Rabu, 29 Mei 2013

Teror Film Horor

Minggu-minggu ini bisa dibilang minggu-minggu 'Peak' bagi mahasiswa, khususnya para mahasiswa perantauan di Surabaya yang berasal dari Bali dan tinggal di sebuah asrama milik Pemprov Bali bernama Asrama Mahasiswa Bali "Tirtha Gangga". Minggu puncak dimana banyak tugas dan PR yang datang silih berganti bak kedatangan salesmen door to door yang  kehadirannya di rumah kita masing-masing tidak pernah diharapkan. 

Sore itu selepas pulang kuliah seperti biasa kami menggelar acara Bioskop Kamar Curut (BKC) Curut adalah nama anggota asrama yang kamarnya sering kami satroni untuk dijadikan homebase nonton film, ya bisa dibilang ini adalah ajang nonton film bareng anak asrama dan biasanya kami memutar film-film horor produksi negeri gajah putih yang masih tetangga'an dengan Indonesia. BKC seperti biasa dimulai agak malam selepas kami selesai mandi dan makan, lalu saya putar film yang sudah disiapkan. saat sedang asik nonton film horor (saya bener-bener terhanyut dan menghayati film horor tersebut sampai terkencing-kencing saking takutnya) dan pas lagi pertengahan film saya dan kawan-kawan yang sedang nonton diberi tahu bahwa ada satu teman kami yang mendadak sakit dan sekarang sedang dibawa ke Rumah Sakit (RS) Haji untuk didiagnosa ia sedang terkena penyakit apa. alhasil kami yang sedang seru-serunya nonton film pun merelakan waktu kami nonton untuk menyusul kawan kami yang namanya Nyaplir (dalam Bahasa Bali, Nyaplir itu bisa berarti meleset atau tidak tepat sasaran, Hahaha) ke RS. Haji.

Singkat cerita sesampainya di RS. Haji kami langsung mendapat kabar bahwa Nyaplir positif terkena Demam Berdarah (DB) lalu kami pun bergegas mencari di kamar mana Nyaplir dirawat. Teror psikologis terjadi mulai saat itu, kami yang baru saja menonton film horor masih terbayang dalam bayangan kami sosok hantu yang kami tonton barusan, apalagi di rumah sakit tersebut kami menggunakan lift untuk naik ke lantai atas tempat kamar Nyaplir. Alhasil kami pun menjadi phobia mendadak akibat ke rumah sakit sehabis nonton film horor yang ada hantu wanita di lift. Ketakutan kami makin menjadi-jadi saat kami ternyata keliru naik lift yang seharusnya kami naiki di ujung koridor rumah sakit. Lift yang salah kami naiki tersebut malah membawa kami ke sebuah lantai yang gelap dan lampunya mati semua, hanya ada sedikit cahaya dari gedung seberang yang menembus lewat sela-sela kaca. Keringat dingin pun mulai keluar dan mulut kami komat-kamit membaca Gayatri Mantra kalau-kalau hantu yang kami saksikan di film tadi muncul persis di hadapan kami. Unik memang kami terbawa ketakutan yang luar biasa, sebelumnya saya apabila bepergian ke rumah sakit pada tengah malam seperti itu tidak pernah ketakutan seperti sekarang ini, yah beginilah efek dari nonton film horor :p.

Pada akhirnya tidak ada apapun yang terjadi pada kami dan kami semua sampai di kamar Nyaplir dengan selamat. Teman-teman lain yang menunggu kedatangan kami di kamar Nyaplir pun tertawa terbahak-bahak mendengar betapa pengecutnya kami. Sial memang sudah ketakutan setengah mati, lalu malah diketawain pula. Last but not least sebelum saya akhiri tulisan ini, saya punya sedikit pesan bagi yang membaca tulisan ini : "Menonton film horor sebelum pergi ke rumah sakit tengah malam itu adalah sebuah KESALAHAN"
Read More

