Senin, 22 November 2021

Lara, Nestapa, Sandiwara

Kau menemukanku, lotus berdaun dua belas

Kau menemukanku, tengkorak gelisah

Diredam empat dinding tembok putih

Dan jarum menatah inci demi inci kulit ari

Di ujung menit keseratuslimapuluh

Sakit adalah sebuah kesempurnaan
Read More

Selasa, 02 November 2021

Hujan

“God is in the rain,” kata V, yang diperankan Natalie Portman nan cantik di film V for Vendetta. Dan Tuhan, belakangan ini, sedang turun dengan asiknya sepanjang hari di Tangerang Selatan. 

Bulir hujan merangsek ke celana jins, merembesi sepatu, membuat buram penglihatan. Begitu kosmopolit. 

Bulir hujan kadang begitu melankolis, saat menetes di kaca jendela, dan matamu nyalang menatap jalanan. 

Bulir hujan tampak begitu naif, menampung kaki telanjang bocah-bocah yang bermain kegirangan. 

Bulir hujan menebar ketakutan bagi petani yang menunggu panen empat bulanan. Tapi bagi saya, hujan selalu memunculkan tanya: menunggu atau menembus? 

Menunggu bisa jadi menyenangkan. Tidak basah kuyup sembari mengamati serpih-serpih Tuhan menghujami bumi. 

Menembus hujan jelas baju akan basah, walaupun sudah pakai jas hujan yang menjuntai hingga ke tanah. Hujan  selalu mampu melihat celah-celah yang merekah. 

Saya adalah orang yang cenderung memilih menembus hujan. Pun di sore yang sial tadi, hujan datang tanpa kompromi. Sedari pagi hingga senja, tak putus-putus dia menggoda. Dengan gembira saya menembusnya, mencumbu bulir-bulirnya, berdansa di dalamnya. 

Ada ekstase antara kesedihan dan kelegaan di dalamnya, seperti berhasil mengumpulkan semua bagian diri menjadi satu. Seperti mengetahui bahwa hujan akan membasahi, mengundang flu, membuat licin jalan, membuat got mampat dan cucian tak kering, tetapi semua tak mengapa. 

Semua yang akan tiba tidaklah mengapa. Dia tidak menyakiti. Ya, Tuhan mungkin ada di dalam hujan.
Read More

Minggu, 31 Oktober 2021

Tentang Menjadi 28 dan Baik-baik Saja

Get better, not bitter. Begitu pesan yang selalu disampaikan guru-guru yang mampir di kehidupan saya. Lalu, bagaimana cara menjadi lebih baik, ketika saya adalah laki-laki berusia 28 dengan pikiran yang terlalu liar di kepala? 

Saya resmi berusia 28 tahun empat bulan lalu. Tiga tahun lalu, saya membayangkan laki-laki berusia 28 sebagaimana teman semasa SMA. Mereka bekerja delapan jam sehari dengan seragam kantor dan meninggalkan istrinya tiap pagi. Tapi, kami punya mimpi yang berbeda. Di usia 28, saya masih berada di Jakarta, bergabung dengan media cetak terbesar di Indonesia setelah bergelut 1,5 tahun di koran lokal. Sementara teman semasa SMA saya memilih bertahan tinggal dan bekerja di Bali. 

Kesempatan mendapat pengalaman lebih pun tiba. Saya dinyatakan lulus untuk masuk Kompas setelah melalui serangkaian seleksi ketat di Surabaya. Lalu seorang teman jurnalis di Bali bilang: “Nggak semua orang seberuntung kamu bisa keterima di sana”. Satu pesan lagi : “Enaknya gabung di Kompas. Jam kerjanya kayak PNS, gajinya besar.” 

Saya laki-laki 28 tahun dengan pengalaman kerja enam tahun. Saya pikir saya jatuh cinta pada jurnalisme, tapi toh saya sesekali menggerutu pada dunia yang lekat dengan tenggat ini. 

Tawaran menggiurkan sempat datang dari lembaga nonprofit dan godaan bekerja di kampung halaman. Belum lagi saya pernah berjanji dengan seorang perempuan spesial dari Bali utara, bahwa saya berniat melanjutkan sekolah agar bisa berjalan bersisian dengannya. 

Semua punya dinamikanya tersendiri tetapi saya merasa tak mampu bergerak seirama dengan dinamika itu. Jadi, kalau dipikir-pikir mengeluh dan menggerutu, juga rencana melanjutkan sekolah, adalah eskapisme belaka. Ada benarnya juga. Walaupun nanti semisal bisa melanjutkan sekolah, saya yakin selalu ingin kembali bekerja saja. Dasar manusia. 

