Jumat, 29 Mei 2020

Ketika Ayah Mencari Nafkah


 

Ini adalah cerita dua orang dari generasi berbeda. Roda kehidupan membawa kisah keduanya kembali terulang. Kisah yang sama saat mencari nafkah

 

Kembali sekali lagi saya duduk di teras Balai Kota Tangerang Selatan di siang yang terik. Rutinitas ini telah saya lakoni kurang lebih selama empat bulan sejak kantor memindahkan saya ke kota kecil di barat daya Jakarta.

 

Siang itu saya tidak sendiri, di sebelah saya juga berjejer rekan rekan sesama pemburu berita. Mereka, bersama saya, tentunya menanti kapan agenda wali kota akan dimulai. Sambil mengisi waktu, kami bercanda, mengobrolkan apa saja. Mulai dari corona hingga kasus begal remaja.

 

Tiada satu hari pun kami lewatkan dengan perbicangan mengenai isu-isu hangat di kota itu. Begitulah hari-hari saya selama tiga tahun belakangan. Bangun pagi, berangkat ke lokasi liputan, ngobrol dengan teman-teman, mewawancarai narasumber –yang kebanyakan pejabat dan orang penting di kota ini- kemudian menuliskannya menjadi berita.

 

Saya senang sekaligus kadang merasa lelah menjalani rutinitas ini. pernah suatu ketika terpikir untuk ganti pekerjaan namun yang saya bisa hanya menulis. Saya tak pernah cocok menjadi pegawai kantoran. Pekerjaan idaman bagi seluruh mertua di kolong jagat.

 

Lambat laun menjalani pekerjaan ini, saya jadi teringat apa yang ajik (ayah) saya lakukan ketika saya masih kecil. Sebagai tulang punggung keluarga, ajik setiap hari menghabiskan waktu menyapa turis-turis asing di tepi pantai sanur. Pagi-pagi sekali ia berangkat, dan pulang menjelang malam hari.

 

Seperti yang saya jalani, ia juga menanti turis bersama teman-temannya. Bedanya, saya menanti narasumber. Dapat atau tidak, kantor tetap membayar saya setiap bulan.

 

Sedangkan ajik, ia menanti turis yang lewat. Ketika tidak ada turis yang bisa diantar keliling Bali, di titik itu artinya tidak ada penghasilan bagi keluarga kami.

 

Biasanya ia menawarkan jasa transportasi. Siap mengantar turis asing itu pergi ke manapun menggunakan mobil toyota kijang butut, harta pertama yang ia beli bersama ibu ketika awal-awal menikah.

 

Good afternoon, transport, please?” kata ajik setengah berteriak menawarkan jasa transportasi. Tangannya memperlihatkan pose tengah memegang kemudii mobil. Rutinitas itu ia jalani berulang-ulang dan tentu saja tidak ada hari libur baginya.

 

Hari ini, 29 Mei 2020, Ajik berulang tahun ke-52. Saat yang matang untuk masuk ke usia senja. Tentu saja kini ia tak perlu lagi menanti turis di tepi jalan. Anugrah Hyang Widi membawa kehidupan keluarga kami menjadi jauh lebih baik. Tidak lagi sesulit dulu.

 

Mungkin yang ia harapkan kini hanya menimang seorang cucu pertama dari kami, ketiga anaknya. Sebelum itu terwujud, minimal kami bisa mengucapkan selamat ulang tahun. Semoga Ida Sang Hyang Widi Wasa senantiasa melimpahkan karunia dan umur yang panjang. Dengan begitu, ajik masih punya kesempatan untuk melihat kami berjuang dan membawa cucu masing-masing.

Read More

Senin, 29 Mei 2017

Bertahan di Tengah Lesunya Industri Gula Nasional

Nasib petani tebu dan industri gula nasional memasuki pertengahan tahun 2017 ini sedang berada dalam kondisi yang kurang menggembirakan. Laporan Kompas tanggal 15-17 Mei 2017 mengungkapkan perhatian pemerintah terhadap budidaya komoditas ini rendah. Pendapatan petani tebu anjlok, bahkan produktivitas industri pengolahan berbahan baku tebu merosot. Namun, di tengah kelesuan itu, Pabrik Gula (PG) Madukismo di Bantul, Yogyakarta dapat bertahan di tengah kondisi sulit.

