Jumat, 16 Desember 2022

Hipokrit

Sepekan belakangan media sosial dan grup-grup Whatsapp ramai oleh berita seorang polisi intel yang menyamar sebagai wartawan. Tidak tanggung-tanggung, penyamarannya langgeng hingga 14 tahun. Selama rentang waktu itu, tidak satu pun wartawan di sekitar yang menyadari bahwa rekan mereka merupakan intel. Penyamaran sempurna.

Saya tak membaca detail informasi penyamaran intel sebagai wartawan itu. Tapi, saat pertama kali tahu informasinya, berbagai pemikiran lewat di kepala saya. Salah satunya, kenapa polisi intel itu tidak menggunakan identitas yang sama sekali baru saat memulai penyamaran? Setahu saya, seorang intel biasanya akan mendapat nama atau identitas lainnya yang benar-benar baru sejak memulai penyamarannya.

Informasi itu saya peroleh dari sejumlah buku-buku yang mengulas tentang dunia telik sandi. Selain itu, saat masih bertugas di Tribun Bali dulu, saya kerap bersinggungan dengan intel-intel polisi. Maklum, saya ditugaskan di desk kriminal. Penugasan itu mau tak mau memaksa saya ramah dan berteman dengan sejumlah intel.

Cara bisa akrab dengan intel? Jangan ditanya. Berat. Mulai dari harus menginap di polsek-polsek sampai harus menjamu (traktir) mereka di kala luang. Semua itu saya lakukan demi secuil informasi eksklusif. Memang perlu pengorbanan biaya, waktu, dan tenaga, tetapi itulah konsekuensi dari pekerjaan ini. 

Dalam hidup ini, kita memang tidak bisa hanya selalu menerima. Ada kalanya, bahkan sering, kita harus memberi untuk mendapatkan sesuatu. Orang Jawa Timur sering bilang, “utah iku utuh”. Maksudnya, apa yang kita keluarkan (utah), akan selalu sama hasilnya (utuh) dengan yang kita terima. Hukum sebab akibat. Inilah konsep karma phala (hasil perbuatan) agama Hindu yang dijejalkan ke kepala saya sejak kecil.

Banyak rekan-rekan wartawan yang tergelitik dengan kabar adanya intel yang menyusup di profesi ini. Tandanya, tautan berita tentang intel polisi itu masif disebarkan di grup-grup wartawan. Mereka heran sekaligus terguncang, “kenapa seorang intel bisa menyusup tanpa disadari? Bahkan dia sempat mengikuti uji kompetensi wartawan dan berstatus wartawan madya.”

Bagi saya, kabar itu tidak terlalu mengejutkan. Saya justru berpikir yang jauh lebih berbahaya adalah orang-orang yang mengaku wartawan tapi sebenarnya bukan. Maksudnya? Gampang. Dari pengalaman saya selama menekuni profesi ini sejak 2016, banyak orang-orang di sekitar yang mengaku wartawan tetapi kesehariannya (hampir) tidak pernah menulis atau melakukan tugas-tugas jurnalistiknya.

Pemandangan ini hampir bisa ditemui baik itu di tingkat lokal maupun pusat. Tapi, gejala yang paling parah terdapat di daerah. Daerah ibarat hutan rimba bagi dunia perjurnalistikan Tanah Air. Di sana, para wartawan saling sikut dan caplok demi mempertahankan periuk nasi mereka. 

Saya kenal dengan sejumlah rekan-rekan wartawan yang bertugas di daerah. Pekerjaan utamanya bukan menulis berita, melainkan mencari iklan. Paling jelek, mereka berkongsi dengan penguasa di daerah untuk menyeleweng. 

Saya berkali-kali menekankan, bahkan tegas, tugas wartawan itu sangat mulia. Mereka mewakili kepentingan publik dan kemaslahatan orang banyak. Di saat pemerintah daerah atau warga melanggar, peran jurnalislah mengingatkan mereka untuk mengoreksi kekeliruannya. 

Kami tidak bisa serta merta hanya mengkritisi pemerintah, karena warga biasa pun kerap melakukan kekeliruan. Ambil contoh, pedagang kaki lima yang mengokupansi trotoar untuk berjualan. Jelas itu tindakan keliru, bahkan salah. 

Di Tangerang Selatan, daerah tempat saya bermukim, anggaran menjadi bancakan pemerintah dan wartawan. Lampu-lampu penerangan jalan mati di malam hari pada sejumlah ruas jalan. Pemerintah daerah membiarkannya. Padahal, itu bisa jadi penyebab kecelakaan. 

Jurnalis yang harusnya berperan mengingatkan pemerintah terkait kelalaian itu justru diam. Kenapa? Beberapa di antaranya sudah tunduk karena diberi amplop (uang) oleh pemerintah. 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemerintah daerah memberikan bantuan uang atau gedung untuk markas kelompok kerja (pokja) wartawan. 

Selain pemerintah, polisi juga biasanya ikut urunan mendanai kebutuhan wartawan. Kebiasaan ini yang menjadi pangkal lepasnya independensi wartawan. Mereka tidak bisa lagi leluasa mengawasi kinerja pemerintah karena dimanjakan fasilitas yang seharusnya bukan hak mereka.

Memang kenapa harus mendirikan pokja? Sebagai sarana berserikat wartawan di daerah dan juga media penyebaran informasi. Omong kosong, dengan adanya pokja pun mereka saling menyembunyikan informasi. 

Berikutnya, kenapa harus mempunyai gedung khusus? Bukankah kewajiban pemerintah menyediakan media center bagi wartawan yang meliput di kantor pemerintahan. Kalau ada, kenapa tak manfaatkan itu saja. Bukankah gedung khusus pokja itu belum termasuk kebutuhan mendesak. Setahu saya, pernah ada gedung pokja yang ditinggali justru bukan oleh wartawan.

Pembentukan pokja juga cuma akal-akalan elite wartawan daerah untuk mengeruk uang. Dengan mendirikan pokja, mereka bisa menekan pemerintah daerah untuk tunduk dan rutin memberikan bantuan. Inilah bentuk licik pemerasan terselubung. Caranya halus dan seolah-olah bermartabat. Tapi isinya tetap saja mereka meletakkan tangan di bawah. Bukankah agama manapun mengajarkan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah?

Memang sulit mencari kejujuran di tengah belantara wartawan daerah. Saya pernah punya beberapa kawan yang rasanya sevisi untuk persoalan kejujuran dalam bekerja. Tapi nyatanya mereka tetap saja pencari jale (amplop uang) dan iklan, serta kurang berdedikasi pada pekerjaan membuat berita. 

Mereka adalah orang-orang hipokrit yang menurut saya jauh lebih berbahaya daripada intel yang menyamar. Tidak ada yang lebih mengerikan dibanding orang yang mengaku-ngaku wartawan tapi kegiatannya setiap hari hanya menulis berita sekenanya, menulis (mengedit sedikit) rilis dan siaran pers, berbagi berita jadi, bahkan lebih sering berharap kecipratan uang haram setiap hari. Pekerjaan jurnalis tidaklah sebercanda itu.

Dari perbincangan yang saya amati, tidak ada yang merasa betapa berbahayanya orang-orang hipokrit itu. Di mata saya, mereka tidak lebih dari wartawan gadungan yang menuding-nuding polisi intel sebagai wartawan gadungan pula. 




Read More

Senin, 05 September 2022

Mengingat

Mengingat itu butuh energi. Seumur hidup, kita menghabiskan energi untuk mengingat angka-angka yang menandai semua sisi hidup. Misalnya saja tanggal lahir, usia, nomor telepon, nomor kartu tanda penduduk, nomor induk karyawan, dan nomor rekening. 

Kau ingat betapa angka adalah romantika yang membawamu pada ruang dan waktu berbeda. Plat nomor, nomor rumah, angka di sebuah kaus, hingga nomor telepon yang kau hapal di luar kepala tanpa berani kau simpan dan bekukan di ponsel. 

Kau mengingat angka yang satu dan melupakan yang lain. Mengingat dia ketimbang diriNya. Kau mengingat karena dia punya jejak, yang, entah apa. 

Mengingatnya membuat energimu melambung hingga ke langit. Kau pikir kau bisa terbang saking besarnya energimu. Kau menjelma capung dan burung-burung. Ah, dan kau, kau, dan kau mengingat. Mengingat hal-hal yang terlewat oleh mata orang banyak. 

Kau mengingat dengan keterlambatan yang entah disengaja atau tidak. Kau mengingat dengan kejutan yang kuncup di pengujung hari. Kau membuat aku menjelma burung-burung. 

Ah, terima kasih untuk mengingat. Mungkin kita telah saling memberi jejak di sebuah dimensi yang hanya bisa kita raba. Terima kasih untuk mengingat, setidaknya hari-hari di Februari itu.

Karena, esok saatnya melupakan.

Read More

Rabu, 31 Agustus 2022

Cisilia

Sosoknya sudah lama absen, tapi pernah menghiasi hidup saya. Cisilia Agustina Siahaan, biasa dipanggil Cile, terakhir muncul sekitar enam tahun yang lalu. Dia adalah wartawati Tribun Bali dengan beat liputan di bidang pendidikan. 

Perempuan asal Bandung, Jawa Barat, itu adalah penggemar segala sesuatu yang berkaitan dengan budaya dan kesenian Bali. Selain itu, dia juga tertarik pada dunia kesusastraan. Ketertarikan dengan segala hal yang berbau Bali juga yang mengantarkannya berlabuh ke Pulau Seribu Pura, jauh meninggalkan keluarganya di Bandung. Seingat saya, ia alumni jurusan teknik arsitektur. Kenapa arsitek justru berkubang di dunia tulis menulis. 

Selama hampir tiga tahun berkarya di Tribun Bali, tulisan-tulisan Cile tajam, menarik, dan kritis. Satu hal yang saya kenang dan kagumi dari etos kerjanya, dia bekerja seperti elang, bukan gerombolan semut. 

