Jumat, 13 Agustus 2021

Pengendara Ojek Daring dan Buku Bekas

Jalan Tarumanegara, Tangerang Selatan, Banten, cukup padat pada Kamis (12/8/2021) sore. Pengendara motor menyesaki sebagian ruas jalan di dekat kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, tersebut. Situasi arus lalu lintas sore itu amat kontras dibandingkan dengan beberapa jam sebelumnya.

 

Di tengah kepadatan arus lalu lintas, satu orang di antara pengendara motor itu menepi dari jalanan. Motornya ia parkir di depan sebuah toko buku bekas, tempat di mana saya sedang duduk-duduk sembari ngobrol dengan karyawan toko.

 

"Apa di sini jual buku soal metamorfosis?" tanya bapak pengendara sepeda motor itu setelah memarkir kendaraannya di halaman toko buku.

 

Karyawan toko buku bekas dan saya menghentikan obrolan sejenak. Pengendara sepeda motor itu rupanya seorang pengemudi ojek daring. Pakaiannya setengah lusuh. Jaket hijau yang dia kenakan agak kumal. 

 

"Enggak ada kayaknya buku itu. Di sini adanya buku mahasiswa," ucap karyawan toko buku.

 

Saya mengernyitkan dahi. Setahu saya ada buku ensiklopedia yang isinya kurang lebih soal metamorfosis dan rahasia alam semesta. Buku itu bila tak salah, sempat saya lihat beberapa jam sebelumnya di salah satu rak di dalam toko. Seketika saya sampaikan bahwa buku yang ia cari itu ada di dalam toko. Saya mengajaknya masuk dan ikut mencari.

 

Jadilah saya dan pengemudi ojek daring itu sibuk membolak-balik tumpukan buku di dalam rak. Sambil mencari buku, dia bercerita tentang anaknya. Rupanya buku metamorfosis itu akan dia berikan kepada sang anak yang masih duduk di bangku kelas 1 SD. 

 

Pengemudi ojek daring ini sengaja mampir ke sebuah toko buku bekas untuk mencarikan buku yang diminta sang anak. Ia menyisihkan sebagian waktunya untuk itu. Padahal target orderan atau mengantar penumpang hari itu belum ia capai.

 

"Anak saya sudah mulai suka membaca. Dia senang baca buku yang banyak gambarnya. Saya belikan saja buku biar dia tidak main HP terus," katanya.

 

Saya tertegun mendengar perkataannya. Keinginan bapak pengemudi ojek daring itu menyentuh sanubari. Saya menilai ia orang yang perduli pada tumbuh kembang anaknya. Kendati (menurut dia) penghasilannya sebagai pengemudi ojek daring pas-pasan, tapi dia menginginkan buku sebagai benteng bagi anaknya agar tak melulu menengok layar ponsel. 

 

Sekitar 20 menit kami mencari buku yang dimaksud, tapi belum ketemu. Sampai pada akhirnya pandangan saya tertuju ke sebuah buku setebal 3 sentimeter di bagian rak paling atas. Ada dua buku ensiklopedia khusus anak-anak dengan banyak gambar di dalamnya. Persis seperti yang bapak pengemudi ojek daring itu cari.

 

Saya serahkan buku itu kepadanya, ia lalu membolak-balik halaman demi halaman. "Wah ini yang saya cari. Terima kasih ya, mas," katanya. 

 

Bapak pengemudi ojek daring kemudian menanyakan harga buku itu. Karyawan toko buku bekas menyebut harganya Rp 40 ribu. Harga yang bagi saya masih terjangkau.

 

"Rp 40 ribu? Saya kira bisa dapat harga Rp 20 ribu," kata bapak pengemudi ojek daring.

 

Saya terdiam mendengar jawabannya. Tak disangka buku bekas seharga Rp 40 ribu teramat berat bagi dia. Hari itu barangkali penghasilannya belum seberapa. Atau mungkin uang segitu sudah dia kantongi, namun ada keperluan lain yang lebih mendesak untuk dipenuhi. 

