Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2022

Horizon

“Coba buka jendelamu, di sana hanya horizon tak bertuan. Hanya horizon.” 

Saya mendengar kalimat itu berdengung konstan di kepala secara mendadak. Entah siapa yang pernah mengucapkannya. Bisa jadi itu isi kepala saya sendiri yang terus merapal kalimat itu bagai mantra. 

Saya teringat senja di foto itu, sepotong sore di Uluwatu, suatu waktu di bulan Agustus 2014. Foto itu diambil pada satu titik yang mungkin tak tertera di GPS. Saya membuka jendela kamar dan hanya ada cakrawala tanpa batas. Siapa yang bisa melukis jingga sepuitik itu, sering saya membatin demikian. 

Setiap memandang horizon, saya tertegun juga merasakan betapa banyak yang boleh saya lalui. Terkadang ini lebih aneh dan ajaib dari sebuah kisah fiksi sekalipun. Di sebuah fase dalam hidup, sering kamu melihat semua yang datang dan membanjiri pasti selalu berlalu. Sebut saja semua kepedihan juga keriaan, semua akan berlalu. Jangan-jangan saya jadi lebih mirip jalanan Jakarta yang tetap kokoh disapu banjir yang akan surut pada waktunya. Tapi saya tidak mau disamakan dengan Jakarta. 

Di setiap senja di kota asing selalu ada yang berubah. Orang-orang yang kau temui, mereka adalah api, jarum, air, tanah, payung, telaga, kerupuk, plastik, apapun yang membuatmu sadar. Mereka dengan cerita yang beragam pun seringkali dengan sinisme yang pekat. Mereka semua bagian ceritamu. Ada satu masa ketika kau mencoba tidak menghakimi apapun, bahkan menghakimi mereka yang menghakimi orang lain. 

Ada masa kau melihat potret yang lebih besar dan kau merasa tidak ada yang perlu disalahkan. “Kamu akan melihat potret yang lebih besar. Tapi ketika kamu sudah di usiaku ya, bersabarlah,” kata seorang teman suatu ketika. 

Saya  ingat ucapan kawan yang berusia delapan tahun lebih tua itu. Ya, mungkin di masa itu ketika saya dengan sepenuh hati percaya dunia ini memang pincang, berpeluh, penuh luka, tetapi juga punya selaksa horizon yang mempertemukanmu dengan banyak kisah luar biasa. Maka, saya pun membuka jendela. Hanya horizon di sana, hanya horizon.
Read More

Selasa, 18 Januari 2022

Angin

Angin menerbangkan segala, tetapi tidak kenangan. Dan, di sanalah aku meraba kembali yang pernah terjadi. Mungkin kau juga terlempar ke masa lalu ketika semua terasa begitu baru. 

Malam tampak begitu cepat turun di tempat ini, secepat kabut-kabut. Kita saling bicara tentang apa saja, sebagai manusia dengan masa lalu yang misterius. 

Kota-kota di semua benua seakan meluncur dari mulut kita dan kita seakan berada di sana. Tetapi kita di sini, di sebuah tempat yang mungkin terlupakan di peta. 

Kita menjalin kenangan hari ini dan mencoba mendamaikannya dengan masa lalu yang beku. Adakah semua berhasil? Aku tak tahu. 

Mungkin semua awalnya seperti sebotol soda dingin yang menyegarkan tenggorokan. Perlahan, semua buih menghilang dan hanya pahit yang terasa. Kita bertemu untuk saling berpisah. Kita mengenal untuk saling melupakan. Mungkin karena itu pula, aku tak menyibak semua rahasia, karena semuanya akan terasa sia-sia. 

Ribuan detik setelah masa itu, angin masih bertiup. Aku menengok masa lalu dan kau mungkin menyongsong masa depan. Kita tidak pernah bertukar apapun, kecuali seuntai cerita. 

Angin malam hari ini pun tidak berhasil menghapuskan semua cerita. Tetapi cerita hanyalah cerita.



