak gelisah

Diredam empat dinding tembok putih

Dan jarum menatah inci demi inci kulit ari

Di ujung menit keseratuslimapuluh

Sakit adalah sebuah kesempurnaan
Read More

Selasa, 02 November 2021

Hujan

“God is in the rain,” kata V, yang diperankan Natalie Portman nan cantik di film V for Vendetta. Dan Tuhan, belakangan ini, sedang turun dengan asiknya sepanjang hari di Tangerang Selatan. 

Bulir hujan merangsek ke celana jins, merembesi sepatu, membuat buram penglihatan. Begitu kosmopolit. 

Bulir hujan kadang begitu melankolis, saat menetes di kaca jendela, dan matamu nyalang menatap jalanan. 

Bulir hujan tampak begitu naif, menampung kaki telanjang bocah-bocah yang bermain kegirangan. 

Bulir hujan menebar ketakutan bagi petani yang menunggu panen empat bulanan. Tapi bagi saya, hujan selalu memunculkan tanya: menunggu atau menembus? 

Menunggu bisa jadi menyenangkan. Tidak basah kuyup sembari mengamati serpih-serpih Tuhan menghujami bumi. 

Menembus hujan jelas baju akan basah, walaupun sudah pakai jas hujan yang menjuntai hingga ke tanah. Hujan  selalu mampu melihat celah-celah yang merekah. 

Saya adalah orang yang cenderung memilih menembus hujan. Pun di sore yang sial tadi, hujan datang tanpa kompromi. Sedari pagi hingga senja, tak putus-putus dia menggoda. Dengan gembira saya menembusnya, mencumbu bulir-bulirnya, berdansa di dalamnya. 

Ada ekstase antara kesedihan dan kelegaan di dalamnya, seperti berhasil mengumpulkan semua bagian diri menjadi satu. Seperti mengetahui bahwa hujan akan membasahi, mengundang flu, membuat licin jalan, membuat got mampat dan cucian tak kering, tetapi semua tak mengapa. 

Semua yang akan tiba tidaklah mengapa. Dia tidak menyakiti. Ya, Tuhan mungkin ada di dalam hujan.
Read More

Minggu, 31 Oktober 2021

Tentang Menjadi 28 dan Baik-baik Saja

Get better, not bitter. Begitu pesan yang selalu disampaikan guru-guru yang mampir di kehidupan saya. Lalu, bagaimana cara menjadi lebih baik, ketika saya adalah laki-laki berusia 28 dengan pikiran yang terlalu liar di kepala? 

Saya resmi berusia 28 tahun empat bulan lalu. Tiga tahun lalu, saya membayangkan laki-laki berusia 28 sebagaimana teman semasa SMA. Mereka bekerja delapan jam sehari dengan seragam kantor dan meninggalkan istrinya tiap pagi. Tapi, kami punya mimpi yang berbeda. Di usia 28, saya masih berada di Jakarta, bergabung dengan media cetak terbesar di Indonesia setelah bergelut 1,5 tahun di koran lokal. Sementara teman semasa SMA saya memilih bertahan tinggal dan bekerja di Bali. 

Kesempatan mendapat pengalaman lebih pun tiba. Saya dinyatakan lulus untuk masuk Kompas setelah melalui serangkaian seleksi ketat di Surabaya. Lalu seorang teman jurnalis di Bali bilang: “Nggak semua orang seberuntung kamu bisa keterima di sana”. Satu pesan lagi : “Enaknya gabung di Kompas. Jam kerjanya kayak PNS, gajinya besar.” 

Saya laki-laki 28 tahun dengan pengalaman kerja enam tahun. Saya pikir saya jatuh cinta pada jurnalisme, tapi toh saya sesekali menggerutu pada dunia yang lekat dengan tenggat ini. 

Tawaran menggiurkan sempat datang dari lembaga nonprofit dan godaan bekerja di kampung halaman. Belum lagi saya pernah berjanji dengan seorang perempuan spesial dari Bali utara, bahwa saya berniat melanjutkan sekolah agar bisa berjalan bersisian dengannya. 

Semua punya dinamikanya tersendiri tetapi saya merasa tak mampu bergerak seirama dengan dinamika itu. Jadi, kalau dipikir-pikir mengeluh dan menggerutu, juga rencana melanjutkan sekolah, adalah eskapisme belaka. Ada benarnya juga. Walaupun nanti semisal bisa melanjutkan sekolah, saya yakin selalu ingin kembali bekerja saja. Dasar manusia. 

Menjadi 28 tahun dan sendirian di daerah orang adalah perjuangan yang lain. Saya independen dan individualis. Setidaknya saya selalu berpikir demikian. 

Saya ingat pada bulan-bulan awal saya tiba di Jakarta, saya tiba-tiba merasa begitu sendirian. Saya menelepon rumah dan menangis sesenggukkan. Ajik dan ibu saya tertawa-tawa. Saya tidak menangis ketika ditempatkan di Tangerang raya atau ketika saya harus liputan ketika Galungan dan Kuningan. 

Selama hampir 5 tahun jauh dari rumah, saya relatif jarang menelepon keluarga sembari menangis. Kali ini saya menangis, lebih disebabkan teman-teman dekat perlahan menghilang. Mereka jadi punya dunianya masing-masing dan saya hanya punya satu orang sahabat dekat saat ini. 

Saya menangis, dalam, panjang, dan bersuara atas keadaan ini. Terkadang hal-hal sepele bisa mengganggumu. 

Kadang kau bingung kenapa tidak ada seorangpun yang bisa kau ajak bicara soal musik yang kau suka, buku yang kau baca, film yang membuatmu tak mampu berkata-kata berhari-hari. 

Kadang kau bingung mengapa orang selalu suka hidup dalam gerombolan sementara petualangan paling mendebarkan datang ketika kau sendirian. 

Kadang kau bingung mengapa orang lebih suka menatap layar telepon genggam ketimbang mata lawan bicara. Kadang kau bingung kenapa manusia masih menonton televisi. 

Kadang kau bingung mengapa imajinasi tanpa batas selalu dimaknai sebagai absurditas. Tapi, lebih sering kau menyadari bahwa menemukan seorang teman dengan siapa kau berenang-renang di frekuensi yang sama adalah sulit. 

Menjadi 28 tahun di perantauan adalah pelajaran paling berharga. Dengan semua kebebasan yang saya punya dan ketidakpedulian pada apa kata orang, saya bisa melakukan apa saja. 

Saya membuat kesalahan. Saya memperbaikinya. Saya menemukan teman untuk bepergian atau membicarakan musik dan film. Saya menemukan teman untuk kisah-kisah lainnya. Saya menyadari tidak ada satu sosok yang bisa memenuhi semua keinginan saya. Sama halnya, saya tidak mampu menjadi satu sosok yang lengkap untuk memenuhi semua keinginan orang lain. 

Menjadi 28 tahun di daerah orang adalah pelajaran bahwa semua kehidupan di belakang saya mampu membuat saya menjadi pahit. Tapi, saya tidak memilih menjadi pahit. Dan lagi, imajinasi saya masih tanpa batas, pikiran saya masih liar, saya masih impulsif, saya masih iri pada burung-burung senja, saya masih suka nyinyir. Tapi, yah, saya baik-baik saja.
Read More

Follow This Blog