PG Madukismo menjadi penyintas di tengah kondisi sulit di saat pabrik gula lain telah gulung tikar. Tahun 2017 ini tercatat ada tiga pabrik gula di Situbondo, Jawa Timur, yang terancam ditutup. Ketiga pabrik tersebut, yaitu PG Pandji, PG Wringin Anom, dan PG Olean (Kompas, 12/5/2017). Kondisi yang tak jauh berbeda juga terjadi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Sejak dua tahun terakhir, luas lahan dan produksi tebu di Jawa Tengah terus merosot. Penyusutan lahan disebabkan sebagian besar petani beralih menanam komoditas lain (Kompas, 17/5/2017).

Penyusutan lahan produksi tebu secara otomatis menyebabkan produksi tebu menurun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah menyebutkan produksi tebu tahun 2014 sebanyak 332.343 ton turun menjadi 250.698 ton pada tahun 2015. Belum lagi ditambah dengan persoalan anomali cuaca, lambannya revitalisasi pabrik gula, penyimpangan gula impor, perubahan mekanisme kredit petani, dan pembatasan alokasi pupuk bersubsidi (Kompas 15/5/2017).

Di tengah setumpuk persoalan industri gula nasional, PG Madukismo nyatanya tetap melaju kencang. Asap pabrik terus mengepul memproduksi ratusan ton dan ribuan karung gula setiap harinya. Bisnis pabrik gula tertua di Yogyakarta itu terus berkembang. Tidak hanya memproduksi gula, tapi juga alkohol murni, spiritus bakar. PG Madukismo bahkan memiliki beberapa penginapan. Jumlah karyawannya pun saat ini mencapai 4.500 orang.

Public relation PG Madukismo, Mahmud, yang ditemui pada Senin (15/5/2017) mengakui sejumlah pabrik gula di Yogyakarta telah tutup akibat lesunya industri gula di Jawa Tengah dan Yogyakarta. PG Madukismo yang berdiri sejak tahun 1955, menurut dia, dapat bertahan karena beberapa hal.

“Meski kami ini bukan BUMD, tapi kami tetap dapat bertahan hingga kini. Salah satu kuncinya adalah, PG Madukismo memosisikan petani tebu sebagai mitra. Bukan alat produksi. Sehingga antara Madukismo dan petani tebu ada hubungan yang saling menguntungkan,” ujarnya tanpa menjabarkan lebih detail bagaimana hubungan saling menguntungkan antara PG Madukismo dengan petani tebu.

Selain hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara petani tebu dan PG Madukismo, Mahmud mengatakan, Keraton Ngayogyakarta berperan besar dalam kemajuan pabrik gula ini. Peran keraton yang dia maksud ialah soal penyertaan modal keraton di PG Madukismo.

“Keraton juga punya andil di pabrik ini. 65% saham perusahaan ini dimiliki keraton. Sisanya sebanyak 35% dipegang PT Rajawali Nusantara,” kata Mahmud. 
Read More

Rabu, 29 Juli 2015

Asrama Tirtha Gangga, Our Second Family

Siang hari yang mendung di bulan November ini aku pengin memperkenalkan keluarga keduaku di perantauan. Daripada hanyut dalam kegalauan yang dibawa oleh angin dan mendung ini mending posting tentang keluarga keduaku ini. ya nggak? hehe..

Seperti yang udah aku tulis di edisi postingan sebelumnya, selam kuliah di Universitas Airlangga Surabaya, aku tinggal di sebuah asrama mahasiswa milik Pemprov Bali. Di sana bernaung mahasiswa-mahasiswa dari Bali yang kuliah di Surabaya. Mereka berasal dari berbagai daerah di Bali seperti Karangasem, Bangli, Denpasar, Gianyar, Badung, Klungkung, Tabanan, Buleleng, dan Sanur (aku dari Sanur coy!) hahaha...

Di postingan kali ini akan aku kenalin siapa aja sih keluarga kedua aku itu. Yuk kita simak tulisan ini lebih lanjut.

Yang pertama aku kenalkan ketua asrama kita saat ini, namanya I Made Bayu Kurniawan. Orangnya polos, ganteng, pinter, setia (Kurniawan, 2013). Asalnya dari Tabanan, sekarang sedang menempuh pendidikan S1 Statistika di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Tabanan dia punya cewek yang setia nunggu dia pulang (baca: pacar). Di Surabaya hobinya adalah buka cabang (cari pacar baru) katanya biar pulang ke Bali ada yang nemenin dan di Surabaya pun juga biar ada. Di asrama udah jadi kebiasaan dari jaman dulu untuk ngasi nama baptis ke anggotanya. Biasanya nama baptis itu jelek-jelek, kalo enggak nama hewan ya nama makanan, kalo enggak nama makanan ya nama anggota badan, kalo enggak nama anggota badan ya nama bumbu-bumbu dapur. Begitu seterusnya. Nah kebetulan I Made Bayu Kurniawan dapet nama baptis yang lumayan bagus: "Angon" yah nggak jelek-jelek amatlah daripada dikasi nama hewan atau bumbu dapur. hehehe....