Read More

Sabtu, 18 Desember 2021

Monolog dengan Lelaki dalam Kemelut Sejarah

Tahun ini kami memperingati kepergianmu tepat 52 tahun yang lalu. Aktivis, pemikir, dan pengajar par excellence Soe Hok Gie meninggal pada 16 Desember 1969 di Gunung Semeru, Jawa Timur. Gie berpulang ketika hendak merayakan hari ulang tahunnya yang ke-27 di puncak Semeru. 

Tulisan ini baru saya buat tiga hari setelah hari peringatan itu. Kesibukan, termasuk tenggat pekerjaan, menghalangi saya menyelesaikan tulisan ini. Sembari mengenang tindak tandukmu. Boleh kan saya bercerita kegelisahan-kegelisahan yang mungkin sama dengan yang kau alami dulu.

Kau, bagi saya, adalah lelaki dalam kemelut sejarah. Kau turut berperan menggulingkan rezim Soekarno. Presiden yang dalam banyak kesempatan kau sebut tega berpesta bersama istri-istrinya yang cantik di dalam istana, sementara rakyatnya di luar sana kelaparan.

Kegelisahanmu melihat polah rezim Soekarno pula yang mengantarkanmu “turun gunung” dari belantara kampus dan memilih terlibat dalam politik. Politik, adalah sesuatu yang sangat kau benci. Dalam buku Catatan Seorang Demonstran rekan-rekanmu menggambarkan betapa jijiknya kau melihat politik Indonesia. 

Rekan-rekanmu, Gie, menyampaikan bahwa kau melihat politik sebagai lumpur yang kotor. Politik menjadi jalan terakhimu berjuang manakala semua jalan atau pintu lainnya telah tertutup. Senior saya di Kompas sekaligus kawanmu, almarhum Rudy Badil, bilang, “Orang lurus macam Gie tidak cocok terjun ke politik.”

Membaca buku-bukumu, menonton film tentangmu membuat saya ingin meneladani kepribadianmu. Benar kau persis seperti yang digambarkan Rudy. Watakmu keras dan teguh dalam prinsip. Saya pun ingin menjadi orang lurus sepertimu. Terutama di dalam profesi yang saya geluti sekarang. 

Saya, jurnalis 28 tahun, serasa ikut merasakan kemuakan-kemuakan yang kau alami dulu. Kau merasa muak bercampur emosi melihat rekan-rekanmu sesama aktivis 65 terbujuk rayuan rezim Orde Baru untuk duduk di parlemen. 

Mereka teman-teman seperjuanganmu saat mengontrol kekuasaan Orde Lama, memilih berkhianat. Mereka tak lagi kritis apalagi berani mengawasi jalannya kekuasan agar tak ugal-ugalan. 

Situasi itu yang saya rasakan sekarang, Gie. Saya juga merasa ikut ditinggalkan teman-teman seperjuangan sesama jurnalis dalam mengontrol jalannya kekuasaan. Pers, adalah pilar demokrasi keempat. Mereka ada salah satunya untuk mengawasi kekuasaan. 

Saat pemilihan presiden 2019 usai, seluruh komponen oposisi memutuskan masuk ke pemerintahan. Mayoritas parlemen juga mendukung pemerintahan kedua Presiden Joko Widodo. Akibatnya, tiada lagi pihak yang bisa diandalkan untuk mengkritisi pemerintahan, kecuali pers.

Kondisi itu secuil contoh bagaimana besar dan mulianya peran pers dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di saat pihak yang seharusnya menjadi oposisi memilih hidup dalam ketiak kekuasaan, pers menjadi pelita terakhir yang diharapkan bisa menjalankan peran sebagai oposisi. 

Tapi kenyataannya, Gie, saya melihat para insan pers terutama di daerah tidak lagi seutuhnya sadar akan peran mulia tersebut. Mereka telah berubah menjadi pemburu rente yang menggantungkan hidupnya dari belas kasihan pemerintah. 

