Senin, 29 Mei 2017

Bertahan di Tengah Lesunya Industri Gula Nasional

Nasib petani tebu dan industri gula nasional memasuki pertengahan tahun 2017 ini sedang berada dalam kondisi yang kurang menggembirakan. Laporan Kompas tanggal 15-17 Mei 2017 mengungkapkan perhatian pemerintah terhadap budidaya komoditas ini rendah. Pendapatan petani tebu anjlok, bahkan produktivitas industri pengolahan berbahan baku tebu merosot. Namun, di tengah kelesuan itu, Pabrik Gula (PG) Madukismo di Bantul, Yogyakarta dapat bertahan di tengah kondisi sulit.

PG Madukismo menjadi penyintas di tengah kondisi sulit di saat pabrik gula lain telah gulung tikar. Tahun 2017 ini tercatat ada tiga pabrik gula di Situbondo, Jawa Timur, yang terancam ditutup. Ketiga pabrik tersebut, yaitu PG Pandji, PG Wringin Anom, dan PG Olean (Kompas, 12/5/2017). Kondisi yang tak jauh berbeda juga terjadi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Sejak dua tahun terakhir, luas lahan dan produksi tebu di Jawa Tengah terus merosot. Penyusutan lahan disebabkan sebagian besar petani beralih menanam komoditas lain (Kompas, 17/5/2017).

Penyusutan lahan produksi tebu secara otomatis menyebabkan produksi tebu menurun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah menyebutkan produksi tebu tahun 2014 sebanyak 332.343 ton turun menjadi 250.698 ton pada tahun 2015. Belum lagi ditambah dengan persoalan anomali cuaca, lambannya revitalisasi pabrik gula, penyimpangan gula impor, perubahan mekanisme kredit petani, dan pembatasan alokasi pupuk bersubsidi (Kompas 15/5/2017).

Di tengah setumpuk persoalan industri gula nasional, PG Madukismo nyatanya tetap melaju kencang. Asap pabrik terus mengepul memproduksi ratusan ton dan ribuan karung gula setiap harinya. Bisnis pabrik gula tertua di Yogyakarta itu terus berkembang. Tidak hanya memproduksi gula, tapi juga alkohol murni, spiritus bakar. PG Madukismo bahkan memiliki beberapa penginapan. Jumlah karyawannya pun saat ini mencapai 4.500 orang.

Public relation PG Madukismo, Mahmud, yang ditemui pada Senin (15/5/2017) mengakui sejumlah pabrik gula di Yogyakarta telah tutup akibat lesunya industri gula di Jawa Tengah dan Yogyakarta. PG Madukismo yang berdiri sejak tahun 1955, menurut dia, dapat bertahan karena beberapa hal.

“Meski kami ini bukan BUMD, tapi kami tetap dapat bertahan hingga kini. Salah satu kuncinya adalah, PG Madukismo memosisikan petani tebu sebagai mitra. Bukan alat produksi. Sehingga antara Madukismo dan petani tebu ada hubungan yang saling menguntungkan,” ujarnya tanpa menjabarkan lebih detail bagaimana hubungan saling menguntungkan antara PG Madukismo dengan petani tebu.

Selain hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara petani tebu dan PG Madukismo, Mahmud mengatakan, Keraton Ngayogyakarta berperan besar dalam kemajuan pabrik gula ini. Peran keraton yang dia maksud ialah soal penyertaan modal keraton di PG Madukismo.

“Keraton juga punya andil di pabrik ini. 65% saham perusahaan ini dimiliki keraton. Sisanya sebanyak 35% dipegang PT Rajawali Nusantara,” kata Mahmud. 
Read More

Rabu, 02 Juli 2014

From Surabaya With Care

Pada tulisan kali ini, saya akan memberikan pandangan mengenai dua kejadian pahit dan menyedihkan yang baru saya alami.

Tak terasa sudah hampir tiga tahun saya berpetualang di Surabaya untuk menimba ilmu. Semenjak kelulusan saya dari Sekolah Menengah Atas (SMA) 2011 silam, banyak pengalaman berharga yang sudah saya dapatkan dalam waktu yang cukup singkat ini. Secara pribadi saya merasa ada peningkatan dalam aspek kognitif selama saya menimba ilmu di Kota Pahlawan. Dengan banyaknya teman-teman baru dari berbagai daerah di Indonesia disadari atau tidak telah mampu menambah atau memperkaya perspektif saya terhadap segala hal sentimentil yang ada di kehidupan ini. Yang ingin saya sampaikan di sini adalah pentingnya bagi kita untuk memperkaya pandangan atau perspektif di era yang semakin dinamis ini. Kita tidak dapat hanya mempunyai satu perspektif dalam memandang suatu hal. Seperti yang Prof. Rhenald Khasali pernah utarakan, "Belajarlah memandang segala sesuatu dari berbagai perspektif."

