Minggu, 02 Juni 2013

Kilas Balik PKL Perbandingan Administrasi Negara

Surabaya! 
Akhir Mei 2013 kemarin tibalah hari yang ditunggu-tunggu (hampir) seluruh mahasiswa Administrasi Negara (AN) Universitas Airlangga (Unair). Selama tiga hari kedepan dari tanggal 30 Mei sampai tanggal 1 Juni 2013 seluruh mahasiswa AN Unair yang mengambil mata kuliah Perbandingan Administrasi Negara akan melaksanakan Praktek Kuliah Lapangan (PKL) di Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Kalo biasanya mahasiswa sering ngerasa males atau sumpek dengan hal-hal yang berbau kuliah maka PKL kali ini adalah kebalikannya, kenapa? Ya karena PKL lebih mirip jalan-jalan daripada belajarnya. Hehe.. tapi memang seperti itulah kejadian yang sebenarnya  ketika kami tiga hari terjun ke lapangan (bukan lapangan sepak bola woi!) kebanyakan diantara kami semua menghabiskan waktu bermain lebih banyak daripada menggali informasi selengkap mungkin dari masyarakat untuk keperluan data dalam menyusun laporan PKL nanti. 

Jangan salah kaprah, meskipun waktu kami lebih banyak dimanfaatkan untuk jalan-jalan, main kartu, bercanda, tapi kami nggak lupa akan tujuan kami ke Malang, dan apabila kami sudah selesai wawancara dengan tokoh masyarakat dan selesai menyebar kuisioner ke warga sekitar barulah kami bermain sepuas hati sampai larut malam itung-itung sebagai acara untuk lebih mengakrabkan diri dengan teman-teman. PKL kali ini terasa sangat istimewa bagi kelompok saya karena selain ini merupakan kuliah lapangan pertama bagi kami, saat PKL kami kebetulan diberi tiket gratis masuk kawasan wisata Selecta yang kebetulan juga sangat dekat dengan homebase kelompok saya menginap. Orang baik hati yang memberikan tiket tersebut adalah salah seorang informan kami dalam PKL yaitu Bu Misty. Beliau adalah seorang kepala dusun wanita, ya Bu Misty adalah Kepala Dusun Kekep yang kami wawancarai untuk mengetahui bagaimana sistem pemerintahan di Dusun Kekep khususnya dan Desa Tulungrejo pada umumnya. 

Setelah melalui tiga hari yang menyenangkan di Malang, pada hari terakhir adalah saatnya kembali ke habitat asal kami. Rasa haru pun sedikit menyeruak di benak kami manakala harus berpamitan kepada Abah danUmi, pasangan suami istri pemilik rumah tempat kelompok kami bermalam selama PKL. Abah merupakan mantan kepala desa dan menjabat selama hampir dua puluh tahun di Desa Tulungrejo, yah bisa dibilang Abah adalah salah satu warga paling senior di sana .Selama tinggal di rumahnya pula Abah memberi banyak nasehat kepada kami tentang bagaimana seharusnya kami menjalani kehidupan agar menjadi orang yang berguna kelak, menjadi mahasiswa yang sukses dan berbakti pada orang tua. Terima kasih banyak Abah dan Umi atas nasehat dan segala kemudahan yang diberikan kepada kami selama kami mengikuti rangkaian kegiatan PKL, semoga Tuhan membalas kebaikan Abah dan Umi. Astungkara..

Bis yang akan mengantar kami kembali ke Surabaya pun sudah menanti di depan pintu gerbang kantor Kecamatan Bumiaji. Sebagian dari kami ada yang kembali ke Surabaya menggunakan motor pribadi sehingga kondisi bis agak kosong dan untungnya itu memberikan keuntungan tersendiri ke saya karena saya bisa melewatkan perjalanan panjang dari Malang ke Surabaya dengan tidur2an di jok bis. Hahahaha....
Perjalanan ke Surabaya yang biasanya hanya memakan waktu kurang lebih tiga jam dari Malang kali ini molor hingga satu jam karena macet di daerah Kepanjen dan macet berlanjut lagi hingga di pintu keluar tol Surabaya-Sidoarjo. Lama-lama di bis pun tak pelak membuat saya kedinginan juga akibat Pak Supir yang menghidupkan AC terlalu kencang.

Akhirnya tepat pukul delapan malam rombongan kami pun tiba di Kampus B Unair, setelah melewati tiga hari yang cukup melelahkan sekaligus menyenangkan di Malang mampu memberikan kesan tersendiri bagi semua mahasiswa AN Unair pada malam itu. 
Demikian postingan saya kali ini, semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita semua dan sampai jumpa di PKL berikutnya.
Read More

Rabu, 29 Mei 2013

Teror Film Horor

Minggu-minggu ini bisa dibilang minggu-minggu 'Peak' bagi mahasiswa, khususnya para mahasiswa perantauan di Surabaya yang berasal dari Bali dan tinggal di sebuah asrama milik Pemprov Bali bernama Asrama Mahasiswa Bali "Tirtha Gangga". Minggu puncak dimana banyak tugas dan PR yang datang silih berganti bak kedatangan salesmen door to door yang  kehadirannya di rumah kita masing-masing tidak pernah diharapkan. 