                          Pulang ke Bali dengan naik bis dan menyupiri bis sendiri biar irit di ongkos
                                               


Prestasi terbesar Angon kala umur lima tahun, bisa berfoto bareng jagoan idolanya Saras 008 yang lagi ngetrend di era 90'an

Kebetulan Angon adalah teman sekamar saya, biasanya sih kalo ada masalah-masalah di kampus atau masalah percintaan yang mandek aku curhatnya ke Angon. Nggak cuma itu, permasalahan keuangan pun kalo diomongin ke Angon bisa terselesaikan dengan baik. Hahahaha.. makasih ya Ngon pinjaman uangnya. Tanggal tua nih.

Nama : Angon
Almamater : ITS Jurusan Statistika 2010
Asal : Tabanan
Hobi : Buka cabang.

Yang kedua ada wakil ketua asrama, nama aslinya adalah Nyaplir (meleset), nama palsunya adalah I Dewa Gede Gargitha Provitayana. Dia berasal dari Gianyar, dulu sekolah di SMA N 1 Gianyar. Nyaplir ini orangnya aktif berorganisasi, suka olahraga, dan paling gentle seantero asrama. Bisa dibayangin tiap dia jalan pasti posturnya tegap.

 Nyaplir, tersenyum sesaat sebelum bersiap lompat ke jurang

3 tahun yang lalu saat rambutnya masih lebat, sekarang sudah mulai sirna satu persatu.

Nama : Nyaplir
Almamater : ITS Jurusan Kimia 2011
Asal : Bitera, Gianyar.
Hobi : Futsal

Selanjutnya ada A.A Putu Santiasa Putra, well, doi sebenernya udah lulus kuliah dari Universitas Airlangga (Unair) bulan Oktober lalu. Tapi karena masih ada beberapa project film yang masih diurus maka de'e masih sering tinggal di asrama. Bisa dibilang orang terkreatif di asrama adalah dia. Jika disuruh milih peribahasa yang tepat untuk disematkan ke dia, aku bakal milih "Tak ada rotan, akar pun jadi".
Read More

Rabu, 02 Juli 2014

From Surabaya With Care

Pada tulisan kali ini, saya akan memberikan pandangan mengenai dua kejadian pahit dan menyedihkan yang baru saya alami.

Tak terasa sudah hampir tiga tahun saya berpetualang di Surabaya untuk menimba ilmu. Semenjak kelulusan saya dari Sekolah Menengah Atas (SMA) 2011 silam, banyak pengalaman berharga yang sudah saya dapatkan dalam waktu yang cukup singkat ini. Secara pribadi saya merasa ada peningkatan dalam aspek kognitif selama saya menimba ilmu di Kota Pahlawan. Dengan banyaknya teman-teman baru dari berbagai daerah di Indonesia disadari atau tidak telah mampu menambah atau memperkaya perspektif saya terhadap segala hal sentimentil yang ada di kehidupan ini. Yang ingin saya sampaikan di sini adalah pentingnya bagi kita untuk memperkaya pandangan atau perspektif di era yang semakin dinamis ini. Kita tidak dapat hanya mempunyai satu perspektif dalam memandang suatu hal. Seperti yang Prof. Rhenald Khasali pernah utarakan, "Belajarlah memandang segala sesuatu dari berbagai perspektif."

Selama hampir tiga tahun menetap di Surabaya, saya senang sekali sudah berhasil meraih berbagai pencapaian diantaranya juara di berbagai kompetisi menulis ilmiah dan kompetisi dengan berbasiskan disiplin ilmu yang sedang saya geluti sekarang. Punya banyak teman, meraih prestasi, dan perspektif yang makin kaya adalah hal yang tidak ternilai bagi saya dan saya sangat berterima kasih serta bersyukur kepada Ida Shang Hyang Widhi Wasa atas bimbingan dan anugerahnya hingga saya bisa memperoleh berbagai hal indah dalam kurun waktu tiga tahun ini.