 

Dengan wajah sedikit kecewa ia mengembalikan buku ensiklopedia itu kepada karyawan toko. "Tolong buku ini disimpan dulu saja. Saya mau narik ojek biar dapat uangnya dulu. Setelah itu saya balik lagi ke sini ambil bukunya," katanya.

 

Bapak pengendara ojek daring itu beranjak pergi. Sejurus kemudian saya mencegah dia berlalu. Saya tawarkan buku itu untuknya. Urusan bayar-membayar biar saya yang selesaikan. Bapak itu berhenti. Dia memandang saya lekat-lekat seolah tidak percaya.

 

"Terima kasih mas. Apa ini saya jadinya tidak merepotkan mas? Tidak apa-apa saya narik lagi aja dulu," katanya.

 

"Tidak apa-apa pak. Biar saya yang traktir buku itu buat anak bapak. Bapak habis ini pulang saja. Nggak usah narik lagi buat cari uang bayar buku." Saya lalu masuk ke dalam toko untuk mengambil dompet di dalam tas.

 

Bapak itu mengikuti saya ke dalam toko. Sepatu yang sudah dia kenakan dilepaskan lagi. Di dalam toko, ia menyalami saya dengan setengah menundukkan badan. Kedua tangannya menggenggam erat tangan kanan saya.

 

"Terima kasih banyak mas. Semoga berkah," katanya.

 

Luluh juga hati saya mengalami momen tersebut. Tidak disangka uang Rp 40 ribu sangat berarti baginya. Di sini saya merasa beruntung sekaligus bersyukur masih diberikan rezeki oleh Hyang Widhi untuk bebas memilih dan membeli buku apapun yang saya mau. Saat masih kecil, orangtua saya tergolong mampu untuk membeli semua buku yang saya pinta. 

 

Kejadian sore itu membuat saya semakin tersadar. Masih banyak orang kurang beruntung di belahan dunia sana. Sejujurnya, saya tidak memiliki motif apa-apa kecuali membayangkan anak bapak pengendara ojek daring itu tersenyum ketika melihat buku yang dia incar sudah dibawa pulang oleh sang bapak. Hanya itu.

 

Saya dapat mengerti bagaimana rasanya diberikan buku oleh ajik dulu. Kegemaran saya membaca juga karena beliau sejak dulu rutin membelikan saya buku-buku, entah itu komik, majalah, atau pengetahuan umum. Maka, ketika ada seorang bapak yang dengan niat mulia ingin memberikan bahan bacaan untuk anaknya, saya tidak kuasa untuk tidak menolongnya.

 

Read More

Minggu, 06 Juni 2021

Sesat

Pada suatu perkuliahan di kampus FISIP Universitas Airlangga sekitar tahun 2014, dosen saya, Antun Mardianta berkali-kali menekankan pentingnya mahasiswa mempelajari materi kuliah dari sumber yang kredibel. Saya masih ingat ia mengeluhkan pengetahuan mahasiswanya yang diperoleh dari sumber-sumber tak jelas macam blogspot atau media sosial. 

“Jangan ikuti itu, itu sesat,” demikian katanya dengan ekspresi wajah datar sembari menahan rasa letih di tengah-tengah jam mengajar. 

Saya menilai Pak Antun sebagai dosen yang disiplin dan tegas. Ia tak menyukai mahasiswa yang malas membaca. Dalam satu kesempatan pula, ia menyindir polah mahasiswa yang lebih senang membaca berita-berita sepak bola dibandingkan ragam pengetahuan yang ada di rubrik opini Kompas.

Sikapnya itu didasari keinginan agar kami, mahasiswa ilmu administrasi negara, punya pemahaman yang utuh dan menyeluruh atas materi kuliah. Dari kebiasaan memperoleh pengetahuan dari sumber-sumber yang kredibel, Pak Antun berharap kami mampu menghasilkan karya tulis yang baik.

