Kamis, 25 Agustus 2022

Februari

Hujan dan Februari mungkin saudara kembar. Mengapa Februari selalu basah? Kerap saya bertanya, seakan-akan semesta ingin ikut mencurahkan semua airnya di tahun yang baru saja paripurna. Seakan-akan semua dibasuh lagi, semua luka dan kenangan. Seperti kanal-kanal yang meluap memuntahkan isi perutnya. 

Apa Februari sebegitunya? Atau, hati dan kepala ini melunak setelah sebulan yang baru terlampaui? Saya menengok ke belakang, jauh sekali ke belakang, ke sebuah rasa yang kadang masih begitu nyata. Saya menengok sampai saya pikir saya tak ingin menatap ke depan lagi. 

Tapi, ini Februari. Semua akhir adalah semua awal seperti semua awal adalah semua akhir. Saya menengok ke belakang, tak ada apapun di sana. Semua tiada. Saya menengok ke depan, tak ada apapun di sana. Tiada. Saya di sini, dengan jemari yang terus bergerak, kaki terlipat, lagu yang berdengung dari ponsel, dan hujan yang masih terus menari. Ini saya, tanpa ke mana-mana, ada. 

Untuk semua kepedihan dan keriaan itu saya di sini. Pun sebuah kesepian yang mungkin bersaudara kembar bagi hidup yang hanya sekali. 

Di luar sana, hujan masih menari.

Tidak ada komentar:

Follow This Blog