Selama hampir tiga tahun menetap di Surabaya, saya senang sekali sudah berhasil meraih berbagai pencapaian diantaranya juara di berbagai kompetisi menulis ilmiah dan kompetisi dengan berbasiskan disiplin ilmu yang sedang saya geluti sekarang. Punya banyak teman, meraih prestasi, dan perspektif yang makin kaya adalah hal yang tidak ternilai bagi saya dan saya sangat berterima kasih serta bersyukur kepada Ida Shang Hyang Widhi Wasa atas bimbingan dan anugerahnya hingga saya bisa memperoleh berbagai hal indah dalam kurun waktu tiga tahun ini.

Seperti konsep wastra poleng (kain hitam-putih) di Bali yang mengajarkan bahwa hal buruk dan baik senantiasa berdampingan dan saling mengisi, saya pun tidak terhindar dari hukum alam tersebut. Di samping beberapa hal baik yang saya peroleh selama di Surabaya, saya pun mengalami beberapa rentetan nasib buruk dan menyedihkan di sini. Kemalangan pertama yang baru-baru ini saya alami adalah pada pertengahan bulan Juni ini saya mengalami musibah kehilangan gadget iPhone kesayangan. Menyedihkan sekali, mengingat ponsel pintar itu genap sudah setahun lalu Ajik (Ayah) membelikannya untuk saya. Kehilangan itu pun karena kecerobohan saya sendiri dan saya tidak ingin mengungkit kehilangan itu lebih jauh. Saya menjadikan kehilangan ini sebagai pelajaran yang teramat penting dalam hal menjaga barang berharga terutama di kota besar yang sangat rawan dengan aksi pencurian.  

Lebih lanjut, kurang dalam kurun waktu seminggu, kejadian menyedihkan lainnya menghampiri. Berita mengejutkan datang dari kawan -mungkin saya lebih pantas menyebutnya sahabat- lama saat SMA dulu. Namanya Gus Adi, dan ia merupakan salah seorang kawan dekat yang sudah saya anggap saudara saya sendiri. Kami terbiasa bepergian bersama, menjalani berbagai hal dan sudah lama mengenal satu sama lain sejak pertama kali kami dinyatakan lulus ujian masuk SMA. Banyak hal menyenangkan yang sudah saya lewati bersama ia dan teman-teman lainnya. Berita mengejutkan itu ternyata berita duka yang menyampaikan bahwa Ayahanda dari Gus Adi telah berpulang dan jujur saya sangat terkejut dengan berita tersebut. Setahu saya ayah dari Gus Adi adalah pria yang enerjik dan penuh semangat. Ia merupakan ayah yang baik dan setiap anak di dunia pasti mendambakan memiliki ayah seperti ayah Gus Adi. Dukungannya dalam menjadikan Gus Adi seorang calon dokter merupakan hal yang paling saya kagumi.

Sebagai kawan dekat tentu saya turut berduka cita yang amat dalam atas kepergian ayahanda dari Gus Adi. Air mata saya tidak terasa menetes setelah mendengar berita itu. Ingin rasanya saya segera berkemas menuju Denpasar untuk mengucapkan bela sungkawa dan memberikan dukungan moril kepadanya setelah kenyataan pahit yang harus ia alami. Tapi apa daya dengan jadwal kuliah yang masih padat ditambah dengan saat ini saya mulai memasuki musim Ujian Akhir Semester menghalangi niat saya untuk pulang. Dengan berat hati dan rasa kecewa karena tidak bisa secara langsung menyampaikan rasa duka cita, akhirnya malam ini saya berinisiatif untuk menelepon Gus Adi dan memberikan motivasi serta dukungan dan semangat baginya untuk tetap mengarungi kehidupan. Saya selalu katakan padanya, "Kamu tidak sendirian". Kami sebagai temanmu senantiasa ada di saat kamu memerlukan kami.