Kegiatan jurnalistik tidak menjadi aktivitas utama. Mereka lebih sering menemui para pejabat di daerah bukan untuk menulis berita, tetapi untuk lobi-lobi agar diberi proyek. Semua untuk keuntungan diri mereka sendiri, bukan pada tugas dan kewajiban memberikan informasi yang pantas kepada warga. Pers di daerah, sejauh yang saya lihat, tidak lagi menjalankan fungsinya sebagai anjing penjaga.

Kau tahu betapa hancurnya hati saya melihat rekan-rekan jurnalis di sekitar saya berubah menjadi corong kekuasaan. Mereka tak lagi skeptis apalagi kritis. Baru-baru ini, sebuah lembaga survei politik asal-asalan mengeluarkan rilis tentang seorang gubernur yang mereka sebut layak bersaing di tingkat nasional.

Saya tertawa membaca rilis mereka, Gie. Gubernur yang mereka coba orbitkan itu sama sekali tak layak di mata saya. Ia biarkan ketimpangan di daerahnya melebar, jalan-jalan rusak, korupsi di pemerintahannya, serta ketidakmampuannya menerima kritik adalah kelemahan terbesar dia. 

Dengan iming-iming uang ratusan ribu rupiah, rekan-rekan saya tanpa pikir panjang memilih menerbitkan berita tentang keunggulan gubernur yang telah lebih dulu dipoles oleh lembaga survei itu. Betapa godaan uang ratusan ribu telah melunturkan idealisme mereka. 

Tidakkah mereka menyadari bahwa menerima sogokan dalam bentuk halus itu juga merupakan sebentuk kecil tindakan korupsi? Bayangkan, opini pubik telah tergiring oleh berbagai pemberitaan rekan-rekan saya. Gubernur yang tak layak itu telah dipoles, kemudian mampu naik ke tampuk kekuasaan. Artinya rekan-rekan saya telah menyalahi nilai-nilai dalam jurnalisme.

Sejauh yang diajarkan kepada saya dulu, jurnalisme juga mengemban fungsi untuk melayani. Ia melayani masyarakat dengan menyajikan informasi yang layak, utuh, dan sebenar-benarnya. Dengan begitu, masyarakat bisa membuat pilihan yang pada akhirnya akan membantu menaikkan taraf hidup mereka kelak.

Menerbitkan informasi terkait gubernur yang telah dipoles sedemikian rupa tanpa mengkritisinya, sama saja dengan menyodorkan informasi keliru kepada masyarakat. Mereka pun akhirnya akan mengambil keputusan yang salah. 

Di titik itu saya teringat padamu Gie. Saya merasa turut mengalami kau yang dulu dikhianati rekan-rekanmu sesama aktivis yang kemudian duduk manis di parlemen. Kau kirimkan bedak dan gincu untuk mereka berdandan agar terlihat cantik di hadapan para penguasa. Saya ingin mengikuti langkah itu, tapi saya tak seberani kau Gie.

Dari kau saya belajar menjadi orang yang mempunyai prinsip: sekalipun saya tidak mempunyai harta lebih, jangan harap orang-orang berduit itu bisa membeli harga diri saya. Bukan berarti kalau kita butuh uang, maka kita biarkan orang lain berbuat manasuka kepada diri kita. 

Kalau kata Tan, pemuda memiliki idealisme sebagai kemewahan terakhir mereka. Saya meresapi betul kalimat-kalimat itu. Kemerdekaan dalam bertindak dan berpikir tanpa tekanan atau paksaan orang lain adalah yang utama. Sejenak kita boleh menyombongkan diri karena tidak menjadi boneka dari siapapun. 

Kau dan aku bukanlah orang yang bangga bisa hidup dari uang hasil suap. Karena suap adalah bentuk pelecehan yang kadang tidak disadari.

Kau, yang seorang Cina kere, tak tergoda iming-iming kekuasaan. Kau memilih tetap di jalurmu. Tetap menjadi orang lurus yang tak tergoda bujuk rayu serta kenikmatan hidup instan. Meski itu artinya kau akan dikucilkan oleh orang-orang di sekitarmu. Saya kagum padamu Gie.