Sabtu, 27 April 2013

Hari Raya Nyepi, dari, Oleh, dan Untuk Indonesia

Beberapa saat yang lalu umat Hindu di Indonesia baru saja merayakan pergantian Tahun Saka, dimana sekarang Tahun Saka sudah memasuki angka ke 1935. Sudah ribuan tahun lalu sejak Aji Saka dari India pertama kali menginjakkan kaki di tanah Jawa yang berarti saat itu pula penanggalan tahun caka dimulai.
Masyarakat Hindu di Indonesia memaknai perayaan Nyepi ini sebagai momentum untuk merenung, introspeksi diri, serta memohon kepada Ida Shang Hyang Widhi Wasa agar tahun-tahun berikutnya bisa lebih baik daripada tahun sebelumnya. Berbeda dengan kebanyakan perayaan pergantian tahun oleh sejumlah keyakinan yang ada di dunia, perayaan pergantian tahun caka tidak diwarnai dengan hura-hura, pesta, ataupun menggelar acara yang semeriah mungkin hingga konvoi serta berbagai macam kegiatan lainnya yang identik dengan hedonisme. Perayaan pergantian tahun oleh umat Hindu mungkin merupakan satu-satunya di muka bumi ini yang jauh dari hiruk pikuk serta kegiatan-kegiatan bersenang-senang seperti kebanyakan kegiatan pergantian tahun misalnya pergantian tahun baru gregorian atau masehi, pergantian tahun baru Imlek, dan perayaan tahun baru Songkran menurut penanggalan di Thailand. Kesemua perayaan pergantian tahun yang telah disebutkan tadi diisi dengan sederet kegiatan meriah untuk menyambut datangnya lembaran baru di tahun yang baru.
Jika ditilik lebih dalam mengenai peringatan Hari Raya Nyepi yang penuh dengan kesunyian dan ketenangan patutlah kita sebagai umat Hindu berbangga hati karena dengan turut merayakan Nyepi bersama jutaan umat Hindu yang ada di Indonesia itu berarti kita telah melakukan suatu langkah nyata penyelamatan terhadap Bumi tempat kita tinggal. Disadari atau tidak dalam sehari perayaan Nyepi kita umat Hindu telah memberikan kesempatan kepada Ibu Pertiwi untuk beristirahat dan memberikan ruang baginya untuk sejenak menghela napas dari keseharian  yang penuh polusi, pemborosan Sumber Daya Alam (SDA). Inilah salah satu dedikasi Hindu untuk alam, kita adalah aktivis yang “tidak disadari” telah melakukan tindakan nyata untuk membuat bumi ini tetap terjaga keindahan dan kelestariannya. Berkaitan dengan sejumlah kerusakan alam di Indonesia, umat Hindu di Nusantara berusaha mengasihi alam dengan caranya sendiri.
Perayaan Nyepi sudah sangat melekat erat dengan umat Hindu di Bali. Untuk tahun-tahun kedepan diharapkan perayaan Nyepi bukan saja kearifan lokal dari masyarakat Bali saja, umat Hindu di Indonesia tersebar dari Sabang sampai Merauke dan tidak hanya di Bali, Nyepi sebagai salah satu hari raya besar nasional kedepannya semoga bisa menjadi milik semua masyarakat Indonesia dan kearifan masing-masing daerah bisa disatukan melalui peringatan Nyepi. Dalam perayaan Nyepi terkandung ajaran untuk tidak larut dalam kesenangan yang berlebihan, ajakan untuk mencintai alam beserta isinya, dan selalu mengintrospeksi diri sendiri agar menjadi pribadi yang menyenangkan bagi orang lain. Bukan hal yang mustahil apabila nilai-nilai dalam Nyepi bisa menyatu dengan berbagai kearifan lokal di berbagai daerah yang membentang di Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung dalam perayaan Nyepi bukan hanya boleh dilakukan serta dimiliki oleh umat Hindu saja, namun tiap individu sejatinya bisa mensinergikan dan menyatukan prinsip-prinsip perayaan Nyepi dengan kearifan lokal yang berkembang atau ada di masing-masing daerah di Indonesia agar ajaran yang terkandung dalam Hari Raya Nyepi dapat diterima secara luas oleh masyarakat Indonesia sehingga akan meminimalisir terjadinya miskomunikasi serta mispersepsi mengenai perayaan Nyepi antar umat beragama.
  Untuk mencapai semua itu diperlukan kemauan, sebab disetiap ada kemauan pasti di sana ada jalan. Menyatukan kearifan lokal serta melestarikan lingkungan bukan masalah berhasil mencapainya atau tidak, tapi ini menyangkut mau atau tidaknya kita melakukan langkah-langkah kongkrit untuk meraih tujuan tersebut dan perayaan Nyepi tiap tahunnya semakin menguatkan kesadaran kita untuk terus menjaga nilai-nilai lokal yang ada di Indonesia serta keberlangusungan alam semesta, karena Nyepi sedari dulu memang dari, oleh, dan untuk Indonesia.
Read More

Jumat, 19 April 2013

Sekelebat Bayangan Kampung Halaman

Jumat, 19 April 2013....

Ditengah kesibukan mengikuti Ujian Tengah Semester genap ini, disaat materi kuliah seakan membuat pecah otak dan kepala, diantara setumpuk masalah di asrama dan kesunyian kamar 4X3 meter ini entah kenapa pikiran saya tertuju ke kehidupan menyenangkan di rumah. kehidupan yang hangat, segar... Sudah 194 hari sejak semester genap ini bergulir tidak sekalipun saya pernah menginjakkan kaki di halaman rumah. Tidak seperti biasanya saya begitu merindukan aura kamar rumah, sambutan Ajik dan Ibu di rumah serta candaan adik-adik di sana. Mungkin karena pengapnya suasana di tanah rantauan.. mungkin di asrama ini tidak ada sosok teman, mungkin karena tiada lagi tegur sapa diantara penghuni asrama ini. Yang pasti semua kondisi ini  sangatlah mendorong keinginan kembali pulang sangat besar. 