Sore itu selepas pulang kuliah seperti biasa kami menggelar acara Bioskop Kamar Curut (BKC) Curut adalah nama anggota asrama yang kamarnya sering kami satroni untuk dijadikan homebase nonton film, ya bisa dibilang ini adalah ajang nonton film bareng anak asrama dan biasanya kami memutar film-film horor produksi negeri gajah putih yang masih tetangga'an dengan Indonesia. BKC seperti biasa dimulai agak malam selepas kami selesai mandi dan makan, lalu saya putar film yang sudah disiapkan. saat sedang asik nonton film horor (saya bener-bener terhanyut dan menghayati film horor tersebut sampai terkencing-kencing saking takutnya) dan pas lagi pertengahan film saya dan kawan-kawan yang sedang nonton diberi tahu bahwa ada satu teman kami yang mendadak sakit dan sekarang sedang dibawa ke Rumah Sakit (RS) Haji untuk didiagnosa ia sedang terkena penyakit apa. alhasil kami yang sedang seru-serunya nonton film pun merelakan waktu kami nonton untuk menyusul kawan kami yang namanya Nyaplir (dalam Bahasa Bali, Nyaplir itu bisa berarti meleset atau tidak tepat sasaran, Hahaha) ke RS. Haji.

Singkat cerita sesampainya di RS. Haji kami langsung mendapat kabar bahwa Nyaplir positif terkena Demam Berdarah (DB) lalu kami pun bergegas mencari di kamar mana Nyaplir dirawat. Teror psikologis terjadi mulai saat itu, kami yang baru saja menonton film horor masih terbayang dalam bayangan kami sosok hantu yang kami tonton barusan, apalagi di rumah sakit tersebut kami menggunakan lift untuk naik ke lantai atas tempat kamar Nyaplir. Alhasil kami pun menjadi phobia mendadak akibat ke rumah sakit sehabis nonton film horor yang ada hantu wanita di lift. Ketakutan kami makin menjadi-jadi saat kami ternyata keliru naik lift yang seharusnya kami naiki di ujung koridor rumah sakit. Lift yang salah kami naiki tersebut malah membawa kami ke sebuah lantai yang gelap dan lampunya mati semua, hanya ada sedikit cahaya dari gedung seberang yang menembus lewat sela-sela kaca. Keringat dingin pun mulai keluar dan mulut kami komat-kamit membaca Gayatri Mantra kalau-kalau hantu yang kami saksikan di film tadi muncul persis di hadapan kami. Unik memang kami terbawa ketakutan yang luar biasa, sebelumnya saya apabila bepergian ke rumah sakit pada tengah malam seperti itu tidak pernah ketakutan seperti sekarang ini, yah beginilah efek dari nonton film horor :p.

Pada akhirnya tidak ada apapun yang terjadi pada kami dan kami semua sampai di kamar Nyaplir dengan selamat. Teman-teman lain yang menunggu kedatangan kami di kamar Nyaplir pun tertawa terbahak-bahak mendengar betapa pengecutnya kami. Sial memang sudah ketakutan setengah mati, lalu malah diketawain pula. Last but not least sebelum saya akhiri tulisan ini, saya punya sedikit pesan bagi yang membaca tulisan ini : "Menonton film horor sebelum pergi ke rumah sakit tengah malam itu adalah sebuah KESALAHAN"
Read More