Cile bukan tipe orang yang asal ngikut wartawan lain. Sebagaimana orang kerap mengkotak-kotakkan kepribadian orang menjadi dua, ekstrovert dan interovert, Cile termasuk wartawan introvert dalam metode bekerja. 

Sebagai wartawan introvert, bukan berarti ia anti sosial atau tak memiliki banyak teman. Pembawaannya yang ramah dan murah senyum membuatnya disenangi rekan-rekan wartawan di Denpasar. Namun, sikap itu berubah kala sedang berburu informasi atau bahan berita. Laksana elang, Cile terbang sendirian mencari mangsa. Matanya tajam dalam mencari isu-isu. Di saat wartawan lain datang meliput dengan bergerombol atau saling berbagi informasi, Cile melakukannya seorang diri. 

Saya pernah menanyakan cara kerjanya karena menganggap hal itu agak kurang lazim dilakukan wartawan kebanyakan. Maklum, saat itu, pertengahan 2016, saya baru enam bulan bergabung di Tribun Bali. Saya pun, sebagaimana wartawan lain, kerap bergerombol dalam mencari informasi. 

Semua itu saya lakukan karena takut kebobolan. Istilah kebobolan mengacu pada kondisi di mana seorang wartawan tidak mendapatkan berita yang didapatkan rekan-rekannya yang lain. Kalau sudah begitu, atasan wartawan pasti akan menegur. “Kok berita ini kamu enggak dapet?” 

Dengan metode kerja yang sering mencari informasi seorang diri, bagi saya Cile amat rentan kebobolan. Ketika saya utarakan kekhawatiran itu, Cile dengan entengnya menjawab, “Coba kamu hitung siapa yang lebih sering ngebobol.” Saya tertegun. 

Kalau dipikir-pikir, benar yang dikatakan Cile. Dia selalu punya berita eksklusif yang tidak dimiliki wartawan lain, termasuk senior-senior di liputan pendidikan. Ini lebih disebabkan karena Cile rajin turun ke lapangan, termasuk berkeliling ke sekolah-sekolah menemui langsung pokok permasalahan dan isu-isu pendidikan yang tengah berkembang. 

Sedangkan wartawan lain lebih cenderung memilih menunggu isu datang dengan duduk-duduk di media center atau warung kopi. Wartawan lain juga sangat senang menulis berita-berita siaran pers atau rilis yang dikirimkan pemerintah. Alhasil, berita di semua media hampir sama karena bersumber dari satu siaran pers. Ini menjemukan bagi mereka yang butuh asupan informasi bergizi juga bervariasi. 

Berita-berita yang bersumber dari siaran pers tentu hanya berat sebelah, dalam artian lebih kental nuansa kepentingan pemerintah dalam mempropagandakan agenda mereka. Saya melihat wartawan sering terjebak di sana. Bagaimana tidak, memperoleh siaran pers sangat memanjakan. Tanpa perlu bersusah-susah, berpeluh-peluh, wartawan mendapat berita yang siap tayang.

Tulisan-tulisan Cile menjadi antitesis dari kondisi berita seragam itu. Di saat wartawan lain bergerombol dan mengerjakan berita dari siaran pers, dia bergerak seorang diri. Oleh sebab itu, liputannya sangat kaya dan beragam. 

Secara pribadi, saya tertarik dengan metode kerja Cile. Perlahan-lahan saya mulai memisahkan diri dari gerombolan. Kebetulan saya bertugas di desk kriminal sehingga pilihan langkah itu mengharuskan saya semakin rajin turun ke lapangan saat ada peristiwa sekecil apapun atau melipir ke polsek-polsek dan polres. 

Saya bahkan pernah menginap di kantor polisi hanya untuk lebih dekat dengan sumber-sumber di sana. Seminggu sekali, di saat esoknya mendapat jatah libur, saya minta izin tidur di kantor polisi. Di sana saya bertemu dengan berbagai macam polisi mulai dari yang pangkatnya paling rendah hingga tingkatan kepala satuan (kasat). 

Dari kebiasaan itu narasumber saya semakin banyak. Beberapa polisi dari satuan intelkam adalah yang paling berharga dijadikan sumber informasi. Saya dan narasumber dari intel itu sering bertukar informasi, walau harus diakui dia lebih banyak berkontribusi dibandingkan saya. 

Berita yang saya tulis pun pada akhirnya berbeda dengan rekan-rekan wartawan yang juga bertugas di desk kriminal. Mereka sering bertanya-tanya dari mana saya mendapatkan informasi. Beberapa di antara kawan itu juga jadi lebih sering bertanya isu-isu kriminal yang bisa diliput. 

Tanpa disadari, saya sudah mulai mengikuti alur kerja Cile. Rasanya memang lebih bangga dengan karya-karya yang saya buat, di mana itu mampu tampil berbeda dengan wartawan kebanyakan. Beberapa kali berita yang saya buat menjadi viral di Denpasar, saking tidak ada wartawan lain yang menulisnya. Sumber berita yang dibuat oleh akun-akun medsos dengan ratusan ribu pengikut itu hanya berita saya. 

Kebiasaan untuk bekerja sendirian itu terbawa hingga saya bekerja di Jakarta. Hal itu sejalan dengan arahan kantor saya di Kompas yang sering menekankan kepada wartawannya untuk membiasakan membuat dan mengolah isu sendiri. 

Hal itu sangat penting, terutama ketika hari-hari sepi berita mendera. Otak akan terbiasa berpikir sehingga sangat mudah menemukan ide-ide atau isu untuk ditulis saat sepi peristiwa. Semua ini karena mengikuti Cile. 

Kami sempat bersama-sama mengikuti seleksi di Kompas. Namun, sayang dia tidak lulus. Hari-hari menjalani seleksi di Kompas itu ternyata adalah pertemuan terakhir saya dengan Cile. Meski dia telah menghilang, semangatnya akan tetap tersimpan di hati saya. Sampai akhirnya saya memutuskan berhenti dan tak menjadi wartawan lagi.
Read More

Kamis, 25 Agustus 2022

Februari

Hujan dan Februari mungkin saudara kembar. Mengapa Februari selalu basah? Kerap saya bertanya, seakan-akan semesta ingin ikut mencurahkan semua airnya di tahun yang baru saja paripurna. Seakan-akan semua dibasuh lagi, semua luka dan kenangan. Seperti kanal-kanal yang meluap memuntahkan isi perutnya. 

Apa Februari sebegitunya? Atau, hati dan kepala ini melunak setelah sebulan yang baru terlampaui? Saya menengok ke belakang, jauh sekali ke belakang, ke sebuah rasa yang kadang masih begitu nyata. Saya menengok sampai saya pikir saya tak ingin menatap ke depan lagi. 

Tapi, ini Februari. Semua akhir adalah semua awal seperti semua awal adalah semua akhir. Saya menengok ke belakang, tak ada apapun di sana. Semua tiada. Saya menengok ke depan, tak ada apapun di sana. Tiada. Saya di sini, dengan jemari yang terus bergerak, kaki terlipat, lagu yang berdengung dari ponsel, dan hujan yang masih terus menari. Ini saya, tanpa ke mana-mana, ada. 

Untuk semua kepedihan dan keriaan itu saya di sini. Pun sebuah kesepian yang mungkin bersaudara kembar bagi hidup yang hanya sekali. 

Di luar sana, hujan masih menari.

Read More

Monolog (Edited)

Bunga, di Februari
Jatuh terdampar, terkapar
Alasan tidak bersama bukan karena orang ketiga
Tapi rasa miliknya yang tak lagi sama
Tak seperti kala pertama jumpa Gek Aik di Singaraja
Duduk bertiga
PR matematika
Read More

Selasa, 28 Juni 2022

Sabda

Manusia merawat anjing dengan pakan
Dan pejabat busuk membeli manusia tak berintegritas dengan uang demi kepentingan mereka
Tapi, tidak ada seorangpun yang bisa membeli harga diri saya sebagai wartawan dari Kompas
Read More

Senin, 14 Maret 2022

Horizon

“Coba buka jendelamu, di sana hanya horizon tak bertuan. Hanya horizon.” 

Saya mendengar kalimat itu berdengung konstan di kepala secara mendadak. Entah siapa yang pernah mengucapkannya. Bisa jadi itu isi kepala saya sendiri yang terus merapal kalimat itu bagai mantra. 

Saya teringat senja di foto itu, sepotong sore di Uluwatu, suatu waktu di bulan Agustus 2014. Foto itu diambil pada satu titik yang mungkin tak tertera di GPS. Saya membuka jendela kamar dan hanya ada cakrawala tanpa batas. Siapa yang bisa melukis jingga sepuitik itu, sering saya membatin demikian. 

Setiap memandang horizon, saya tertegun juga merasakan betapa banyak yang boleh saya lalui. Terkadang ini lebih aneh dan ajaib dari sebuah kisah fiksi sekalipun. Di sebuah fase dalam hidup, sering kamu melihat semua yang datang dan membanjiri pasti selalu berlalu. Sebut saja semua kepedihan juga keriaan, semua akan berlalu. Jangan-jangan saya jadi lebih mirip jalanan Jakarta yang tetap kokoh disapu banjir yang akan surut pada waktunya. Tapi saya tidak mau disamakan dengan Jakarta. 

Di setiap senja di kota asing selalu ada yang berubah. Orang-orang yang kau temui, mereka adalah api, jarum, air, tanah, payung, telaga, kerupuk, plastik, apapun yang membuatmu sadar. Mereka dengan cerita yang beragam pun seringkali dengan sinisme yang pekat. Mereka semua bagian ceritamu. Ada satu masa ketika kau mencoba tidak menghakimi apapun, bahkan menghakimi mereka yang menghakimi orang lain. 

Ada masa kau melihat potret yang lebih besar dan kau merasa tidak ada yang perlu disalahkan. “Kamu akan melihat potret yang lebih besar. Tapi ketika kamu sudah di usiaku ya, bersabarlah,” kata seorang teman suatu ketika. 