Ingin rasanya segera pulang... segera menghilang... merasakan sejenak damainya kehidupan di rumah agar diri ini tidak seterusnya memikul masalah demi masalah.
Read More

Minggu, 09 September 2012

Heading Baack to Surabaya

Bertepatan dengan perayaan Hari Raya Kuningan tanggal 8 September 2012 kemarin, saya pun sedari pagi sudah sibuk membantu orang tua dalam menyambut Kuningan ini, rutinitas sebagaimana mestinya seperti bangun pagi hari, mandi, mebanten dan sembahyang keliling pun saya lakoni. Yang tidak kalah pentingnya adalah pada sore harinya saya sudah harus berangkat ke Surabaya karena perkuliahan akan dimulai senin nanti. hufft... bisa dibayangkan betapa beratnya hati ini melangkah kembali ke Surabaya, ke kota perantauan... jauh dari saudara, orang tua, teman-teman, tetangga, dll. yah mau tidak mau ya saya harus kuat dan menutup serangkaian liburan di kampung halaman untuk kemudian segera fokus belajar dan mengerjakan tugas-tugas kuliah seperti biasa.

Setelah pamitan ke keluarga besar di Sanur dan Blahbatuh, tepat pukul 15.00 WITA saya sudah siap berangkat ke terminal untuk kemudian mencari bis yang akan mengantar saya sampai ke Surabaya. ini adalah momen-momen krusial, momen-momen yang menyedihkan dimana ibu dengan kehangatan pelukannya merelakan kepergian saya ke daerah nun jauh di seberang pulau sana, saya pun hanya bisa mengucapkan terima kasih banyak atas doa dan dukungannya sembari menahan air mata ini menetes karena tak kuasa menahan haru yang menggebu. Setelah puas bersalaman dengan keluarga akhirnya saya kemudian pergi diantar dengan Ajik saya ke Terminal Ubung yang letaknya persis di Jantung Kota Denpasar.

Sejujurnya kondisi badan saya sangat kelelahan dan drop karena tadi pagi bangun pagi sekali dan letih seusai berkeliling mebanten dan sembahyang di Sanur dan Blahbatuh, kedua tempat itu terpaut jarak yang tidak dekat. Tapi saya paksakan saja untuk berangkat karena tidak mungkin lagi untuk menundanya. Akhirnya setelah pamitan kepada Ajik, Ajik saya pun pulang setelah mengantar saya sampai ke terminal, saya hanya termanggu melihat dari balik kaca bus bayangan Ajik saya yang perlahan semakin menjauh dan mungkin tahun depan baru saya bisa pulang kampung lagi, dimana saya bisa kembali melepas rindu akan kehangatan keluarga, rindu akan suasana rumah yang damai di pedesaan Gianyar.

Pukul 18.00 WITA bis yang saya tumpangi pun mulai berangkat meninggalkan Kota Denpasar dengan kecepatan yang sedang. Saya pun memanfaatkan waktu selama 12 jam di bis dengan beristirahat karena saking capainya dan kepala saya yang sedikit pusing karena kebanyakan begadang akhir-akhir ini. Puja untuk Ida Shang Hyang Widhi Wasa, akhirnya saya selamat sampai di Surabaya pada pagi harinya pukul 04.00 WIB. Saya pun kembali ke asrama tempat saya tinggal selama hidup di perantauan, dimana asrama ini penghuninya adalah saudara-saudara saya dari Bali yang juga sedang menuntut ilmu di Surabaya, nama tempatnya adalah Asrama Mahasiswa Bali Tirta Gangga.

Sesampai di asrama saya sempat tersenetak akan kondisi asrama yang sedemikian parah, berantakan dan kotor karena baru saja tadi malam ada upacara piodalan yang jatuhnya tepat pada saat Kuningan, ya Pura Tirta Gangga yang ada di Asrama kami ini piodalannya memang bertepatan dengan Hari Raya Kuningan, jadi tidak aneh kalau kondisi asrama bisa sedemikian berantakannya.

Kemudian saya pun menghabiskan waktu dari pagi sampai sore harinya dengan tidur, selain karena rasa ngantuk yang menyerang sudah tidak dapat diajak kompromi lagi, kepala saya juga sangat pusing setelah perjalanan dengan bus tadi. 

Pada sore harinya pening di kepala saya sudah agak mendingan dan saya keluar kamar melihat teman-teman saya yang sedang sibuk membersihkan sampah-sampah sisa upacara agama kemarin, kami pun bergotong royong membersihkan asrama kami sembari melontarkan canda dan tawa. 

Yah, demikian kehidupan saya selama di perantauan... Belajar di kampus, membuat tugas, bersih-bersih di asrama, bercanda dengan teman-teman. Untunglah saya bisa tinggal di asrama, karena kalau pun saya tinggal indekos, belum tentu saya akan kuat menjalani kehidupan di perantuan tanpa adanya teman-teman dari Bali yang juga kuliah di sini. Tentu saya akan diserang dan dilanda kesepian apabila tinggal indekos. Obrolan dan canda teman-teman asrama sangat manjur untuk menggantikan kehangatan keluarga yang saya dapatkan di rumah, dan mungkin akan saya rasakan lagi pada Januari tahun depan.. Semoga...
Read More

Follow This Blog