Kebiasaan Pak Antun itu kembali saya ingat di awal Juni 2021 ini, tujuh tahun setelah momen di ruang perkuliahan itu. Saya kembali ingat karena hari ini berkali-kali keliru dalam mendapatkan informasi terkait berita keberhasilan peselancar Indonesia lolos ke Olimpiade Tokyo 2020.

Berita sudah saya tuntaskan menjelang sore hari. Sumber-sumber atau bahan berita saya dapatkan dari hasil wawancara dengan Sekretaris Jenderal Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Ferry Kono dan Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Gatot S Dewa Broto. 

Tulisan kurang lebih menginformasikan satu peselancar Indonesia, Rio Waida, berhasil menyegel satu tiket ke Olimpiade Tokyo setelah mengikuti kualifikasi di El Salvador. Kebetulan ini adalah kali pertama saya menulis tentang olahraga selancar. Tambahan lagi, saya baru seminggu bergabung kembali ke desk olahraga harian Kompas setelah sebelumnya berpindah-pindah desk.

Dengan kondisi begitu, tentunya butuh adaptasi dalam memahami isu-isu olahraga. Keadaan menjadi semakin rumit manakala yang saya tulis adalah selancar. Cabang olahraga yang saya tak begitu pahami.

Maka dari itu, mulailah saya meriset-riset tentang selancar. Dari sana saya baru tahu bahwa selancar baru kali ini dipertandingkan di Olimpiade. Setelah bahan terkumpul, saya menulis dan mengirimkannya ke editor. 

Malamnya, salah satu editor berkali-kali menghubungi saya. Katanya, berita saya diplot untuk naik di halaman satu Kompas esok hari. Saya diminta menambahkan sejumlah informasi esensial, seperti mengapa selancar baru kali ini masuk Olimpiade dan berapa jumlah kontingen Indonesia di Olimpiade sebelumnya.

Perbaikan dan tambahan pun saya kirim ulang ke editor. Namun, masalah tidak selesai sampai di sana. Beberapa jam kemudian, editor kembali menelepon. Ia mempertanyakan validitas informasi yang saya benamkan di tubuh berita. 

Untuk hal ini saya mengakui sangat teledor. Saya mengutip mentah-mentah sejumlah paragraf dalam siaran pers yang dikirimkan KOI. Karena dikirim oleh lembaga sekelas KOI, saya pun tak bersikap skeptis dan menuliskan semua informasi yang termaktub di siaran pers tanpa mengujinya lagi.

Editor memberitahu saya bahwa lokasi tempat selancar dipertandingkan di Jepang nanti bukan Pantai Shidashita, melainkan di Pantai Tsurigasaki. Mendengar hal sepenting itu bisa keliru, saya malu bukan main. Betapa bodohnya saya begitu saja mempercayai informasi dari KOI tanpa memeriksanya lebih dulu. 

Kekeliruan itu bisa terjadi antara lain karena KOI menyewa public relation atau humas eksternal untuk menyiapkan siaran pers dan melayani wartawan. Saya luput menyadari hal itu. Dari awal semestinya saya sadar humas eksternal yang dipekerjakan KOI sangat mungkin keliru dalam memberikan informasi. Bahkan orang KOI pun juga tak mungkin bisa seratus persen akurat dalam memberikan keterangan.

“Lain kali, pahami dulu apa maksud informasi yang ada di rilis. Setelah itu baru kamu tulis lagi dengan kalimatmu sendiri. Jangan langsung copy-paste, karena siaran pers kualitasnya biasanya enggak memenuhi standar Kompas,” begitu kata editor. 