Saya  ingat ucapan kawan yang berusia delapan tahun lebih tua itu. Ya, mungkin di masa itu ketika saya dengan sepenuh hati percaya dunia ini memang pincang, berpeluh, penuh luka, tetapi juga punya selaksa horizon yang mempertemukanmu dengan banyak kisah luar biasa. Maka, saya pun membuka jendela. Hanya horizon di sana, hanya horizon.
Read More

Selasa, 18 Januari 2022

Angin

Angin menerbangkan segala, tetapi tidak kenangan. Dan, di sanalah aku meraba kembali yang pernah terjadi. Mungkin kau juga terlempar ke masa lalu ketika semua terasa begitu baru. 

Malam tampak begitu cepat turun di tempat ini, secepat kabut-kabut. Kita saling bicara tentang apa saja, sebagai manusia dengan masa lalu yang misterius. 

Kota-kota di semua benua seakan meluncur dari mulut kita dan kita seakan berada di sana. Tetapi kita di sini, di sebuah tempat yang mungkin terlupakan di peta. 

Kita menjalin kenangan hari ini dan mencoba mendamaikannya dengan masa lalu yang beku. Adakah semua berhasil? Aku tak tahu. 

Mungkin semua awalnya seperti sebotol soda dingin yang menyegarkan tenggorokan. Perlahan, semua buih menghilang dan hanya pahit yang terasa. Kita bertemu untuk saling berpisah. Kita mengenal untuk saling melupakan. Mungkin karena itu pula, aku tak menyibak semua rahasia, karena semuanya akan terasa sia-sia. 

Ribuan detik setelah masa itu, angin masih bertiup. Aku menengok masa lalu dan kau mungkin menyongsong masa depan. Kita tidak pernah bertukar apapun, kecuali seuntai cerita. 

Angin malam hari ini pun tidak berhasil menghapuskan semua cerita. Tetapi cerita hanyalah cerita.



Read More

Selasa, 04 Januari 2022

Nyaman

Nasihat “keluarlah dari zona nyaman” adalah hipokrisi yang terlalu sering diucapkan. 

Saya berpikir begitu ketika berjalan kaki di jalanan beraspal saat matahari tepat berada di atas kepala. Ternyata yang berjalan kaki bisa dihitung dengan jemari salah satu tangan saja. Semua orang menempel di jok motor maupun mobil dengan sebuah premis di kepala mereka masing-masing: lebih cepat dan lebih hemat. 

Di saat itu saya menyadari apa yang dikatakan Nosstress dalam lagunya “Hiruk Pikuk Denpasar” adalah benar adanya. Orang-orang, kata Nosstress, sudah enggan berjalan kaki. Dan mataharipun sudah bukan sahabat kita lagi. 

Memilih kendaraan bermotor ketimbang bersepeda pun jalan kaki mungkin contoh sederhana saja. Ketika orang protes kenaikan harga bahan bakar minyak atau premium dihapus dari pasaran, mereka tidak mengikutinya dengan perubahan pola konsumsi bahan bakar. Lalu, orang mulai menyalahkan sistem transportasi, pemerintah, negara, atau siapapun yang bisa disalahkan seakan-akan hidup manusia tanpa hal-hal itu tidak punya daya. Ya, kita semua hipokrit yang menuding orang lain sebagai hipokrit. 

Saya jadi mengingat keputusan saya membeli iPhone dan tidak membeli motor. Itu semua mungkin seperti sebuah zona nyaman saat kebosanan bisa dilarung di kotak ajaib berukuran 14 inci atau sebuah perjalanan keliling kota sembari menghabiskan bensin. Tapi, semua itu pun kini enggan saya tinggalkan, juga sebuah pekerjaan yang saya nilai sebetulnya nyaman: gaji yang besar dan tetap meskipun kerjamu hanya tidur dan bermalas-malasan atau menulis sesuatu yang besok menjadi sebuah sampah informasi. 

Jadi, kenyamanan itu apa? kau bisa menghabiskan hidup dalam kenyamanan apapun yang kau pilih, toh ketidaknyamanan pada akhirnya menjadi kenyamanan bentuk yang lain. Asalkan begini, kalau kau tidak tahu apa yang dihadapi orang lain dan pergulatannya, lebih baik tidak usah sok tau menggurui dengan pesan “keluarlah dari zona nyaman.” 

Lebih baik kau diam dan berkaca. Ya, kau tidak lebih baik.
Read More

Sabtu, 18 Desember 2021

Monolog dengan Lelaki dalam Kemelut Sejarah

Tahun ini kami memperingati kepergianmu tepat 52 tahun yang lalu. Aktivis, pemikir, dan pengajar par excellence Soe Hok Gie meninggal pada 16 Desember 1969 di Gunung Semeru, Jawa Timur. Gie berpulang ketika hendak merayakan hari ulang tahunnya yang ke-27 di puncak Semeru. 

Tulisan ini baru saya buat tiga hari setelah hari peringatan itu. Kesibukan, termasuk tenggat pekerjaan, menghalangi saya menyelesaikan tulisan ini. Sembari mengenang tindak tandukmu. Boleh kan saya bercerita kegelisahan-kegelisahan yang mungkin sama dengan yang kau alami dulu.

Kau, bagi saya, adalah lelaki dalam kemelut sejarah. Kau turut berperan menggulingkan rezim Soekarno. Presiden yang dalam banyak kesempatan kau sebut tega berpesta bersama istri-istrinya yang cantik di dalam istana, sementara rakyatnya di luar sana kelaparan.

Kegelisahanmu melihat polah rezim Soekarno pula yang mengantarkanmu “turun gunung” dari belantara kampus dan memilih terlibat dalam politik. Politik, adalah sesuatu yang sangat kau benci. Dalam buku Catatan Seorang Demonstran rekan-rekanmu menggambarkan betapa jijiknya kau melihat politik Indonesia. 

Rekan-rekanmu, Gie, menyampaikan bahwa kau melihat politik sebagai lumpur yang kotor. Politik menjadi jalan terakhimu berjuang manakala semua jalan atau pintu lainnya telah tertutup. Senior saya di Kompas sekaligus kawanmu, almarhum Rudy Badil, bilang, “Orang lurus macam Gie tidak cocok terjun ke politik.”

Membaca buku-bukumu, menonton film tentangmu membuat saya ingin meneladani kepribadianmu. Benar kau persis seperti yang digambarkan Rudy. Watakmu keras dan teguh dalam prinsip. Saya pun ingin menjadi orang lurus sepertimu. Terutama di dalam profesi yang saya geluti sekarang. 

Saya, jurnalis 28 tahun, serasa ikut merasakan kemuakan-kemuakan yang kau alami dulu. Kau merasa muak bercampur emosi melihat rekan-rekanmu sesama aktivis 65 terbujuk rayuan rezim Orde Baru untuk duduk di parlemen. 

Mereka teman-teman seperjuanganmu saat mengontrol kekuasaan Orde Lama, memilih berkhianat. Mereka tak lagi kritis apalagi berani mengawasi jalannya kekuasan agar tak ugal-ugalan. 

Situasi itu yang saya rasakan sekarang, Gie. Saya juga merasa ikut ditinggalkan teman-teman seperjuangan sesama jurnalis dalam mengontrol jalannya kekuasaan. Pers, adalah pilar demokrasi keempat. Mereka ada salah satunya untuk mengawasi kekuasaan. 

Saat pemilihan presiden 2019 usai, seluruh komponen oposisi memutuskan masuk ke pemerintahan. Mayoritas parlemen juga mendukung pemerintahan kedua Presiden Joko Widodo. Akibatnya, tiada lagi pihak yang bisa diandalkan untuk mengkritisi pemerintahan, kecuali pers.

Kondisi itu secuil contoh bagaimana besar dan mulianya peran pers dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di saat pihak yang seharusnya menjadi oposisi memilih hidup dalam ketiak kekuasaan, pers menjadi pelita terakhir yang diharapkan bisa menjalankan peran sebagai oposisi. 

Tapi kenyataannya, Gie, saya melihat para insan pers terutama di daerah tidak lagi seutuhnya sadar akan peran mulia tersebut. Mereka telah berubah menjadi pemburu rente yang menggantungkan hidupnya dari belas kasihan pemerintah. 

Kegiatan jurnalistik tidak menjadi aktivitas utama. Mereka lebih sering menemui para pejabat di daerah bukan untuk menulis berita, tetapi untuk lobi-lobi agar diberi proyek. Semua untuk keuntungan diri mereka sendiri, bukan pada tugas dan kewajiban memberikan informasi yang pantas kepada warga. Pers di daerah, sejauh yang saya lihat, tidak lagi menjalankan fungsinya sebagai anjing penjaga.

Kau tahu betapa hancurnya hati saya melihat rekan-rekan jurnalis di sekitar saya berubah menjadi corong kekuasaan. Mereka tak lagi skeptis apalagi kritis. Baru-baru ini, sebuah lembaga survei politik asal-asalan mengeluarkan rilis tentang seorang gubernur yang mereka sebut layak bersaing di tingkat nasional.

Saya tertawa membaca rilis mereka, Gie. Gubernur yang mereka coba orbitkan itu sama sekali tak layak di mata saya. Ia biarkan ketimpangan di daerahnya melebar, jalan-jalan rusak, korupsi di pemerintahannya, serta ketidakmampuannya menerima kritik adalah kelemahan terbesar dia. 

Dengan iming-iming uang ratusan ribu rupiah, rekan-rekan saya tanpa pikir panjang memilih menerbitkan berita tentang keunggulan gubernur yang telah lebih dulu dipoles oleh lembaga survei itu. Betapa godaan uang ratusan ribu telah melunturkan idealisme mereka. 

Tidakkah mereka menyadari bahwa menerima sogokan dalam bentuk halus itu juga merupakan sebentuk kecil tindakan korupsi? Bayangkan, opini pubik telah tergiring oleh berbagai pemberitaan rekan-rekan saya. Gubernur yang tak layak itu telah dipoles, kemudian mampu naik ke tampuk kekuasaan. Artinya rekan-rekan saya telah menyalahi nilai-nilai dalam jurnalisme.