Sabtu, 27 April 2013

Hari Raya Nyepi, dari, Oleh, dan Untuk Indonesia

Beberapa saat yang lalu umat Hindu di Indonesia baru saja merayakan pergantian Tahun Saka, dimana sekarang Tahun Saka sudah memasuki angka ke 1935. Sudah ribuan tahun lalu sejak Aji Saka dari India pertama kali menginjakkan kaki di tanah Jawa yang berarti saat itu pula penanggalan tahun caka dimulai.
Masyarakat Hindu di Indonesia memaknai perayaan Nyepi ini sebagai momentum untuk merenung, introspeksi diri, serta memohon kepada Ida Shang Hyang Widhi Wasa agar tahun-tahun berikutnya bisa lebih baik daripada tahun sebelumnya. Berbeda dengan kebanyakan perayaan pergantian tahun oleh sejumlah keyakinan yang ada di dunia, perayaan pergantian tahun caka tidak diwarnai dengan hura-hura, pesta, ataupun menggelar acara yang semeriah mungkin hingga konvoi serta berbagai macam kegiatan lainnya yang identik dengan hedonisme. Perayaan pergantian tahun oleh umat Hindu mungkin merupakan satu-satunya di muka bumi ini yang jauh dari hiruk pikuk serta kegiatan-kegiatan bersenang-senang seperti kebanyakan kegiatan pergantian tahun misalnya pergantian tahun baru gregorian atau masehi, pergantian tahun baru Imlek, dan perayaan tahun baru Songkran menurut penanggalan di Thailand. Kesemua perayaan pergantian tahun yang telah disebutkan tadi diisi dengan sederet kegiatan meriah untuk menyambut datangnya lembaran baru di tahun yang baru.
Jika ditilik lebih dalam mengenai peringatan Hari Raya Nyepi yang penuh dengan kesunyian dan ketenangan patutlah kita sebagai umat Hindu berbangga hati karena dengan turut merayakan Nyepi bersama jutaan umat Hindu yang ada di Indonesia itu berarti kita telah melakukan suatu langkah nyata penyelamatan terhadap Bumi tempat kita tinggal. Disadari atau tidak dalam sehari perayaan Nyepi kita umat Hindu telah memberikan kesempatan kepada Ibu Pertiwi untuk beristirahat dan memberikan ruang baginya untuk sejenak menghela napas dari keseharian  yang penuh polusi, pemborosan Sumber Daya Alam (SDA). Inilah salah satu dedikasi Hindu untuk alam, kita adalah aktivis yang “tidak disadari” telah melakukan tindakan nyata untuk membuat bumi ini tetap terjaga keindahan dan kelestariannya. Berkaitan dengan sejumlah kerusakan alam di Indonesia, umat Hindu di Nusantara berusaha mengasihi alam dengan caranya sendiri.
Perayaan Nyepi sudah sangat melekat erat dengan umat Hindu di Bali. Untuk tahun-tahun kedepan diharapkan perayaan Nyepi bukan saja kearifan lokal dari masyarakat Bali saja, umat Hindu di Indonesia tersebar dari Sabang sampai Merauke dan tidak hanya di Bali, Nyepi sebagai salah satu hari raya besar nasional kedepannya semoga bisa menjadi milik semua masyarakat Indonesia dan kearifan masing-masing daerah bisa disatukan melalui peringatan Nyepi. Dalam perayaan Nyepi terkandung ajaran untuk tidak larut dalam kesenangan yang berlebihan, ajakan untuk mencintai alam beserta isinya, dan selalu mengintrospeksi diri sendiri agar menjadi pribadi yang menyenangkan bagi orang lain. Bukan hal yang mustahil apabila nilai-nilai dalam Nyepi bisa menyatu dengan berbagai kearifan lokal di berbagai daerah yang membentang di Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung dalam perayaan Nyepi bukan hanya boleh dilakukan serta dimiliki oleh umat Hindu saja, namun tiap individu sejatinya bisa mensinergikan dan menyatukan prinsip-prinsip perayaan Nyepi dengan kearifan lokal yang berkembang atau ada di masing-masing daerah di Indonesia agar ajaran yang terkandung dalam Hari Raya Nyepi dapat diterima secara luas oleh masyarakat Indonesia sehingga akan meminimalisir terjadinya miskomunikasi serta mispersepsi mengenai perayaan Nyepi antar umat beragama.
  Untuk mencapai semua itu diperlukan kemauan, sebab disetiap ada kemauan pasti di sana ada jalan. Menyatukan kearifan lokal serta melestarikan lingkungan bukan masalah berhasil mencapainya atau tidak, tapi ini menyangkut mau atau tidaknya kita melakukan langkah-langkah kongkrit untuk meraih tujuan tersebut dan perayaan Nyepi tiap tahunnya semakin menguatkan kesadaran kita untuk terus menjaga nilai-nilai lokal yang ada di Indonesia serta keberlangusungan alam semesta, karena Nyepi sedari dulu memang dari, oleh, dan untuk Indonesia.
Read More

Jumat, 19 April 2013

Sekelebat Bayangan Kampung Halaman

Jumat, 19 April 2013....

Ditengah kesibukan mengikuti Ujian Tengah Semester genap ini, disaat materi kuliah seakan membuat pecah otak dan kepala, diantara setumpuk masalah di asrama dan kesunyian kamar 4X3 meter ini entah kenapa pikiran saya tertuju ke kehidupan menyenangkan di rumah. kehidupan yang hangat, segar... Sudah 194 hari sejak semester genap ini bergulir tidak sekalipun saya pernah menginjakkan kaki di halaman rumah. Tidak seperti biasanya saya begitu merindukan aura kamar rumah, sambutan Ajik dan Ibu di rumah serta candaan adik-adik di sana. Mungkin karena pengapnya suasana di tanah rantauan.. mungkin di asrama ini tidak ada sosok teman, mungkin karena tiada lagi tegur sapa diantara penghuni asrama ini. Yang pasti semua kondisi ini  sangatlah mendorong keinginan kembali pulang sangat besar. 

Ingin rasanya segera pulang... segera menghilang... merasakan sejenak damainya kehidupan di rumah agar diri ini tidak seterusnya memikul masalah demi masalah.
Read More

Follow This Blog