Kali ini saya diingatkan kembali tentang salah satu disiplin dasar dari jurnalistik: verifikasi, verifikasi, verifikasi. Sebagai wartawan, saya melupakan begitu saja prinsip dasar dalam mencari informasi. Kemalasan dan perasaan ingin segera bebas dari tugas membuat saya lengah.

Informasi lain juga saya kutip secara serampangan. Jumlah kontingen Indonesia di Olimpiade sebelumnya, yaitu Olimpiade Rio 2016 saya keliru sebutkan. Saya awalnya mencantumkan kontingen Indonesia pada 2016 sebanyak 22 orang dari 28 cabang olahraga. Setelah dicek kembali, jumlah atlet Indonesia di Rio kala itu ternyata 28 orang dari 7 cabang olahraga. 

Kesalahan itu karena saya mengambil informasi yang berceceran di media online lain. Informasi-informasi yang ada di media-media online ternyata jarang yang akurat. Saya paham benar kondisi itu, tapi menutup mata agar bisa segera merampungkan tulisan. Serta merta saya merasa sangat bersalah dan bodoh hari ini. 

Semua sudah berlalu dan yang bisa saya lakukan sekarang adalah lebih berhati-hati ke depan. Nasihat Pak Antun bertahun-tahun silam kembali relevan bagi saya yang kini berada di dunia kerja. Bila saat masih mahasiswa dulu saya bisa mendapat permakluman jika salah mengambil informasi dan tersesat, kini dengan posisi sebagai wartawan saya tak bisa mengambil risiko menyesatkan orang yang membaca tulisan saya.


Read More

Selasa, 25 Mei 2021

Segala Hal yang Serba Singkat

Apa yang mungkin lebih singkat dari Kabinet Dwikora II? Kebersamaan saya di desk multimedia harian Kompas. Bila Kabinet Dwikora II hanya berusia 32 hari, saya hanya bertahan sekitar 14 hari di desk multimedia. Sebagai jurnalis, perpindahan atau rotasi adalah hal yang biasa.

Per 1 Mei 2021, sesuai kebutuhan perusahaan, saya dirotasi dari desk saya sebelumnya, yaitu desk regional ke desk multimedia. Target dan kebutuhan perusahaan mengharuskan adanya perpindahan itu. Awalnya saya kaget menerima pengumuman pindah, selain karena baru 1 tahun di desk regional, keputusan itu disampaikan mendadak. Tapi beginilah dunia jurnalistik. Kita harus siap sedia bila kantor membutuhkan tenaga kita sewaktu-waktu. 

Setelah bergabung di desk multimedia, perusahaan kembali merotasi saya. Kali ini lebih mendadak lagi lantaran seorang senior memutuskan resign. Alhasil jadilah kebersamaan singkat saya tersebut mematahkan rekor Kabinet Dwikora II seperti yang sudah disinggung di atas.

Entah mengapa tahun 2021 ini saya lekat dengan kebersamaan yang singkat. Selain urusan desk alias pekerjaan, hubungan saya dengan seorang perempuan di Bali yang hanya tiga bulan juga harus kandas. 

Saya bersedih atas kehilangan yang beruntun tersebut. Seakan-akan dunia tak berpihak lagi pada saya. Tapi seperti kata orang, selalu ada hal yang bisa disyukuri dari segala duka. Pasti ada hikmah yang bisa dipetik dari setiap nestapa. Ada yang menggugah dalam suatu scene di film The Life of PI. Karakter utama si PI mengatakan hal yang menyentuh: ketika Tuhan seolah meninggalkan dan tak perduli pada nasib kita, sesungguhnya ia sedang menjaga kita. 

Atau ingatlah pula apa yang dikatakan Quraish Shihab pada Najwa: boleh jadi keterlambatanmu dari suatu perjalanan adalah keselamatanmu. Bisa saja tertundanya pernikahanmu adalah suatu keberkahan. Boleh jadi engkau membenci sesuatu tapi ternyata itu baik untukmu. Karena Tuhan maha mengetahui, sedangkan kita tidak mengetahui. 