Sejauh yang diajarkan kepada saya dulu, jurnalisme juga mengemban fungsi untuk melayani. Ia melayani masyarakat dengan menyajikan informasi yang layak, utuh, dan sebenar-benarnya. Dengan begitu, masyarakat bisa membuat pilihan yang pada akhirnya akan membantu menaikkan taraf hidup mereka kelak.

Menerbitkan informasi terkait gubernur yang telah dipoles sedemikian rupa tanpa mengkritisinya, sama saja dengan menyodorkan informasi keliru kepada masyarakat. Mereka pun akhirnya akan mengambil keputusan yang salah. 

Di titik itu saya teringat padamu Gie. Saya merasa turut mengalami kau yang dulu dikhianati rekan-rekanmu sesama aktivis yang kemudian duduk manis di parlemen. Kau kirimkan bedak dan gincu untuk mereka berdandan agar terlihat cantik di hadapan para penguasa. Saya ingin mengikuti langkah itu, tapi saya tak seberani kau Gie.

Dari kau saya belajar menjadi orang yang mempunyai prinsip: sekalipun saya tidak mempunyai harta lebih, jangan harap orang-orang berduit itu bisa membeli harga diri saya. Bukan berarti kalau kita butuh uang, maka kita biarkan orang lain berbuat manasuka kepada diri kita. 

Kalau kata Tan, pemuda memiliki idealisme sebagai kemewahan terakhir mereka. Saya meresapi betul kalimat-kalimat itu. Kemerdekaan dalam bertindak dan berpikir tanpa tekanan atau paksaan orang lain adalah yang utama. Sejenak kita boleh menyombongkan diri karena tidak menjadi boneka dari siapapun. 

Kau dan aku bukanlah orang yang bangga bisa hidup dari uang hasil suap. Karena suap adalah bentuk pelecehan yang kadang tidak disadari.

Kau, yang seorang Cina kere, tak tergoda iming-iming kekuasaan. Kau memilih tetap di jalurmu. Tetap menjadi orang lurus yang tak tergoda bujuk rayu serta kenikmatan hidup instan. Meski itu artinya kau akan dikucilkan oleh orang-orang di sekitarmu. Saya kagum padamu Gie.

Rasa-rasanya sudah cukup saya berkeluh kesah soal kegelisahan yang sama padamu. Kau sudah lama tiada tapi prinsip dan jalan hidupmu terasa kekal. Saya tahu, hanya dengan jalan hidup dan prinsip yang kau tunjukkan itu akan membuat kita dipandang lain dan lebih dihargai oleh khalayak. 

Jalan hidup dan segenap prinsip itu pula yang membuat kau akan selalu diingat sebagai lelaki dalam kemelut sejarah.
Read More

Minggu, 28 November 2021

Tidak Berhenti di 28

If you can imagine what your life will be in the future, it shows your lack of imagination,” – Daniel Gilbert. 

Saya berpikir hidup sudah mapan di usia 28. Saya pernah mengikuti mereka-mereka yang membuat daftar tentang apa saja yang harus dicapai sebelum 20, sebelum 30, sebelum 40, apapun sebelum jantung berhenti berdetak. 

Daftar itu kian panjang karena usia yang terus bertambah. Saya bak atlet lari halang rintang yang mengatasi satu demi satu rintangan. Seringkali rintangan tidak diatasi tapi lewat begitu saja. 

Semua berlalu, bukan? Lahir dan dibesarkan di tengah masyarakat konservatif membikin saya agak percaya bahwa di usia 28 seharusnya semua sudah final. Apa saja itu? Tentu karier dan pasangan hidup. 

Kalau kata banyak orang dua hal itu saja yang paling penting dari hidup yang singkat. Yang lain hanya figuran yang muncul dan tidak mengubah jalan cerita. Seringkali kita setia pada daftar yang kita buat. 

Setia pada pada daftar menunjukkan tekad, kekerasan hati, dan perjuangan. Individu macam itu diidamkan di banyak level kehidupan. Tapi, hidup saya bukan daftar belanjaan. Bahkan, ketika daftar-daftar dibuat, kejutan selalu datang. 

Menjadi 28 dan tidak dapat membayangkan masa depan seperti apa rasanya menakutkan. Mau kerja di bidang apa? Saya mau menulis sesuatu yang menggetarkan hati saya dan banyak orang. Tapi, bekerja pada orang? Hmm…itu sudah! Mau apa sesudah balik dari Ibu Kota? Mau pulang ke rumah dan memeluk ajik dan ibu tentunya. Mau menikah? Entar dulu deh.

Saya punya sahabat perempuan yang selalu dipusingkan dengan masalah pernikahan. Tekanan untuk segera menikah mungkin kerap datang kepadanya. Tapi, Oktober lalu ia baru saja berusia 27. Satu usia yang menurut saya tidak terlampau manula-manula amat sebagai seorang perempuan. Ya, ia masih muda dan enerjik. Kalaupun hilal pernikahan belum menghampirinya, agaknya Tuhan tengah menyimpan seseorang yang sangat berharga untuknya nanti.

Kabur

Masa depan mungkin kabur di mata saya. Tapi masa kini begitu jelas dan fokus bak objek yang dibidik dengan lensa bukaan 1,2. Saya kembali belajar jurnalisme dasar. Saya kembali belajar Bahasa Inggris yang singkat, bernas. Pikiran saya terus bekerja mencari ide-ide cerita untuk ditulis. 

Galau memang kadang berkunjung ketika membayangkan masa depan. Tapi, di tengah kegalauan saya teringat acara bincang-bincang yang pemandunya Daniel Gilbert. Singkat cerita, Daniel ingin bilang jika menjadi manusia adalah upaya yang tidak pernah selesai dan memang tidak bisa ‘diselesaikan’ melalui angka-angka seperti usia pun waktu. 

Pilihan kita di masa lalu tidak bisa dibandingkan dengan pilihan kita di masa depan karena kita adalah ‘diri’ yang berbeda. Mengingat masa lalu selalu lebih mudah ketimbang membayangkan masa depan. 

Saya manggut-manggut menonton video Daniel. Sepuluh tahun lalu saya tidak bisa membayangkan akan tinggal di Jakarta. Sepuluh tahun lalu saya tidak pernah berpikir untuk menjadi wartawan. Sepuluh tahun lalu saya tidak menyangka bahwa sepuluh tahun mendatang saya tetap membuat kesalahan. 

Masa depan tentu buah dari kerja keras masa kini. Tapi masa depan juga karya dari imajinasi yang terlalu liar pun kejutan yang seringkali mendebarkan. Seringai, sebuah grup musik rock oktan tinggi dari Bandung, punya lagu berjudul Berhenti di 15 yang berkisah tentang ekstase menonton konser metal grup musik idola ketika berusia 15 tahun. 

Musik kencang dan energi mengawang membeku di ingatan dan membuatmu berpikir hidup berhenti di 15. Tapi lagu ini juga menawarkan pandangan lain bahwa kau bisa terus punya jiwa muda berapapun usiamu melalui frase menyengat “jika musiknya terlalu keras, mungkin kau terlalu tua.” 

Dengan semangat yang sama, saya percaya bahwa hidup tidak berhenti di 28. Seorang teman yang baik pernah bilang, lebih baik mati berkali-kali dan lahir kembali dalam hidup daripada hanya hidup dan mati sekali. Itu metafora, tentunya. Hidup belum tamat dan untuk sesaat mari rehat membuat daftar. Mari berimajinasi kembali.

Read More

Senin, 22 November 2021

Lara, Nestapa, Sandiwara

Kau menemukanku, lotus berdaun dua belas

Kau menemukanku, tengkorak gelisah

Diredam empat dinding tembok putih

Dan jarum menatah inci demi inci kulit ari

Di ujung menit keseratuslimapuluh

Sakit adalah sebuah kesempurnaan
Read More

Selasa, 02 November 2021

Hujan

God is in the rain,” kata V, yang diperankan Natalie Portman nan cantik di film V for Vendetta. Dan Tuhan, belakangan ini, sedang turun dengan asiknya sepanjang hari di Tangerang Selatan. 

Bulir hujan merangsek ke celana jins, merembesi sepatu, membuat buram penglihatan. Begitu kosmopolit. 

Bulir hujan kadang begitu melankolis, saat menetes di kaca jendela, dan matamu nyalang menatap jalanan. 

Bulir hujan tampak begitu naif, menampung kaki telanjang bocah-bocah yang bermain kegirangan. 

Bulir hujan menebar ketakutan bagi petani yang menunggu panen empat bulanan. Tapi bagi saya, hujan selalu memunculkan tanya: menunggu atau menembus? 

Menunggu bisa jadi menyenangkan. Tidak basah kuyup sembari mengamati serpih-serpih Tuhan menghujami bumi. 

Menembus hujan jelas baju akan basah, walaupun sudah pakai jas hujan yang menjuntai hingga ke tanah. Hujan  selalu mampu melihat celah-celah yang merekah. 

Saya adalah orang yang cenderung memilih menembus hujan. Pun di sore yang sial tadi, hujan datang tanpa kompromi. Sedari pagi hingga senja, tak putus-putus dia menggoda. Dengan gembira saya menembusnya, mencumbu bulir-bulirnya, berdansa di dalamnya. 

Ada ekstase antara kesedihan dan kelegaan di dalamnya, seperti berhasil mengumpulkan semua bagian diri menjadi satu. Seperti mengetahui bahwa hujan akan membasahi, mengundang flu, membuat licin jalan, membuat got mampat dan cucian tak kering, tetapi semua tak mengapa. 