Menjadi 28 tahun dan sendirian di daerah orang adalah perjuangan yang lain. Saya independen dan individualis. Setidaknya saya selalu berpikir demikian. 

Saya ingat pada bulan-bulan awal saya tiba di Jakarta, saya tiba-tiba merasa begitu sendirian. Saya menelepon rumah dan menangis sesenggukkan. Ajik dan ibu saya tertawa-tawa. Saya tidak menangis ketika ditempatkan di Tangerang raya atau ketika saya harus liputan ketika Galungan dan Kuningan. 

Selama hampir 5 tahun jauh dari rumah, saya relatif jarang menelepon keluarga sembari menangis. Kali ini saya menangis, lebih disebabkan teman-teman dekat perlahan menghilang. Mereka jadi punya dunianya masing-masing dan saya hanya punya satu orang sahabat dekat saat ini. 

Saya menangis, dalam, panjang, dan bersuara atas keadaan ini. Terkadang hal-hal sepele bisa mengganggumu. 

Kadang kau bingung kenapa tidak ada seorangpun yang bisa kau ajak bicara soal musik yang kau suka, buku yang kau baca, film yang membuatmu tak mampu berkata-kata berhari-hari. 

Kadang kau bingung mengapa orang selalu suka hidup dalam gerombolan sementara petualangan paling mendebarkan datang ketika kau sendirian. 

Kadang kau bingung mengapa orang lebih suka menatap layar telepon genggam ketimbang mata lawan bicara. Kadang kau bingung kenapa manusia masih menonton televisi. 

Kadang kau bingung mengapa imajinasi tanpa batas selalu dimaknai sebagai absurditas. Tapi, lebih sering kau menyadari bahwa menemukan seorang teman dengan siapa kau berenang-renang di frekuensi yang sama adalah sulit. 

Menjadi 28 tahun di perantauan adalah pelajaran paling berharga. Dengan semua kebebasan yang saya punya dan ketidakpedulian pada apa kata orang, saya bisa melakukan apa saja. 

Saya membuat kesalahan. Saya memperbaikinya. Saya menemukan teman untuk bepergian atau membicarakan musik dan film. Saya menemukan teman untuk kisah-kisah lainnya. Saya menyadari tidak ada satu sosok yang bisa memenuhi semua keinginan saya. Sama halnya, saya tidak mampu menjadi satu sosok yang lengkap untuk memenuhi semua keinginan orang lain. 

Menjadi 28 tahun di daerah orang adalah pelajaran bahwa semua kehidupan di belakang saya mampu membuat saya menjadi pahit. Tapi, saya tidak memilih menjadi pahit. Dan lagi, imajinasi saya masih tanpa batas, pikiran saya masih liar, saya masih impulsif, saya masih iri pada burung-burung senja, saya masih suka nyinyir. Tapi, yah, saya baik-baik saja.
Read More

Sabtu, 14 Agustus 2021

Dunia Saya, Panggung Pengamen Jalanan

Sesaat saya serasa berada di konser mini beraliran musik folk ketika seorang pengamen di sebuah sentra kuliner di Rawamangun, Jakarta Timur, menyajikan tembang dari The Trees and The Wild dan Ikhsan Skuter 14 Agustus malam. Pengamen itu menyanyikan lagu-lagu folk kesukaan saya tanpa sedikit pun cela. Nada-nadanya pas, iramanya mengena, suaranya juga lumayan. 

 

Saya pikir ini bakal jadi malam folk pertama saya hanya dengan Rp 2000 perak di Jakarta. Tapi pengamen itu, langsung mematahkan hati saya ketika dari mulutnya kemudian meluncur salah satu lagu hasil aransemen ulang oleh Pasto. Saya memang kurang suka terhadap musisi yang suka me-recycle lagu-lagu karya musisi lama. Bagi saya, mendaur ulang karya musisi lain itu mencerminkan rendahnya kreativitas. 

 

Tapi saya terhibur sekali dengan penampilan si pengamen malam tadi. Dia tahu betul caranya menyenangkan penikmat musik folk yang sekian lama absen menonton konser akibat digebuk pandemi. Dia menciptakan panggung hiburan selayaknya konser folk mini yang terakhir kali saya saksikan tiga tahun silam.

 

Panggung hiburan sedianya punya misi untuk menghibur, dan yah saya pun tertawa kala itu. Tapi ada pertanyaan lebih besar di kepala saya, siapakah pengamen itu? Siapakah puluhan  orang-orang yang berada di sekitar saya di sentra kuliner itu? Apa yang membuat di masa penerapan PPKM darurat mereka lebih tersedot mencari "panggung hiburan" ketimbang berlindung di kubah rumah? 