Dan saya bersyukur, selalu ada teman-teman di sekitar yang mendukung tak perduli bagaimana kondisimu. Mereka senantiasa ada untuk mendengarkan. Sebuah uluran tangan yang sepele tapi sangat berarti. 

Kembali ke hal yang singkat-singkat, uluran tangan itu bisa berbentuk kesediaan menerima telepon di malam hari, atau menyaksikan matahari terbenam di BSD. 

Momen menyaksikan langit jingga itu sangat singkat. Tetapi amat berarti. Seolah, dalam tempo dua jam saja aura yang tersaji di sana mampu menghapus semua duka. Meski hanya sesaat. Sore-sore yang kita lewati itu jadi hal yang singkat daripada kebersamaan saya di desk multimedia.

Saya salah. Awalnya saya kira tak ada lagi hal yang lebih singkat. Ternyata, ada. Ini menyadarkan saya bahwa selalu ada langit di atas langit. Pun dengan seorang perempuan di Bali yang saya pikir tak ada yang lebih memukau dibandingkan dengannya. 

Semoga kelak suatu saat, saya dipertemukan dengan seorang perempuan yang lebih bersinar. Lebih dapat memahami. Juga lebih mengerti. Perempuan yang akan menghapus segala yang singkat-singkat dari hidup saya yang sesaat.

Read More

Rabu, 05 Agustus 2020

Timnas Bhutan dan Pentingnya Menangkap Serpihan Kebahagiaan di Sekitar Kita

Penduduk Bhutan seolah selalu punya mantra yang mampu mengubah serpihan kecil kebahagiaan menjadi energi besar yang berdampak luar biasa.

 

Bhutan, negara kecil di kaki Gunung Himalaya, terbiasa menyuguhkan kebahagiaan. Di Bhutan, arti sesungguhnya dari kebahagiaan bisa dipelajari, bahkan dari sebuah pertandingan sepak bola.

 

Pada satu pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Asia menghadapi Maladewa, penggawa Bhutan menunjukkan betapa kebahagiaan sebetulnya selalu ada di sekitar kita. Makna kebahagiaan senantiasa tergantung pada bagaimana kita menangkapnya.

 

Pertandingan yang saya maksud dihelat di Changlimithang Stadium di Kota Thimphu, Ibu Kota Bhutan, Oktober 2015. Pendukung Timnas Bhutan sudah menjejali seisi stadion beberapa jam menjelang sepak mula pertandingan. Riuh penonton kian menggema saat pemain kedua tim memasuki lapangan.

 

Dukungan tak hanya datang dari penonton, melainkan juga Sang Buddha. Iya, patung Buddha, lebih tepatnya. Di luar stadion, patung Buddha setinggi sekitar enam meter menjulang, wajah Buddha menatap ke arah lapangan. Telapak tangan patung Buddha itu mengarah ke arah dalam stadion, seolah memberikan ‘mertha’ atau doa restu bagi pasukan Bhutan. Namun, luapan dukungan itu tak membuat Timnas Bhutan mengawali laga dengan apik.

 

Gawang Hari Gurung sudah jebol secara prematur di menit ke-11. Pelakunya adalah Ahmed Nasid, pemain serang utama Maladewa. Mendapat sodoran bola lambung dari lini tengah, Nasid tak kesulitan mengarahkan bola melewati Gurung yang telanjur meninggalkan sarangnya. Seisi stadion sempat mengambil jeda sejenak, mereda dari sorak sorai, namun segera riuh kembali tak lama berselang.

 

Penderitaan Bhutan belum cukup sampai di sana. Sebab, 12 menit setelahnya gawang mereka kembali dibombardir Ali Ashfaq dengan enteng sebanyak tiga kali. Benar, saya tak salah tulis, tiga kali! Trigol Ashfaq tercipta dengan rincian dua kali di babak pertama, dan sekali di babak kedua. Tertinggal empat gol bukanlah situasi yang mengenakkan bagi Bhutan. Bagaimana pertanggung jawaban mereka kepada para suporter –dan bahkan Sang Buddha- yang telah mendukung mereka mati-matian?