Semua yang akan tiba tidaklah mengapa. Dia tidak menyakiti. Ya, Tuhan mungkin ada di dalam hujan.
Read More

Minggu, 31 Oktober 2021

Tentang Menjadi 28 dan Baik-baik Saja

Get better, not bitter. Begitu pesan yang selalu disampaikan guru-guru yang mampir di kehidupan saya. Lalu, bagaimana cara menjadi lebih baik, ketika saya adalah laki-laki berusia 28 dengan pikiran yang terlalu liar di kepala? 

Saya resmi berusia 28 tahun empat bulan lalu. Tiga tahun lalu, saya membayangkan laki-laki berusia 28 sebagaimana teman semasa SMA. Mereka bekerja delapan jam sehari dengan seragam kantor dan meninggalkan istrinya tiap pagi. Tapi, kami punya mimpi yang berbeda. Di usia 28, saya masih berada di Jakarta, bergabung dengan media cetak terbesar di Indonesia setelah bergelut 1,5 tahun di koran lokal. Sementara teman semasa SMA saya memilih bertahan tinggal dan bekerja di Bali. 

Kesempatan mendapat pengalaman lebih pun tiba. Saya dinyatakan lulus untuk masuk Kompas setelah melalui serangkaian seleksi ketat di Surabaya. Lalu seorang teman jurnalis di Bali bilang: “Nggak semua orang seberuntung kamu bisa keterima di sana”. Satu pesan lagi : “Enaknya gabung di Kompas. Jam kerjanya kayak PNS, gajinya besar.” 

Saya laki-laki 28 tahun dengan pengalaman kerja enam tahun. Saya pikir saya jatuh cinta pada jurnalisme, tapi toh saya sesekali menggerutu pada dunia yang lekat dengan tenggat ini. 

Tawaran menggiurkan sempat datang dari lembaga nonprofit dan godaan bekerja di kampung halaman. Belum lagi saya pernah berjanji dengan seorang perempuan spesial dari Bali utara, bahwa saya berniat melanjutkan sekolah agar bisa berjalan bersisian dengannya. 

Semua punya dinamikanya tersendiri tetapi saya merasa tak mampu bergerak seirama dengan dinamika itu. Jadi, kalau dipikir-pikir mengeluh dan menggerutu, juga rencana melanjutkan sekolah, adalah eskapisme belaka. Ada benarnya juga. Walaupun nanti semisal bisa melanjutkan sekolah, saya yakin selalu ingin kembali bekerja saja. Dasar manusia. 

Menjadi 28 tahun dan sendirian di daerah orang adalah perjuangan yang lain. Saya independen dan individualis. Setidaknya saya selalu berpikir demikian. 

Saya ingat pada bulan-bulan awal saya tiba di Jakarta, saya tiba-tiba merasa begitu sendirian. Saya menelepon rumah dan menangis sesenggukkan. Ajik dan ibu saya tertawa-tawa. Saya tidak menangis ketika ditempatkan di Tangerang raya atau ketika saya harus liputan ketika Galungan dan Kuningan. 

Selama hampir 5 tahun jauh dari rumah, saya relatif jarang menelepon keluarga sembari menangis. Kali ini saya menangis, lebih disebabkan teman-teman dekat perlahan menghilang. Mereka jadi punya dunianya masing-masing dan saya hanya punya satu orang sahabat dekat saat ini. 

Saya menangis, dalam, panjang, dan bersuara atas keadaan ini. Terkadang hal-hal sepele bisa mengganggumu. 

Kadang kau bingung kenapa tidak ada seorangpun yang bisa kau ajak bicara soal musik yang kau suka, buku yang kau baca, film yang membuatmu tak mampu berkata-kata berhari-hari. 

Kadang kau bingung mengapa orang selalu suka hidup dalam gerombolan sementara petualangan paling mendebarkan datang ketika kau sendirian. 

Kadang kau bingung mengapa orang lebih suka menatap layar telepon genggam ketimbang mata lawan bicara. Kadang kau bingung kenapa manusia masih menonton televisi. 

Kadang kau bingung mengapa imajinasi tanpa batas selalu dimaknai sebagai absurditas. Tapi, lebih sering kau menyadari bahwa menemukan seorang teman dengan siapa kau berenang-renang di frekuensi yang sama adalah sulit. 

Menjadi 28 tahun di perantauan adalah pelajaran paling berharga. Dengan semua kebebasan yang saya punya dan ketidakpedulian pada apa kata orang, saya bisa melakukan apa saja. 

Saya membuat kesalahan. Saya memperbaikinya. Saya menemukan teman untuk bepergian atau membicarakan musik dan film. Saya menemukan teman untuk kisah-kisah lainnya. Saya menyadari tidak ada satu sosok yang bisa memenuhi semua keinginan saya. Sama halnya, saya tidak mampu menjadi satu sosok yang lengkap untuk memenuhi semua keinginan orang lain. 

Menjadi 28 tahun di daerah orang adalah pelajaran bahwa semua kehidupan di belakang saya mampu membuat saya menjadi pahit. Tapi, saya tidak memilih menjadi pahit. Dan lagi, imajinasi saya masih tanpa batas, pikiran saya masih liar, saya masih impulsif, saya masih iri pada burung-burung senja, saya masih suka nyinyir. Tapi, yah, saya baik-baik saja.
Read More

Sabtu, 14 Agustus 2021

Dunia Saya, Panggung Pengamen Jalanan

Sesaat saya serasa berada di konser mini beraliran musik folk ketika seorang pengamen di sebuah sentra kuliner di Rawamangun, Jakarta Timur, menyajikan tembang dari The Trees and The Wild dan Ikhsan Skuter 14 Agustus malam. Pengamen itu menyanyikan lagu-lagu folk kesukaan saya tanpa sedikit pun cela. Nada-nadanya pas, iramanya mengena, suaranya juga lumayan. 

 

Saya pikir ini bakal jadi malam folk pertama saya hanya dengan Rp 2000 perak di Jakarta. Tapi pengamen itu, langsung mematahkan hati saya ketika dari mulutnya kemudian meluncur salah satu lagu hasil aransemen ulang oleh Pasto. Saya memang kurang suka terhadap musisi yang suka me-recycle lagu-lagu karya musisi lama. Bagi saya, mendaur ulang karya musisi lain itu mencerminkan rendahnya kreativitas. 

 

Tapi saya terhibur sekali dengan penampilan si pengamen malam tadi. Dia tahu betul caranya menyenangkan penikmat musik folk yang sekian lama absen menonton konser akibat digebuk pandemi. Dia menciptakan panggung hiburan selayaknya konser folk mini yang terakhir kali saya saksikan tiga tahun silam.

 

Panggung hiburan sedianya punya misi untuk menghibur, dan yah saya pun tertawa kala itu. Tapi ada pertanyaan lebih besar di kepala saya, siapakah pengamen itu? Siapakah puluhan  orang-orang yang berada di sekitar saya di sentra kuliner itu? Apa yang membuat di masa penerapan PPKM darurat mereka lebih tersedot mencari "panggung hiburan" ketimbang berlindung di kubah rumah? 

 

Yang lebih dahsyat, salah seorang pengelola sentra kuliner ini mengaku akhir-akhir ini justru semakin sibuk mengawasi penerapan protokol kesehatan di sentra kuliner agar tak diteror petugas satuan polisi pamong praja (satpol pp). Setelah sempat mati suri di masa-masa awal PPKM darurat bulan lalu, sentra kuliner ini kembali bergeliat. Pedagang-pedagang kembali bekerja, alat masak menyala, dan uang-uang berpindah tangan. 

 

Mereka kembali berdagang tentu untuk mencari nafkah di tengah ketidakpastian situasi pandemi ini. Selain juga demi melayani warga yang selalu haus hiburan karena bosan berdiam diri di rumah. 

 

Ini konsekuensi sebuah kota, mungkin. Jakarta, yang jadi kota terbesar di Indonesia, menjadi tempat berkumpulnya belasan juta manusia. Kota ini jadi harapan terakhir bagi mereka-mereka yang berputus asa tak memperoleh apa-apa di daerah asal. Dan saya juga merupakan salah satunya.  

 

Jakarta sejak dulu sudah sangat padat dengan manusia. Orang-orang terus berdatangan ke sana, utamanya usai Idul Fitri dan arus balik Lebaran. Padahal, menurut saya apa juga gunanya menjejali Jakarta. Toh lebih enak bercocok tanam atau memancing ikan di sungai di desa. 

 

Tapi inilah ciri khas kota besar. Segalanya lengkap. Mau ke mal atau berobat di rumah sakit berfasilitas paling mutakhir, semuanya ada. Sistem transportasi publik di sini juga yang terbaik di Indonesia. 


Jakarta punya segalanya yang bisa dibeli oleh uang. Lalu, apa yang tertinggal dari sebuah kota?  Yang bisa saya ingat dari sebuah kota bukan hanya sebuah nama. Kita bukan berada di dunia Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL) yang menandai setiap kota dan negara hanya dengan ibu kota dan monumen pentingnya. 

 

Kota, bagi saya, adalah sebuah pengalaman. Numpang tinggal selama tiga bulan saja tidak akan pernah cukup untuk menangkap nyawa sebuah kota, seperti hanya ibarat menonton panggung hiburan oleh pengamen sekitar 20 menit yang menyisakan senang sesaat.     

 

Dunia panggung  

 

Hampir lima tahun di Jakarta bagi saya memang masih seperti melihat panggung hiburan. Saya memaki budaya mal di sini tapi menyempatkan waktu untuk kadang nongkrong di dalamnya. Saya menontoni mereka yang datang ke mal dengan gaun dan rambut tertata rapi hanya untuk sepiring nasi goreng di sebuah kafe. 

 

Parfum-parfum berbaur dengan kretek terbakar, gincu disapu aroma kafein. Kota ini akan homogen dengan kota-kota lainnya yang berayah pembangunan dan beribu kandung industri. Anak-anaknya ialah gedung bertingkat, kawasan industri, infrastruktur setengah jadi, pelayanan publik setengah hati, dan mal-mal pongah percaya diri. Anak tirinya ialah kali-kali bau, sampah-sampah tak terangkut, lapak-lapak liar, dan mungkin saya, perantau kehilangan jati diri.  