Rasa-rasanya sudah cukup saya berkeluh kesah soal kegelisahan yang sama padamu. Kau sudah lama tiada tapi prinsip dan jalan hidupmu terasa kekal. Saya tahu, hanya dengan jalan hidup dan prinsip yang kau tunjukkan itu akan membuat kita dipandang lain dan lebih dihargai oleh khalayak. 

Jalan hidup dan segenap prinsip itu pula yang membuat kau akan selalu diingat sebagai lelaki dalam kemelut sejarah.
Read More

Minggu, 28 November 2021

Tidak Berhenti di 28

“If you can imagine what your life will be in the future, it shows your lack of imagination,” – Daniel Gilbert. 

Saya berpikir hidup sudah mapan di usia 28. Saya pernah mengikuti mereka-mereka yang membuat daftar tentang apa saja yang harus dicapai sebelum 20, sebelum 30, sebelum 40, apapun sebelum jantung berhenti berdetak. 

Daftar itu kian panjang karena usia yang terus bertambah. Saya bak atlet lari halang rintang yang mengatasi satu demi satu rintangan. Seringkali rintangan tidak diatasi tapi lewat begitu saja. 

Semua berlalu, bukan? Lahir dan dibesarkan di tengah masyarakat konservatif membikin saya agak percaya bahwa di usia 28 seharusnya semua sudah final. Apa saja itu? Tentu karier dan pasangan hidup. 

Kalau kata banyak orang dua hal itu saja yang paling penting dari hidup yang singkat. Yang lain hanya figuran yang muncul dan tidak mengubah jalan cerita. Seringkali kita setia pada daftar yang kita buat. 

Setia pada pada daftar menunjukkan tekad, kekerasan hati, dan perjuangan. Individu macam itu diidamkan di banyak level kehidupan. Tapi, hidup saya bukan daftar belanjaan. Bahkan, ketika daftar-daftar dibuat, kejutan selalu datang. 

Menjadi 28 dan tidak dapat membayangkan masa depan seperti apa rasanya menakutkan. Mau kerja di bidang apa? Saya mau menulis sesuatu yang menggetarkan hati saya dan banyak orang. Tapi, bekerja pada orang? Hmm…itu sudah! Mau apa sesudah balik dari Ibu Kota? Mau pulang ke rumah dan memeluk ajik dan ibu tentunya. Mau menikah? Entar dulu deh.

Saya punya sahabat perempuan yang selalu dipusingkan dengan masalah pernikahan. Tekanan untuk segera menikah mungkin kerap datang kepadanya. Tapi, Oktober lalu ia baru saja berusia 27. Satu usia yang menurut saya tidak terlampau manula-manula amat sebagai seorang perempuan. Ya, ia masih muda dan enerjik. Kalaupun hilal pernikahan belum menghampirinya, agaknya Tuhan tengah menyimpan seseorang yang sangat berharga untuknya nanti.

Kabur

Masa depan mungkin kabur di mata saya. Tapi masa kini begitu jelas dan fokus bak objek yang dibidik dengan lensa bukaan 1,2. Saya kembali belajar jurnalisme dasar. Saya kembali belajar Bahasa Inggris yang singkat, bernas. Pikiran saya terus bekerja mencari ide-ide cerita untuk ditulis. 

Galau memang kadang berkunjung ketika membayangkan masa depan. Tapi, di tengah kegalauan saya teringat acara bincang-bincang yang pemandunya Daniel Gilbert. Singkat cerita, Daniel ingin bilang jika menjadi manusia adalah upaya yang tidak pernah selesai dan memang tidak bisa ‘diselesaikan’ melalui angka-angka seperti usia pun waktu. 

Pilihan kita di masa lalu tidak bisa dibandingkan dengan pilihan kita di masa depan karena kita adalah ‘diri’ yang berbeda. Mengingat masa lalu selalu lebih mudah ketimbang membayangkan masa depan. 