 

Yang lebih dahsyat, salah seorang pengelola sentra kuliner ini mengaku akhir-akhir ini justru semakin sibuk mengawasi penerapan protokol kesehatan di sentra kuliner agar tak diteror petugas satuan polisi pamong praja (satpol pp). Setelah sempat mati suri di masa-masa awal PPKM darurat bulan lalu, sentra kuliner ini kembali bergeliat. Pedagang-pedagang kembali bekerja, alat masak menyala, dan uang-uang berpindah tangan. 

 

Mereka kembali berdagang tentu untuk mencari nafkah di tengah ketidakpastian situasi pandemi ini. Selain juga demi melayani warga yang selalu haus hiburan karena bosan berdiam diri di rumah. 

 

Ini konsekuensi sebuah kota, mungkin. Jakarta, yang jadi kota terbesar di Indonesia, menjadi tempat berkumpulnya belasan juta manusia. Kota ini jadi harapan terakhir bagi mereka-mereka yang berputus asa tak memperoleh apa-apa di daerah asal. Dan saya juga merupakan salah satunya.  

 

Jakarta sejak dulu sudah sangat padat dengan manusia. Orang-orang terus berdatangan ke sana, utamanya usai Idul Fitri dan arus balik Lebaran. Padahal, menurut saya apa juga gunanya menjejali Jakarta. Toh lebih enak bercocok tanam atau memancing ikan di sungai di desa. 

 

Tapi inilah ciri khas kota besar. Segalanya lengkap. Mau ke mal atau berobat di rumah sakit berfasilitas paling mutakhir, semuanya ada. Sistem transportasi publik di sini juga yang terbaik di Indonesia. 


Jakarta punya segalanya yang bisa dibeli oleh uang. Lalu, apa yang tertinggal dari sebuah kota?  Yang bisa saya ingat dari sebuah kota bukan hanya sebuah nama. Kita bukan berada di dunia Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL) yang menandai setiap kota dan negara hanya dengan ibu kota dan monumen pentingnya. 

 

Kota, bagi saya, adalah sebuah pengalaman. Numpang tinggal selama tiga bulan saja tidak akan pernah cukup untuk menangkap nyawa sebuah kota, seperti hanya ibarat menonton panggung hiburan oleh pengamen sekitar 20 menit yang menyisakan senang sesaat.     

 

Dunia panggung  

 

Hampir lima tahun di Jakarta bagi saya memang masih seperti melihat panggung hiburan. Saya memaki budaya mal di sini tapi menyempatkan waktu untuk kadang nongkrong di dalamnya. Saya menontoni mereka yang datang ke mal dengan gaun dan rambut tertata rapi hanya untuk sepiring nasi goreng di sebuah kafe. 

 

Parfum-parfum berbaur dengan kretek terbakar, gincu disapu aroma kafein. Kota ini akan homogen dengan kota-kota lainnya yang berayah pembangunan dan beribu kandung industri. Anak-anaknya ialah gedung bertingkat, kawasan industri, infrastruktur setengah jadi, pelayanan publik setengah hati, dan mal-mal pongah percaya diri. Anak tirinya ialah kali-kali bau, sampah-sampah tak terangkut, lapak-lapak liar, dan mungkin saya, perantau kehilangan jati diri.  

 

Saya tidak pernah suka kota ini, tapi ini panggung saya. Ini tempat saya harus menjadi penampil yang baik, setidaknya bagi orang-orang dengan siapa saya bekerja. Tapi saya bukan pengamen itu yang begitu menjiwai perannya di "panggung" sentra kuliner. Apakah semua perantau selalu gelisah dengan kota perantauannya?  

 

Pukul 21.00 sentra kuliner ini harus tutup karena aturan PPKM darurat. Pengamen itu pun menyudahi pertunjukannya dengan senyuman terakhir di wajah seraya mengucapkan salam dan terima kasih. 

 

Tapi saya masih tertegun di sana, di panggung saya, menunggu pertunjukkan berikutnya.  Sejenak saya iri pada pengamen itu yang panggungnya lebih nyata dari panggung saya. 

 

Panggung saya terlalu asing dan abstrak. Atau mungkin semua orang sebetulnya berada di panggung imajiner mereka, merasa terasing di tengah kota yang tak lagi sama dengan ingatan mereka. Yah, semisal suatu saat ketika berkesempatan kembali bertemu pengamen itu, akan saya tanyakan namanya. Saya tanyakan ke mana dia ingin pulang. Mungkin saja kami sama-sama terasing, di Jakarta.  

Read More

Follow This Blog