 

Saya tidak pernah suka kota ini, tapi ini panggung saya. Ini tempat saya harus menjadi penampil yang baik, setidaknya bagi orang-orang dengan siapa saya bekerja. Tapi saya bukan pengamen itu yang begitu menjiwai perannya di "panggung" sentra kuliner. Apakah semua perantau selalu gelisah dengan kota perantauannya?  

 

Pukul 21.00 sentra kuliner ini harus tutup karena aturan PPKM darurat. Pengamen itu pun menyudahi pertunjukannya dengan senyuman terakhir di wajah seraya mengucapkan salam dan terima kasih. 

 

Tapi saya masih tertegun di sana, di panggung saya, menunggu pertunjukkan berikutnya.  Sejenak saya iri pada pengamen itu yang panggungnya lebih nyata dari panggung saya. 

 

Panggung saya terlalu asing dan abstrak. Atau mungkin semua orang sebetulnya berada di panggung imajiner mereka, merasa terasing di tengah kota yang tak lagi sama dengan ingatan mereka. Yah, semisal suatu saat ketika berkesempatan kembali bertemu pengamen itu, akan saya tanyakan namanya. Saya tanyakan ke mana dia ingin pulang. Mungkin saja kami sama-sama terasing, di Jakarta.  

Read More

Jumat, 13 Agustus 2021

Pengendara Ojek Daring dan Buku Bekas

Jalan Tarumanegara, Tangerang Selatan, Banten, cukup padat pada Kamis (12/8/2021) sore. Pengendara motor menyesaki sebagian ruas jalan di dekat kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, tersebut. Situasi arus lalu lintas sore itu amat kontras dibandingkan dengan beberapa jam sebelumnya.

 

Di tengah kepadatan arus lalu lintas, satu orang di antara pengendara motor itu menepi dari jalanan. Motornya ia parkir di depan sebuah toko buku bekas, tempat di mana saya sedang duduk-duduk sembari ngobrol dengan karyawan toko.

 

"Apa di sini jual buku soal metamorfosis?" tanya bapak pengendara sepeda motor itu setelah memarkir kendaraannya di halaman toko buku.

 

Karyawan toko buku bekas dan saya menghentikan obrolan sejenak. Pengendara sepeda motor itu rupanya seorang pengemudi ojek daring. Pakaiannya setengah lusuh. Jaket hijau yang dia kenakan agak kumal. 

 

"Enggak ada kayaknya buku itu. Di sini adanya buku mahasiswa," ucap karyawan toko buku.

 

Saya mengernyitkan dahi. Setahu saya ada buku ensiklopedia yang isinya kurang lebih soal metamorfosis dan rahasia alam semesta. Buku itu bila tak salah, sempat saya lihat beberapa jam sebelumnya di salah satu rak di dalam toko. Seketika saya sampaikan bahwa buku yang ia cari itu ada di dalam toko. Saya mengajaknya masuk dan ikut mencari.

 

Jadilah saya dan pengemudi ojek daring itu sibuk membolak-balik tumpukan buku di dalam rak. Sambil mencari buku, dia bercerita tentang anaknya. Rupanya buku metamorfosis itu akan dia berikan kepada sang anak yang masih duduk di bangku kelas 1 SD. 

 

Pengemudi ojek daring ini sengaja mampir ke sebuah toko buku bekas untuk mencarikan buku yang diminta sang anak. Ia menyisihkan sebagian waktunya untuk itu. Padahal target orderan atau mengantar penumpang hari itu belum ia capai.

 

"Anak saya sudah mulai suka membaca. Dia senang baca buku yang banyak gambarnya. Saya belikan saja buku biar dia tidak main HP terus," katanya.

 

Saya tertegun mendengar perkataannya. Keinginan bapak pengemudi ojek daring itu menyentuh sanubari. Saya menilai ia orang yang perduli pada tumbuh kembang anaknya. Kendati (menurut dia) penghasilannya sebagai pengemudi ojek daring pas-pasan, tapi dia menginginkan buku sebagai benteng bagi anaknya agar tak melulu menengok layar ponsel. 

 

Sekitar 20 menit kami mencari buku yang dimaksud, tapi belum ketemu. Sampai pada akhirnya pandangan saya tertuju ke sebuah buku setebal 3 sentimeter di bagian rak paling atas. Ada dua buku ensiklopedia khusus anak-anak dengan banyak gambar di dalamnya. Persis seperti yang bapak pengemudi ojek daring itu cari.

 

Saya serahkan buku itu kepadanya, ia lalu membolak-balik halaman demi halaman. "Wah ini yang saya cari. Terima kasih ya, mas," katanya. 

 

Bapak pengemudi ojek daring kemudian menanyakan harga buku itu. Karyawan toko buku bekas menyebut harganya Rp 40 ribu. Harga yang bagi saya masih terjangkau.

 

"Rp 40 ribu? Saya kira bisa dapat harga Rp 20 ribu," kata bapak pengemudi ojek daring.

 

Saya terdiam mendengar jawabannya. Tak disangka buku bekas seharga Rp 40 ribu teramat berat bagi dia. Hari itu barangkali penghasilannya belum seberapa. Atau mungkin uang segitu sudah dia kantongi, namun ada keperluan lain yang lebih mendesak untuk dipenuhi. 

 

Dengan wajah sedikit kecewa ia mengembalikan buku ensiklopedia itu kepada karyawan toko. "Tolong buku ini disimpan dulu saja. Saya mau narik ojek biar dapat uangnya dulu. Setelah itu saya balik lagi ke sini ambil bukunya," katanya.

 

Bapak pengendara ojek daring itu beranjak pergi. Sejurus kemudian saya mencegah dia berlalu. Saya tawarkan buku itu untuknya. Urusan bayar-membayar biar saya yang selesaikan. Bapak itu berhenti. Dia memandang saya lekat-lekat seolah tidak percaya.

 

"Terima kasih mas. Apa ini saya jadinya tidak merepotkan mas? Tidak apa-apa saya narik lagi aja dulu," katanya.

 

"Tidak apa-apa pak. Biar saya yang traktir buku itu buat anak bapak. Bapak habis ini pulang saja. Nggak usah narik lagi buat cari uang bayar buku." Saya lalu masuk ke dalam toko untuk mengambil dompet di dalam tas.

 

Bapak itu mengikuti saya ke dalam toko. Sepatu yang sudah dia kenakan dilepaskan lagi. Di dalam toko, ia menyalami saya dengan setengah menundukkan badan. Kedua tangannya menggenggam erat tangan kanan saya.

 

"Terima kasih banyak mas. Semoga berkah," katanya.

 

Luluh juga hati saya mengalami momen tersebut. Tidak disangka uang Rp 40 ribu sangat berarti baginya. Di sini saya merasa beruntung sekaligus bersyukur masih diberikan rezeki oleh Hyang Widhi untuk bebas memilih dan membeli buku apapun yang saya mau. Saat masih kecil, orangtua saya tergolong mampu untuk membeli semua buku yang saya pinta. 

 

Kejadian sore itu membuat saya semakin tersadar. Masih banyak orang kurang beruntung di belahan dunia sana. Sejujurnya, saya tidak memiliki motif apa-apa kecuali membayangkan anak bapak pengendara ojek daring itu tersenyum ketika melihat buku yang dia incar sudah dibawa pulang oleh sang bapak. Hanya itu.

 

Saya dapat mengerti bagaimana rasanya diberikan buku oleh ajik dulu. Kegemaran saya membaca juga karena beliau sejak dulu rutin membelikan saya buku-buku, entah itu komik, majalah, atau pengetahuan umum. Maka, ketika ada seorang bapak yang dengan niat mulia ingin memberikan bahan bacaan untuk anaknya, saya tidak kuasa untuk tidak menolongnya.

 

Read More

Minggu, 06 Juni 2021

Sesat

Pada suatu perkuliahan di kampus FISIP Universitas Airlangga sekitar tahun 2014, dosen saya, Antun Mardianta berkali-kali menekankan pentingnya mahasiswa mempelajari materi kuliah dari sumber yang kredibel. Saya masih ingat ia mengeluhkan pengetahuan mahasiswanya yang diperoleh dari sumber-sumber tak jelas macam blogspot atau media sosial. 

“Jangan ikuti itu, itu sesat,” demikian katanya dengan ekspresi wajah datar sembari menahan rasa letih di tengah-tengah jam mengajar. 

Saya menilai Pak Antun sebagai dosen yang disiplin dan tegas. Ia tak menyukai mahasiswa yang malas membaca. Dalam satu kesempatan pula, ia menyindir polah mahasiswa yang lebih senang membaca berita-berita sepak bola dibandingkan ragam pengetahuan yang ada di rubrik opini Kompas.

Sikapnya itu didasari keinginan agar kami, mahasiswa ilmu administrasi negara, punya pemahaman yang utuh dan menyeluruh atas materi kuliah. Dari kebiasaan memperoleh pengetahuan dari sumber-sumber yang kredibel, Pak Antun berharap kami mampu menghasilkan karya tulis yang baik.

Kebiasaan Pak Antun itu kembali saya ingat di awal Juni 2021 ini, tujuh tahun setelah momen di ruang perkuliahan itu. Saya kembali ingat karena hari ini berkali-kali keliru dalam mendapatkan informasi terkait berita keberhasilan peselancar Indonesia lolos ke Olimpiade Tokyo 2020.

Berita sudah saya tuntaskan menjelang sore hari. Sumber-sumber atau bahan berita saya dapatkan dari hasil wawancara dengan Sekretaris Jenderal Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Ferry Kono dan Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Gatot S Dewa Broto. 

Tulisan kurang lebih menginformasikan satu peselancar Indonesia, Rio Waida, berhasil menyegel satu tiket ke Olimpiade Tokyo setelah mengikuti kualifikasi di El Salvador. Kebetulan ini adalah kali pertama saya menulis tentang olahraga selancar. Tambahan lagi, saya baru seminggu bergabung kembali ke desk olahraga harian Kompas setelah sebelumnya berpindah-pindah desk.