 

Gurung yang menjabat kapten Bhutan di pertandingan itu tersenyum simpul. Ia menoleh ke arah tribun stadion yang atapnya lebih menyerupai atap kuil. Para pendukung Bhutan masih di sana. Mereka tidak meninggalkan bangku stadion lalu memilih pulang. Pendukung Bhutan bergeming, meski mereka tahu timnas mereka di ambang kekalahan telak.

 

Dalam kondisi tertinggal begitu jauh, toh, mereka tetap bernyanyi serta meneriakkan kata-kata yang membakar semangat pemain Bhutan. Para suporter, agaknya, hendak menunjukkan kepada pemain timnas Bhutan bahwa mereka tidak sendirian. “Penderitaan ini biarlah kita tanggung bersama”, mungkin demikian gumam para suporter Bhutan. Pada titik itulah saya melihat momen perjuangan kolektif sebuah bangsa dipertontonkan secara telanjang. Di tengah situasi sulit, mereka tak meninggalkan satu sama lain, tapi justru saling menguatkan.

 

Dan entah kenapa tampaknya dukungan tak putus-putus dari penonton itu seakan berubah menjadi mantra baru yang menyuntikkan energi kepada para pemain Bhutan. Benar saja, di pengujung pertandingan, para pemain Maladewa yang sudah siap kembali ke negara mereka dengan kemenangan mudah malah direpotkan oleh pemain Bhutan.

 

Tshering Dorji mengawali perlawanan balik Bhutan tersebut. Memanfaatkan bola liar di depan gawang Maladewa, Dorji dengan lihai menyepak bola yang gagal ditangkap secara sempurna oleh Imran Mohamed. Gol tersebut sontak membuat pendukung Bhutan kian bergemuruh. Sepakan Dorji mengawali semangat baru anak-anak Bhutan.

 

Sisa waktu coba dimanfaatkan pemain Bhutan untuk mengejar ketertinggalan. Mereka tampil kesetanan jelang laga berakhir. Pemain Maladewa mereka bikin kewalahan meladeni tusukan-tusukan tajam nan berbahaya.

 

Harapan itu terjawab di menit ke-88. Chenco Gyelthsen merobek jala Maladewa dan disusul dua menit setelahnya Biren Basnet melakukan hal serupa. Papan skor tak lagi timpang 0-4 melainkan berubah 3-4. Semangat pemain Bhutan mampu memangkas jarak yang sedemikian lebar dengan Maladewa.

 

Pemain Bhutan enggan takluk begitu saja, menolak kalah secara cuma-cuma. Anak-anak Bhutan tampil militan di menit-menit akhir, seolah tak rela membiarkan pemain Maladewa membawa pulang tiga poin dengan mudah.

 

Meski tak mampu menang atau minimal menahan seri Maladewa, skor 3-4 tersebut sudah lebih dari cukup bagi Bhutan. Maladewa, nyatanya, jauh berpengalaman dan memiliki materi pemain lebih baik dari Bhutan. Apalagi sebelumnya mereka sempat mengalami defisit hingga empat gol. Memberikan perlawanan sengit hingga mampu menceploskan tiga gol di menit-menit akhir pertandingan sudah dirasa seperti kemenangan bagi pemain Bhutan.

 

Semua raihan Bhutan di malam pertandingan itu tak lepas dari kontribusi pendukung setia mereka dan, tentu saja, restu Sang Buddha.