Itulah berbagai rentetan hal buruk yang saya alami di pertengahan tahun 2014 ini. Mungkin benar kata leluhur saya yang pernah mengajarkan filsafat wastra poleng kepada saya. Filsafat dari wastra poleng sendiri adalah seberapa pun bahagia yang kita rasakan, segitu pula kesedihan yang akan kita alami. Sementara seberapa pun kesedihan yang kita rasakan maka kebahagiaan yang setara pun juga akan kita rasakan. Inti dari filsafat ini adalah keseimbangan kehidupan (balanced life). Orang Bali senantiasa menjaga keseimbangan dalam kehidupan mereka sehari-hari, hal ini dijabarkan dalam konsep Tri Hita Karana dalam kehidupan masyarakat Bali. Kembali kepada topik tentang kejadian menyedihkan yang baru saya alami, saya sendiri harus dewasa dalam menyikapi berbagai kejadian buruk dan tidak mengenakkan yang baru saja saya alami. Ini adalah proses untuk mendewasakan diri dan saya menganggap kejadian ini juga upaya dari Tuhan untuk lebih meningkatkan rasa mawas diri sekaligus memperkaya pandangan atau persepektif seperti yang sudah saya tuliskan di awal.

Mengingat filosofi wastra poleng, saya berharap setelah gelap ini akan terbit terang yang akan bersiap meyapa di ufuk. Bukankah orang Jepang dengan ritual minum tehnya (Shodou) mengajarkan kita semua bahwa hidup itu berkenaan dengan hal-hal pahit (perjuangan, kerja keras, dll) yang tercermin dalam teh yang rasanya sangat pahit, kemudian akan berganti dengan rasa manis -kue-kue manis yang disajikan setelah upacara minum teh- setelahnya. Ya, ini memang suatu fase hidup yang kadang kita berada di bawah dan kadang juga kita berada di atasnya. 

Read More

Senin, 28 April 2014

Ambivalensi Undang-Undang Desa

Semenjak diberlakukannya UU No.32 Tahun 2004 tentang otonomi daerah yang merupakan penyempurnaan dari UU No. 22 Tahun 1999 telah membuka kesempatan seluas-luasnya bagi setiap daerah di Indonesia untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat di daerah. Dengan diberikannya keleluasaan tiap daerah untuk lebih menggali potensi serta keunggulan komparatif yang mereka miliki tentu hal ini akan dapat memicu perkembangan serta pembangunan di daerah menjadi lebih baik lagi.
Akan tetapi pengimplementasian UU NO. 32 Tahun 2004 tersebut tentu saja membawa konsekuensi. Dengan semangat desentralisasi yang didengungkannya, tiap-tiap daerah provinsi, dan kabupaten/kota menjadi terdesentralisasi dan memiliki hak otonom tidak terkecuali desa-desa yang merupakan struktur terendah dalam sistem administrasi negara di Indonesia. Meskipun setingkat dengan kecamatan secara struktural, tetapi kecamatan merupakan bagian dari pemerintahan di atasnya sedangkan desa lebih otonom. Desa-desa yang ada di indonesia sudah jauh berdiri sebelum negara ini terbentuk.
Konsekuensi dari desentralisasi desa yang telah dilaksanakan saat ini adalah semakin memperumit pelaksanaan otonomi daerah. Kemudian tipologi tiap desa di Indonesia yang sangat beragam tidak akan bisa disusun dalam sebuah kitab hukum yang seragam. Hal tersebut akan menimbulkan ketidaksesuaian kondisi dan situasi antardesa apabila peraturan tersebut dijalankan. Munculnya peraturan atau undang-undang yang mengatur tentang desa berarti pemerintah berusaha menyeragamkan dan mengatur pemerintahan desa secara mendetail lewat Undang-Undang Desa (UU Desa). Konsekuensinya lagi tentu daerah akan terbatas ruang geraknya dalam mengurus dan mengatur pemerintahannya sendiri. Dalam artian pemerintahan di atas desa tidak memiliki kewenangan untuk membuat peraturan tentang desa yang benar-benar dilandasi oleh asal-usul, kearifan lokal, adat-istiadat dan nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat desa.
Ketidaksesuaian lain adalah UU Desa mengamanatkan desa dikelola sebuah pemerintahan yang terdiri dari sekumpulan komunitas (self governing community). Menurut Sutoro Eko, dahulu asal-usulnya desa merupakan organisasi komunitas lokal yang mempunyai batas-batas wilayah, dihuni oleh sejumlah penduduk, dan mempunyai adat-istiadat untuk mengelola dirinya sendiri. Ciri-ciri dari pemerintahan yang dilaksanakan oleh sekumpulan komunitas menurut Ari Dwipayana dan Sutoro Eko adalah pengambilan keputusan atas urusan bersama dilakukan oleh komunitas dan Komunitas mempunyai inisiatif untuk menyelenggarakan urusan-urusan bersama secara sukarela. Dari pemahaman tersebut semestinya pemerintah melalui UU Desa tidak perlu mengatur tugas dan wewenang seorang kepala desa, tetapi cukup mengatur tentang wewenang, hak dan kewajiban pemerintahan komunitas. UU Desa juga seharusnya tidak menempatkan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagai sekretaris desa karena hal ini seakan membuat pemerintah “menjilat ludah” sendiri karena pengangkatan sekretaris desa dari golongan PNS bertentangan dengan semangat mengelola pemerintahan desa yang terdiri dari kumpulan komunitas. Lebih lanjut UU Desa tidak perlu mengatur alokasi dana untuk Desa, karena desa memiliki hak untuk mengatur dan mengelola Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki untuk keperluan komunitasnya.
Mengenai ambivalensi dari UU Desa, pemerintah sebaiknya merancang peraturan tentang desa secara garis besar, hal ini guna membuka ruang dan peluang dari desa untuk lebih menyesuaikan tata kelola pemerintahan mereka sesuai dengan nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat desa. Penyusunan UU Desa sama saja dengan menyeragamkan karakteristik desa-desa di Indonesia yang sangat beragam sehingga hal tersebut tidak akan berhasil. Untuk mengoptimalisasi keunggulan yang dimiliki tiap desa, pemerintah harus jeli dalam memposisikan desa serta membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat desa untuk turut berpartisipasi dalam mengembangkan desa mereka. Gampangnya, desa harus diatur dalam sebuah peraturan secara garis besar dengan kalimat sederhana bahwa hal-hal mengenai desa atau dengan nama lain diatur dan diurus daerah provinsi atau kabupaten/kota. 