Dengan kondisi begitu, tentunya butuh adaptasi dalam memahami isu-isu olahraga. Keadaan menjadi semakin rumit manakala yang saya tulis adalah selancar. Cabang olahraga yang saya tak begitu pahami.

Maka dari itu, mulailah saya meriset-riset tentang selancar. Dari sana saya baru tahu bahwa selancar baru kali ini dipertandingkan di Olimpiade. Setelah bahan terkumpul, saya menulis dan mengirimkannya ke editor. 

Malamnya, salah satu editor berkali-kali menghubungi saya. Katanya, berita saya diplot untuk naik di halaman satu Kompas esok hari. Saya diminta menambahkan sejumlah informasi esensial, seperti mengapa selancar baru kali ini masuk Olimpiade dan berapa jumlah kontingen Indonesia di Olimpiade sebelumnya.

Perbaikan dan tambahan pun saya kirim ulang ke editor. Namun, masalah tidak selesai sampai di sana. Beberapa jam kemudian, editor kembali menelepon. Ia mempertanyakan validitas informasi yang saya benamkan di tubuh berita. 

Untuk hal ini saya mengakui sangat teledor. Saya mengutip mentah-mentah sejumlah paragraf dalam siaran pers yang dikirimkan KOI. Karena dikirim oleh lembaga sekelas KOI, saya pun tak bersikap skeptis dan menuliskan semua informasi yang termaktub di siaran pers tanpa mengujinya lagi.

Editor memberitahu saya bahwa lokasi tempat selancar dipertandingkan di Jepang nanti bukan Pantai Shidashita, melainkan di Pantai Tsurigasaki. Mendengar hal sepenting itu bisa keliru, saya malu bukan main. Betapa bodohnya saya begitu saja mempercayai informasi dari KOI tanpa memeriksanya lebih dulu. 

Kekeliruan itu bisa terjadi antara lain karena KOI menyewa public relation atau humas eksternal untuk menyiapkan siaran pers dan melayani wartawan. Saya luput menyadari hal itu. Dari awal semestinya saya sadar humas eksternal yang dipekerjakan KOI sangat mungkin keliru dalam memberikan informasi. Bahkan orang KOI pun juga tak mungkin bisa seratus persen akurat dalam memberikan keterangan.

“Lain kali, pahami dulu apa maksud informasi yang ada di rilis. Setelah itu baru kamu tulis lagi dengan kalimatmu sendiri. Jangan langsung copy-paste, karena siaran pers kualitasnya biasanya enggak memenuhi standar Kompas,” begitu kata editor. 

Kali ini saya diingatkan kembali tentang salah satu disiplin dasar dari jurnalistik: verifikasi, verifikasi, verifikasi. Sebagai wartawan, saya melupakan begitu saja prinsip dasar dalam mencari informasi. Kemalasan dan perasaan ingin segera bebas dari tugas membuat saya lengah.

Informasi lain juga saya kutip secara serampangan. Jumlah kontingen Indonesia di Olimpiade sebelumnya, yaitu Olimpiade Rio 2016 saya keliru sebutkan. Saya awalnya mencantumkan kontingen Indonesia pada 2016 sebanyak 22 orang dari 28 cabang olahraga. Setelah dicek kembali, jumlah atlet Indonesia di Rio kala itu ternyata 28 orang dari 7 cabang olahraga. 

Kesalahan itu karena saya mengambil informasi yang berceceran di media online lain. Informasi-informasi yang ada di media-media online ternyata jarang yang akurat. Saya paham benar kondisi itu, tapi menutup mata agar bisa segera merampungkan tulisan. Serta merta saya merasa sangat bersalah dan bodoh hari ini. 

Semua sudah berlalu dan yang bisa saya lakukan sekarang adalah lebih berhati-hati ke depan. Nasihat Pak Antun bertahun-tahun silam kembali relevan bagi saya yang kini berada di dunia kerja. Bila saat masih mahasiswa dulu saya bisa mendapat permakluman jika salah mengambil informasi dan tersesat, kini dengan posisi sebagai wartawan saya tak bisa mengambil risiko menyesatkan orang yang membaca tulisan saya.


Read More

Selasa, 25 Mei 2021

Segala Hal yang Serba Singkat

Apa yang mungkin lebih singkat dari Kabinet Dwikora II? Kebersamaan saya di desk multimedia harian Kompas. Bila Kabinet Dwikora II hanya berusia 32 hari, saya hanya bertahan sekitar 14 hari di desk multimedia. Sebagai jurnalis, perpindahan atau rotasi adalah hal yang biasa.

Per 1 Mei 2021, sesuai kebutuhan perusahaan, saya dirotasi dari desk saya sebelumnya, yaitu desk regional ke desk multimedia. Target dan kebutuhan perusahaan mengharuskan adanya perpindahan itu. Awalnya saya kaget menerima pengumuman pindah, selain karena baru 1 tahun di desk regional, keputusan itu disampaikan mendadak. Tapi beginilah dunia jurnalistik. Kita harus siap sedia bila kantor membutuhkan tenaga kita sewaktu-waktu. 

Setelah bergabung di desk multimedia, perusahaan kembali merotasi saya. Kali ini lebih mendadak lagi lantaran seorang senior memutuskan resign. Alhasil jadilah kebersamaan singkat saya tersebut mematahkan rekor Kabinet Dwikora II seperti yang sudah disinggung di atas.

Entah mengapa tahun 2021 ini saya lekat dengan kebersamaan yang singkat. Selain urusan desk alias pekerjaan, hubungan saya dengan seorang perempuan di Bali yang hanya tiga bulan juga harus kandas. 

Saya bersedih atas kehilangan yang beruntun tersebut. Seakan-akan dunia tak berpihak lagi pada saya. Tapi seperti kata orang, selalu ada hal yang bisa disyukuri dari segala duka. Pasti ada hikmah yang bisa dipetik dari setiap nestapa. Ada yang menggugah dalam suatu scene di film The Life of PI. Karakter utama si PI mengatakan hal yang menyentuh: ketika Tuhan seolah meninggalkan dan tak perduli pada nasib kita, sesungguhnya ia sedang menjaga kita. 

Atau ingatlah pula apa yang dikatakan Quraish Shihab pada Najwa: boleh jadi keterlambatanmu dari suatu perjalanan adalah keselamatanmu. Bisa saja tertundanya pernikahanmu adalah suatu keberkahan. Boleh jadi engkau membenci sesuatu tapi ternyata itu baik untukmu. Karena Tuhan maha mengetahui, sedangkan kita tidak mengetahui. 

Dan saya bersyukur, selalu ada teman-teman di sekitar yang mendukung tak perduli bagaimana kondisimu. Mereka senantiasa ada untuk mendengarkan. Sebuah uluran tangan yang sepele tapi sangat berarti. 

Kembali ke hal yang singkat-singkat, uluran tangan itu bisa berbentuk kesediaan menerima telepon di malam hari, atau menyaksikan matahari terbenam di BSD. 

Momen menyaksikan langit jingga itu sangat singkat. Tetapi amat berarti. Seolah, dalam tempo dua jam saja aura yang tersaji di sana mampu menghapus semua duka. Meski hanya sesaat. Sore-sore yang kita lewati itu jadi hal yang singkat daripada kebersamaan saya di desk multimedia.

Saya salah. Awalnya saya kira tak ada lagi hal yang lebih singkat. Ternyata, ada. Ini menyadarkan saya bahwa selalu ada langit di atas langit. Pun dengan seorang perempuan di Bali yang saya pikir tak ada yang lebih memukau dibandingkan dengannya. 

Semoga kelak suatu saat, saya dipertemukan dengan seorang perempuan yang lebih bersinar. Lebih dapat memahami. Juga lebih mengerti. Perempuan yang akan menghapus segala yang singkat-singkat dari hidup saya yang sesaat.

Read More

Rabu, 05 Agustus 2020

Timnas Bhutan dan Pentingnya Menangkap Serpihan Kebahagiaan di Sekitar Kita

Penduduk Bhutan seolah selalu punya mantra yang mampu mengubah serpihan kecil kebahagiaan menjadi energi besar yang berdampak luar biasa.

 

Bhutan, negara kecil di kaki Gunung Himalaya, terbiasa menyuguhkan kebahagiaan. Di Bhutan, arti sesungguhnya dari kebahagiaan bisa dipelajari, bahkan dari sebuah pertandingan sepak bola.

 

Pada satu pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Asia menghadapi Maladewa, penggawa Bhutan menunjukkan betapa kebahagiaan sebetulnya selalu ada di sekitar kita. Makna kebahagiaan senantiasa tergantung pada bagaimana kita menangkapnya.

 

Pertandingan yang saya maksud dihelat di Changlimithang Stadium di Kota Thimphu, Ibu Kota Bhutan, Oktober 2015. Pendukung Timnas Bhutan sudah menjejali seisi stadion beberapa jam menjelang sepak mula pertandingan. Riuh penonton kian menggema saat pemain kedua tim memasuki lapangan.

 

Dukungan tak hanya datang dari penonton, melainkan juga Sang Buddha. Iya, patung Buddha, lebih tepatnya. Di luar stadion, patung Buddha setinggi sekitar enam meter menjulang, wajah Buddha menatap ke arah lapangan. Telapak tangan patung Buddha itu mengarah ke arah dalam stadion, seolah memberikan ‘mertha’ atau doa restu bagi pasukan Bhutan. Namun, luapan dukungan itu tak membuat Timnas Bhutan mengawali laga dengan apik.

 

Gawang Hari Gurung sudah jebol secara prematur di menit ke-11. Pelakunya adalah Ahmed Nasid, pemain serang utama Maladewa. Mendapat sodoran bola lambung dari lini tengah, Nasid tak kesulitan mengarahkan bola melewati Gurung yang telanjur meninggalkan sarangnya. Seisi stadion sempat mengambil jeda sejenak, mereda dari sorak sorai, namun segera riuh kembali tak lama berselang.