Saya manggut-manggut menonton video Daniel. Sepuluh tahun lalu saya tidak bisa membayangkan akan tinggal di Jakarta. Sepuluh tahun lalu saya tidak pernah berpikir untuk menjadi wartawan. Sepuluh tahun lalu saya tidak menyangka bahwa sepuluh tahun mendatang saya tetap membuat kesalahan. 

Masa depan tentu buah dari kerja keras masa kini. Tapi masa depan juga karya dari imajinasi yang terlalu liar pun kejutan yang seringkali mendebarkan. Seringai, sebuah grup musik rock oktan tinggi dari Bandung, punya lagu berjudul Berhenti di 15 yang berkisah tentang ekstase menonton konser metal grup musik idola ketika berusia 15 tahun. 

Musik kencang dan energi mengawang membeku di ingatan dan membuatmu berpikir hidup berhenti di 15. Tapi lagu ini juga menawarkan pandangan lain bahwa kau bisa terus punya jiwa muda berapapun usiamu melalui frase menyengat “jika musiknya terlalu keras, mungkin kau terlalu tua.” 

Dengan semangat yang sama, saya percaya bahwa hidup tidak berhenti di 28. Seorang teman yang baik pernah bilang, lebih baik mati berkali-kali dan lahir kembali dalam hidup daripada hanya hidup dan mati sekali. Itu metafora, tentunya. Hidup belum tamat dan untuk sesaat mari rehat membuat daftar. Mari berimajinasi kembali.

Read More

Sabtu, 14 Agustus 2021

Dunia Saya, Panggung Pengamen Jalanan

Sesaat saya serasa berada di konser mini beraliran musik folk ketika seorang pengamen di sebuah sentra kuliner di Rawamangun, Jakarta Timur, menyajikan tembang dari The Trees and The Wild dan Ikhsan Skuter 14 Agustus malam. Pengamen itu menyanyikan lagu-lagu folk kesukaan saya tanpa sedikit pun cela. Nada-nadanya pas, iramanya mengena, suaranya juga lumayan. 

 

Saya pikir ini bakal jadi malam folk pertama saya hanya dengan Rp 2000 perak di Jakarta. Tapi pengamen itu, langsung mematahkan hati saya ketika dari mulutnya kemudian meluncur salah satu lagu hasil aransemen ulang oleh Pasto. Saya memang kurang suka terhadap musisi yang suka me-recycle lagu-lagu karya musisi lama. Bagi saya, mendaur ulang karya musisi lain itu mencerminkan rendahnya kreativitas. 

 

Tapi saya terhibur sekali dengan penampilan si pengamen malam tadi. Dia tahu betul caranya menyenangkan penikmat musik folk yang sekian lama absen menonton konser akibat digebuk pandemi. Dia menciptakan panggung hiburan selayaknya konser folk mini yang terakhir kali saya saksikan tiga tahun silam.

 

Panggung hiburan sedianya punya misi untuk menghibur, dan yah saya pun tertawa kala itu. Tapi ada pertanyaan lebih besar di kepala saya, siapakah pengamen itu? Siapakah puluhan  orang-orang yang berada di sekitar saya di sentra kuliner itu? Apa yang membuat di masa penerapan PPKM darurat mereka lebih tersedot mencari "panggung hiburan" ketimbang berlindung di kubah rumah? 

 

Yang lebih dahsyat, salah seorang pengelola sentra kuliner ini mengaku akhir-akhir ini justru semakin sibuk mengawasi penerapan protokol kesehatan di sentra kuliner agar tak diteror petugas satuan polisi pamong praja (satpol pp). Setelah sempat mati suri di masa-masa awal PPKM darurat bulan lalu, sentra kuliner ini kembali bergeliat. Pedagang-pedagang kembali bekerja, alat masak menyala, dan uang-uang berpindah tangan. 