 

Alih-alih lempar handuk dan membiarkan Maladewa menang dengan mudah, anak-anak Bhutan memilih mengumpulkan serpihan-serpihan kebahagiaan yang dilemparkan para pendukungnya sepanjang pertandingan. Yel-yel dukungan serta sorak sorai menjadi lebih dari sekadar kata-kata penyemangat, tapi telah menjelma bagai sebuah kebahagiaan tak terpermanai bagi pemain Bhutan.

 

Situasinya seperti Anda berada pada sebuah kondisi mahasulit, yang mana satu per satu orang kepercayaan Anda mulai meninggalkan Anda. Di saat orang lain membiarkan Anda berkubang dalam masalah, pendukung Bhutan tetap tinggal dan menjadi semacam support system yang ajek. Mentalitas seperti itu tak mungkin diperoleh dari tipe masyarakat yang ‘ngambekan’ atau baperan. Sering kita lihat, di pertandingan besar sebuah liga elite eropa, suporter sebuah tim buru-buru cabut dari stadion lantaran tim kesayangannya bermain kelewat jelek.

 

Timnas Bhutan di awal-awal laga, bisa dilihat, bermain sama jeleknya. Bahkan mungkin lebih jelek dari kesebelasan Eropa itu. Namun, penduduk Bhutan bersetia, entah berapa kali gawang mereka kebobolan, pendukung Bhutan selalu bertepuk tangan menyemangati para pemain. Itulah sebentuk kecil kebahagiaan yang menyelinap di relung hati para pemain Bhutan.

 

Identik dengan kebahagiaan

 

Dalam persepktif dunia luar, Bhutan memang telanjur identik dengan kebahagiaan. Ini tidak lain berkat gagasan besar raja keempat Bhutan, Jigme Singye Wangchuck (1972-2006), yang enggan mengikuti arus utama dunia dalam mengukur kesejahteraan suatu negara. Ia tidak berpedoman pada gross national product (GNP) atau produk nasional bruto, pendapatan total ekonomi negara selama setahun.

 

Sang Raja telah menelurkan gagasan sendiri untuk negerinya, yakni gross national happiness (GNH). Ini adalah pendekatan pembangunan yang berkelanjutan dan holistik, yang mengharmoniskan aspek material dan non-material, demi kebahagiaan rakyat. Dari gagasan besar GNH inilah yang kemudian turun menjadi empat pilar prinsip pembangunan, yaitu konservasi lingkungan, preservasi dan promosi kebudayaan, keberlanjutan dan kesetaraan pembangunan sosial ekonomi, serta praktik pemerintahan yang baik.

 

Ide besar raja itu sebenarnya amat dipengaruhi filosofi ajaran Buddha dalam memaknai konsep kebahagiaan. Bhutan sendiri adalah negeri kerajaan Buddha Himalaya terakhir di dunia. Kini, setelah Bhutan dikenal di arena internasional, mereka tidak ragu untuk mempromosikan nilai-nilai warisan luhur itu kepada dunia.

 

Soal bagaimana memaknai kebahagiaan, ada penjelasan sederhana, yaitu suatu kondisi batin yang terbebas (atau setidaknya berjarak) dari rasa menderita. Dan, itu dapat dimulai dengan melatih kesadaran atau mindfulness, kasih sayang atau compassion, kesabaran, kebaikan hati, dan kekosongan atau emptiness. Latihan meditasi menjadi metode yang signifikan untuk mengembangkan kemampuan tersebut.

 

Kembali ke pertandingan menggugah tersebut, laga antara Bhutan dan Maladewa agaknya bisa kita gunakan untuk sedikit melihat bagaimana cara orang Bhutan memaknai kebahagiaan, walau untuk hal yang remeh sekalipun. Kebahagiaan, bagi orang Bhutan, jauh dari sekadar petantang-petenteng mengagung-agungkan privilese.

 

Lebih dari itu, kebahagiaan menurut mereka adalah bagaimana bereaksi terhadap masalah dengan itikad tulus untuk mengubahnya menjadi kebaikan bersama.

 

Read More

Follow This Blog