Seperti konsep wastra poleng (kain hitam-putih) di Bali yang mengajarkan bahwa hal buruk dan baik senantiasa berdampingan dan saling mengisi, saya pun tidak terhindar dari hukum alam tersebut. Di samping beberapa hal baik yang saya peroleh selama di Surabaya, saya pun mengalami beberapa rentetan nasib buruk dan menyedihkan di sini. Kemalangan pertama yang baru-baru ini saya alami adalah pada pertengahan bulan Juni ini saya mengalami musibah kehilangan gadget iPhone kesayangan. Menyedihkan sekali, mengingat ponsel pintar itu genap sudah setahun lalu Ajik (Ayah) membelikannya untuk saya. Kehilangan itu pun karena kecerobohan saya sendiri dan saya tidak ingin mengungkit kehilangan itu lebih jauh. Saya menjadikan kehilangan ini sebagai pelajaran yang teramat penting dalam hal menjaga barang berharga terutama di kota besar yang sangat rawan dengan aksi pencurian.  

Lebih lanjut, kurang dalam kurun waktu seminggu, kejadian menyedihkan lainnya menghampiri. Berita mengejutkan datang dari kawan -mungkin saya lebih pantas menyebutnya sahabat- lama saat SMA dulu. Namanya Gus Adi, dan ia merupakan salah seorang kawan dekat yang sudah saya anggap saudara saya sendiri. Kami terbiasa bepergian bersama, menjalani berbagai hal dan sudah lama mengenal satu sama lain sejak pertama kali kami dinyatakan lulus ujian masuk SMA. Banyak hal menyenangkan yang sudah saya lewati bersama ia dan teman-teman lainnya. Berita mengejutkan itu ternyata berita duka yang menyampaikan bahwa Ayahanda dari Gus Adi telah berpulang dan jujur saya sangat terkejut dengan berita tersebut. Setahu saya ayah dari Gus Adi adalah pria yang enerjik dan penuh semangat. Ia merupakan ayah yang baik dan setiap anak di dunia pasti mendambakan memiliki ayah seperti ayah Gus Adi. Dukungannya dalam menjadikan Gus Adi seorang calon dokter merupakan hal yang paling saya kagumi.

Sebagai kawan dekat tentu saya turut berduka cita yang amat dalam atas kepergian ayahanda dari Gus Adi. Air mata saya tidak terasa menetes setelah mendengar berita itu. Ingin rasanya saya segera berkemas menuju Denpasar untuk mengucapkan bela sungkawa dan memberikan dukungan moril kepadanya setelah kenyataan pahit yang harus ia alami. Tapi apa daya dengan jadwal kuliah yang masih padat ditambah dengan saat ini saya mulai memasuki musim Ujian Akhir Semester menghalangi niat saya untuk pulang. Dengan berat hati dan rasa kecewa karena tidak bisa secara langsung menyampaikan rasa duka cita, akhirnya malam ini saya berinisiatif untuk menelepon Gus Adi dan memberikan motivasi serta dukungan dan semangat baginya untuk tetap mengarungi kehidupan. Saya selalu katakan padanya, "Kamu tidak sendirian". Kami sebagai temanmu senantiasa ada di saat kamu memerlukan kami.

Itulah berbagai rentetan hal buruk yang saya alami di pertengahan tahun 2014 ini. Mungkin benar kata leluhur saya yang pernah mengajarkan filsafat wastra poleng kepada saya. Filsafat dari wastra poleng sendiri adalah seberapa pun bahagia yang kita rasakan, segitu pula kesedihan yang akan kita alami. Sementara seberapa pun kesedihan yang kita rasakan maka kebahagiaan yang setara pun juga akan kita rasakan. Inti dari filsafat ini adalah keseimbangan kehidupan (balanced life). Orang Bali senantiasa menjaga keseimbangan dalam kehidupan mereka sehari-hari, hal ini dijabarkan dalam konsep Tri Hita Karana dalam kehidupan masyarakat Bali. Kembali kepada topik tentang kejadian menyedihkan yang baru saya alami, saya sendiri harus dewasa dalam menyikapi berbagai kejadian buruk dan tidak mengenakkan yang baru saja saya alami. Ini adalah proses untuk mendewasakan diri dan saya menganggap kejadian ini juga upaya dari Tuhan untuk lebih meningkatkan rasa mawas diri sekaligus memperkaya pandangan atau persepektif seperti yang sudah saya tuliskan di awal.

Mengingat filosofi wastra poleng, saya berharap setelah gelap ini akan terbit terang yang akan bersiap meyapa di ufuk. Bukankah orang Jepang dengan ritual minum tehnya (Shodou) mengajarkan kita semua bahwa hidup itu berkenaan dengan hal-hal pahit (perjuangan, kerja keras, dll) yang tercermin dalam teh yang rasanya sangat pahit, kemudian akan berganti dengan rasa manis -kue-kue manis yang disajikan setelah upacara minum teh- setelahnya. Ya, ini memang suatu fase hidup yang kadang kita berada di bawah dan kadang juga kita berada di atasnya. 

Read More

Follow This Blog