 

Mereka kembali berdagang tentu untuk mencari nafkah di tengah ketidakpastian situasi pandemi ini. Selain juga demi melayani warga yang selalu haus hiburan karena bosan berdiam diri di rumah. 

 

Ini konsekuensi sebuah kota, mungkin. Jakarta, yang jadi kota terbesar di Indonesia, menjadi tempat berkumpulnya belasan juta manusia. Kota ini jadi harapan terakhir bagi mereka-mereka yang berputus asa tak memperoleh apa-apa di daerah asal. Dan saya juga merupakan salah satunya.  

 

Jakarta sejak dulu sudah sangat padat dengan manusia. Orang-orang terus berdatangan ke sana, utamanya usai Idul Fitri dan arus balik Lebaran. Padahal, menurut saya apa juga gunanya menjejali Jakarta. Toh lebih enak bercocok tanam atau memancing ikan di sungai di desa. 

 

Tapi inilah ciri khas kota besar. Segalanya lengkap. Mau ke mal atau berobat di rumah sakit berfasilitas paling mutakhir, semuanya ada. Sistem transportasi publik di sini juga yang terbaik di Indonesia. 


Jakarta punya segalanya yang bisa dibeli oleh uang. Lalu, apa yang tertinggal dari sebuah kota?  Yang bisa saya ingat dari sebuah kota bukan hanya sebuah nama. Kita bukan berada di dunia Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL) yang menandai setiap kota dan negara hanya dengan ibu kota dan monumen pentingnya. 

 

Kota, bagi saya, adalah sebuah pengalaman. Numpang tinggal selama tiga bulan saja tidak akan pernah cukup untuk menangkap nyawa sebuah kota, seperti hanya ibarat menonton panggung hiburan oleh pengamen sekitar 20 menit yang menyisakan senang sesaat.     

 

Dunia panggung  

 

Hampir lima tahun di Jakarta bagi saya memang masih seperti melihat panggung hiburan. Saya memaki budaya mal di sini tapi menyempatkan waktu untuk kadang nongkrong di dalamnya. Saya menontoni mereka yang datang ke mal dengan gaun dan rambut tertata rapi hanya untuk sepiring nasi goreng di sebuah kafe. 

 

Parfum-parfum berbaur dengan kretek terbakar, gincu disapu aroma kafein. Kota ini akan homogen dengan kota-kota lainnya yang berayah pembangunan dan beribu kandung industri. Anak-anaknya ialah gedung bertingkat, kawasan industri, infrastruktur setengah jadi, pelayanan publik setengah hati, dan mal-mal pongah percaya diri. Anak tirinya ialah kali-kali bau, sampah-sampah tak terangkut, lapak-lapak liar, dan mungkin saya, perantau kehilangan jati diri.  

 

Saya tidak pernah suka kota ini, tapi ini panggung saya. Ini tempat saya harus menjadi penampil yang baik, setidaknya bagi orang-orang dengan siapa saya bekerja. Tapi saya bukan pengamen itu yang begitu menjiwai perannya di "panggung" sentra kuliner. Apakah semua perantau selalu gelisah dengan kota perantauannya?  

 

Pukul 21.00 sentra kuliner ini harus tutup karena aturan PPKM darurat. Pengamen itu pun menyudahi pertunjukannya dengan senyuman terakhir di wajah seraya mengucapkan salam dan terima kasih. 

 

Tapi saya masih tertegun di sana, di panggung saya, menunggu pertunjukkan berikutnya.  Sejenak saya iri pada pengamen itu yang panggungnya lebih nyata dari panggung saya. 

 

Panggung saya terlalu asing dan abstrak. Atau mungkin semua orang sebetulnya berada di panggung imajiner mereka, merasa terasing di tengah kota yang tak lagi sama dengan ingatan mereka. Yah, semisal suatu saat ketika berkesempatan kembali bertemu pengamen itu, akan saya tanyakan namanya. Saya tanyakan ke mana dia ingin pulang. Mungkin saja kami sama-sama terasing, di Jakarta.  

Read More

Follow This Blog