Read More

Rabu, 23 April 2014

Italia Tak Melulu Soal Catenaccio

Satu dasawarsa silam Italia terkenal sebagai tim dengan pertahanan terbaik di dunia berkat filosofi catenaccio (pertahanan gerendel) mereka. Filosofi permainan tersebut bisa diterapkan dengan baik karena Italia memiliki segudang pemain bertahan (bek) yang mampu menunjang strategi tersebut. Sebut saja nama-nama tenar macam Marco Materazzi, Fabio Grosso, Fabio Cannavaro, Paolo Maldini dan Alessandro Nesta mampu membuat gentar para striker lawan berkat kepiawaian mereka dalam membaca arah serangan dan kelebihan mereka dalam meredam serangan dari skema bola-bola atas. Seorang bek seyogyanya bertugas dalam menghalau serangan lawan dan menjadi benteng terakhir pertahanan tim saat menerima serangan tim lawan. Akan tetapi ada beberapa bek Italia yang tidak hanya handal dalam bertahan, tetapi mampu bermain apik saat menyerang. Tidak jarang dalam situasi tersebut bek-bek Italia dengan naluri bertahan dan menyerang sama bagusnya bisa menorehkan gol dalam suatu pertandingan.. Pertahanan mereka dengan didukung oleh bek kelas dunia sangat susah ditembus oleh barisan penyerang lawan-lawan mereka. Namun tidak jarang para bek dari negeri pizza ini mampu memecah kebuntuan tim berkat kejelian mereka mengkonversi peluang menjadi sebuah gol. Pada perhelatan Piala Dunia 2006 silam Italia memiliki dua bek produktif dalam diri Materazzi dan Grosso dimana keduanya menyumbang masing-masing dua gol untuk timnas mereka saat itu. Jika Materazzi lihai dalam mencetak gol saat situasi set piece, lain lagi dengan Grosso yang memiliki kemampuan menusuk dari sektor sayap untuk kemudian menjebol gawang lawan berkat akurasi tembakan dan kecepatan berlarinya.  Puncaknya adalah saat Marco Materazzi mampu mengubur asa Perancis pada event yang sama melalui golnya menyambut sepak pojok Andrea Pirlo. Materazzi dengan lihai memanfaatkan keunggulan postur tubuhnya serta kelengahan bek perancis dalam mengantisipasi set piece. Pada akhirnya golnya tersebut mampu menyamakan kedudukan hingga peluit panjang berbunyi dan Italia berhasil keluar sebagai kampiun Piala Dunia lewat drama adu penalti. 
Read More

Follow This Blog