 

Penderitaan Bhutan belum cukup sampai di sana. Sebab, 12 menit setelahnya gawang mereka kembali dibombardir Ali Ashfaq dengan enteng sebanyak tiga kali. Benar, saya tak salah tulis, tiga kali! Trigol Ashfaq tercipta dengan rincian dua kali di babak pertama, dan sekali di babak kedua. Tertinggal empat gol bukanlah situasi yang mengenakkan bagi Bhutan. Bagaimana pertanggung jawaban mereka kepada para suporter –dan bahkan Sang Buddha- yang telah mendukung mereka mati-matian?

 

Gurung yang menjabat kapten Bhutan di pertandingan itu tersenyum simpul. Ia menoleh ke arah tribun stadion yang atapnya lebih menyerupai atap kuil. Para pendukung Bhutan masih di sana. Mereka tidak meninggalkan bangku stadion lalu memilih pulang. Pendukung Bhutan bergeming, meski mereka tahu timnas mereka di ambang kekalahan telak.

 

Dalam kondisi tertinggal begitu jauh, toh, mereka tetap bernyanyi serta meneriakkan kata-kata yang membakar semangat pemain Bhutan. Para suporter, agaknya, hendak menunjukkan kepada pemain timnas Bhutan bahwa mereka tidak sendirian. “Penderitaan ini biarlah kita tanggung bersama”, mungkin demikian gumam para suporter Bhutan. Pada titik itulah saya melihat momen perjuangan kolektif sebuah bangsa dipertontonkan secara telanjang. Di tengah situasi sulit, mereka tak meninggalkan satu sama lain, tapi justru saling menguatkan.

 

Dan entah kenapa tampaknya dukungan tak putus-putus dari penonton itu seakan berubah menjadi mantra baru yang menyuntikkan energi kepada para pemain Bhutan. Benar saja, di pengujung pertandingan, para pemain Maladewa yang sudah siap kembali ke negara mereka dengan kemenangan mudah malah direpotkan oleh pemain Bhutan.

 

Tshering Dorji mengawali perlawanan balik Bhutan tersebut. Memanfaatkan bola liar di depan gawang Maladewa, Dorji dengan lihai menyepak bola yang gagal ditangkap secara sempurna oleh Imran Mohamed. Gol tersebut sontak membuat pendukung Bhutan kian bergemuruh. Sepakan Dorji mengawali semangat baru anak-anak Bhutan.

 

Sisa waktu coba dimanfaatkan pemain Bhutan untuk mengejar ketertinggalan. Mereka tampil kesetanan jelang laga berakhir. Pemain Maladewa mereka bikin kewalahan meladeni tusukan-tusukan tajam nan berbahaya.

 

Harapan itu terjawab di menit ke-88. Chenco Gyelthsen merobek jala Maladewa dan disusul dua menit setelahnya Biren Basnet melakukan hal serupa. Papan skor tak lagi timpang 0-4 melainkan berubah 3-4. Semangat pemain Bhutan mampu memangkas jarak yang sedemikian lebar dengan Maladewa.

 

Pemain Bhutan enggan takluk begitu saja, menolak kalah secara cuma-cuma. Anak-anak Bhutan tampil militan di menit-menit akhir, seolah tak rela membiarkan pemain Maladewa membawa pulang tiga poin dengan mudah.

 

Meski tak mampu menang atau minimal menahan seri Maladewa, skor 3-4 tersebut sudah lebih dari cukup bagi Bhutan. Maladewa, nyatanya, jauh berpengalaman dan memiliki materi pemain lebih baik dari Bhutan. Apalagi sebelumnya mereka sempat mengalami defisit hingga empat gol. Memberikan perlawanan sengit hingga mampu menceploskan tiga gol di menit-menit akhir pertandingan sudah dirasa seperti kemenangan bagi pemain Bhutan.

 

Semua raihan Bhutan di malam pertandingan itu tak lepas dari kontribusi pendukung setia mereka dan, tentu saja, restu Sang Buddha.

 

Alih-alih lempar handuk dan membiarkan Maladewa menang dengan mudah, anak-anak Bhutan memilih mengumpulkan serpihan-serpihan kebahagiaan yang dilemparkan para pendukungnya sepanjang pertandingan. Yel-yel dukungan serta sorak sorai menjadi lebih dari sekadar kata-kata penyemangat, tapi telah menjelma bagai sebuah kebahagiaan tak terpermanai bagi pemain Bhutan.

 

Situasinya seperti Anda berada pada sebuah kondisi mahasulit, yang mana satu per satu orang kepercayaan Anda mulai meninggalkan Anda. Di saat orang lain membiarkan Anda berkubang dalam masalah, pendukung Bhutan tetap tinggal dan menjadi semacam support system yang ajek. Mentalitas seperti itu tak mungkin diperoleh dari tipe masyarakat yang ‘ngambekan’ atau baperan. Sering kita lihat, di pertandingan besar sebuah liga elite eropa, suporter sebuah tim buru-buru cabut dari stadion lantaran tim kesayangannya bermain kelewat jelek.

 

Timnas Bhutan di awal-awal laga, bisa dilihat, bermain sama jeleknya. Bahkan mungkin lebih jelek dari kesebelasan Eropa itu. Namun, penduduk Bhutan bersetia, entah berapa kali gawang mereka kebobolan, pendukung Bhutan selalu bertepuk tangan menyemangati para pemain. Itulah sebentuk kecil kebahagiaan yang menyelinap di relung hati para pemain Bhutan.

 

Identik dengan kebahagiaan

 

Dalam persepktif dunia luar, Bhutan memang telanjur identik dengan kebahagiaan. Ini tidak lain berkat gagasan besar raja keempat Bhutan, Jigme Singye Wangchuck (1972-2006), yang enggan mengikuti arus utama dunia dalam mengukur kesejahteraan suatu negara. Ia tidak berpedoman pada gross national product (GNP) atau produk nasional bruto, pendapatan total ekonomi negara selama setahun.

 

Sang Raja telah menelurkan gagasan sendiri untuk negerinya, yakni gross national happiness (GNH). Ini adalah pendekatan pembangunan yang berkelanjutan dan holistik, yang mengharmoniskan aspek material dan non-material, demi kebahagiaan rakyat. Dari gagasan besar GNH inilah yang kemudian turun menjadi empat pilar prinsip pembangunan, yaitu konservasi lingkungan, preservasi dan promosi kebudayaan, keberlanjutan dan kesetaraan pembangunan sosial ekonomi, serta praktik pemerintahan yang baik.

 

Ide besar raja itu sebenarnya amat dipengaruhi filosofi ajaran Buddha dalam memaknai konsep kebahagiaan. Bhutan sendiri adalah negeri kerajaan Buddha Himalaya terakhir di dunia. Kini, setelah Bhutan dikenal di arena internasional, mereka tidak ragu untuk mempromosikan nilai-nilai warisan luhur itu kepada dunia.

 

Soal bagaimana memaknai kebahagiaan, ada penjelasan sederhana, yaitu suatu kondisi batin yang terbebas (atau setidaknya berjarak) dari rasa menderita. Dan, itu dapat dimulai dengan melatih kesadaran atau mindfulness, kasih sayang atau compassion, kesabaran, kebaikan hati, dan kekosongan atau emptiness. Latihan meditasi menjadi metode yang signifikan untuk mengembangkan kemampuan tersebut.

 

Kembali ke pertandingan menggugah tersebut, laga antara Bhutan dan Maladewa agaknya bisa kita gunakan untuk sedikit melihat bagaimana cara orang Bhutan memaknai kebahagiaan, walau untuk hal yang remeh sekalipun. Kebahagiaan, bagi orang Bhutan, jauh dari sekadar petantang-petenteng mengagung-agungkan privilese.

 

Lebih dari itu, kebahagiaan menurut mereka adalah bagaimana bereaksi terhadap masalah dengan itikad tulus untuk mengubahnya menjadi kebaikan bersama.

 

Read More

Senin, 06 Juli 2020

Malam Terakhir


 

Pernah merasakan dahsyatnya ekspektasi? Seperti yang sudah usang dan berulang, kenyataan lagi-lagi tiada seindah angan.

 

Bayangkan diri Anda adalah seorang yang permisif, pencari peluang, dan terimpit usia-usia yang kian menua. Malam ini kecewa itu hadir kembali. Perempuan yang dalam dua pekan terakhir mengisi kolom obrolan ternyata tak memendam perasaan yang sama. kecewa, marah, sedih, dan perasaan bersalah menggulung jadi satu.

 

Malam ini untuk kesekian kalinya pula saya salah paham. Salah mengartikan gayung bersambut. Semuanya fana, seperti ia selalu jadi bagian kehidupan. Dan celakanya saya lupa akan hal itu. Saya meminta kepastian, sebagaimana Ardhito Pramono tumpahkan dalam lirik What Do You Feel About Me-nya.

 

Tuntutan untuk tak lagi menjalani tarik ulur membesar. Saya mendesaknya dengan kata-kata. Seperti saya mendesak pejabat publik kotor dengan pertanyaan saban hari.

 

Tak semestinya saya menggunakan cara tak halus seperti itu. Terlebih sang puan bukanlah pejabat publik atau politisi dari kubangan lumpur. Seharusnya saya memperlakukannya tetap anggun.

 

Bagaimanapun ia perempuan biasa yang dengan tangan terbuka menerima ajakan obrolan saya. Mungkin tak terlintas sedikit pun di benaknya untuk mempermainkan. Di titik kontemplasi itu saya tersadar, ekspektasi kembali menerkam.

 

Malam ini jadi malam terakhir, benar-benar terakhir. Harapan tinggi jatuh, menguap tak berbentuk. Nyata bukan pertanda, hanya pikiran ku saja, harapan itu semu. Sulit untuk aku percaya sampai akhirnya aku lihat sendiri. Kunto Aji- Ekspektasi

Read More

Follow This Blog